Penerapan Teknologi Masih di Bawah Harapan


Catatan akhir tahun Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT menunjukkan bahwa penerapan teknologi di Indonesia masih jauh di bawah harapan, meskipun hingga tahun 2009 terlihat ada peningkatan.

Terhitung hingga 2009, penerapan teknologi di Indonesia memang meningkat. Namun, penerapan belum merata atau menjangkau semua sektor yang ada.

Diakui Kepala BPPT Dr Ir Marzan A Iskandar, jika dibandingkan dengan negara-negara lain, apalagi negara-negara maju di belahan Amerika dan Eropa, tingkat penerapan teknologi di Indonesia memang masih rendah.

Peningkatan yang terjadi juga tidak merata menyentuh teknologi di semua sektor. Peningkatan yang signifikan hanya terlihat pada penerapan teknologi di sektor transportasi dan komunikasi. Sementara itu, di sektor lain, tak terlihat peningkatan yang berarti.

“Peningkatan penerapan teknologi yang paling signifikan itu terjadi pada sektor tra nsportasi dan komunikasi, yang naik sampai 15 persen. Sementara itu, di sektor lain, seperti sektor industri, justru tidak ada pertumbuhan. Stagnan,” ujarnya saat ditemui dalam konferensi pers di BPPT, Selasa (28/12/2009).

Rendahnya penerapan teknologi ini berdampak pada minimnya kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi. Menurut Marzan Iskandar, rendahnya penerapan teknologi di Indonesia disebabkan Indonesia lebih banyak menggunakan teknologi impor daripada teknologi-teknologi ciptaan dan inovasi bangsa sendiri.

“Rendahnya penerapan teknologi di Indonesia akibat kita masih lebih suka menggunakan produk-produk teknologi impor daripada buatan sendiri. Dari data yang kami miliki saja tercatat bahwa sumber teknologi utama negara ini yang terbesar adalah dari luar negeri, sebesar 92 persen, sedangkan dari dalam negeri sendiri hanya 8 persen,” ungkap Marzan.

Dia juga menambahkan, saat ini negara yang menjadi sumber teknologi terbesar bagi Indonesia adalah Jepang (37 persen). Hal itu disusul negara-negara Eropa (27 persen) dan negara-negara di Amerika (24 persen). Selain akibat dominasi produk teknologi impor, rendahnya penerapan teknologi di Indonesia juga disebabkan tidak meratanya kemudahan akses teknologi ke semua wilayah Indonesia.

Hal ini terlihat dari survei BPPT yang menunjukkan adanya ketimpangan akses teknologi antara daerah pusat atau perkotaan dan daerah-daerah pelosok. Misalnya, pada periode 2000 sampai 2007, akses penerapan teknologi di DKI Jakarta mencapai 3,20 persen atau jauh di atas rata-rata nasional sebesar 1,69 persen. Adapun akses penerapan di Papua hanya mencapai -5,04 persen, sangat jauh di bawah rata-rata nasional.

Kompas, 29 Desember 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s