Seluk-beluk Gigi Berlubang Yang Kuning Belum Tentu Tidak Sehat


Gigi yang sehat tidak datang begitu saja. Perlu perawatan yang teratur, cara menyikat yang baik, dan tentu saja kontrol teratur ke dokter gigi. Nah, bila Anda termasuk yang sering “memelihara” lubang di gigi, simak bahayanya gigi berlubang.

Gigi putih berseri bak mutiara ternyata bukan pertanda gigi yang sehat. “Gigi yang sehat adalah gigi yang bebas lubang,” kata Drg. Bernard Iskandar. Karena itulah, lanjutnya, gigi yang kuning pun dikategorikan gigi yang sehat sejauh tidak ada lubangnya.

Bagaimana, sebetulnya proses awal timbulnya lubang? Menurut Bernard yang juga pakar estetika gigi, ada 3 hal yang sering dituding sebagai awal penyebab lubang gigi. Pertama, sisa makanan yang dibiarkan lama menempel di gigi akan mengakibatkan timbulnya lubang pada gigi,” papar direktur Success Dental Clinic Jakarta ini.

Kedua adalah lingkungan. Mungkin saja kita menggosok gigi setiap habis makan, tetapi karena tumpukan makanan itu menempel di tempat yang sulit terjangkau sikat, ya, kotoran giginya tetap saja tidak bisa lepas. Gigi yang tumbuh berdesakan termasuk dalam kategori lingkungan yang sulit. Karena sisa makanan yang nyangkut di dalamnya, akan sulit dikeluarkan hanya dengan sikat gigi.

Dari segi estetika pun, gigi yang berdesakan membuat penampilan orang yang bersangkutan tidak bagus. Di samping itu, “Juga mengganggu efisiensi daya kunyah sehingga kesehatan tubuh secara keseluruhan terganggu pula,” urai dosen FKG Universitas Trisakti Jakarta ini. Karena itulah, meski kita tidak merasa gigi berdesakan menimbulkan masalah, Bernard menyarankan agar susunan giginya segera diperbaiki. Karena patut diingat, tambahnya, gigi yang senantiasa bersih mencegah timbulnya ragam penyakit di seputar mulut. Misalnya, radang gusi, gigi berlubang, atau gigi keropos.

Waktu adalah faktor pencetus lubang yang ketiga. Kendati cukup berpengaruh dalam proses terbentuknya lubang, namun tidak ada patokan berapa lama lubang aka terbentuk sejak sisa makanan menyelip di antara gigi. “Sebab, kendati kita menyikat gigi sehabis makan, tetap saja timbul plak (lapisan tipis yang menempel erat pada permukaan gigi, yang berasal dari endapan air ludah yang menempel di antara gusi dan gigi ). Yang begini mungkin tidak terlalu membahayakan gigi, asal kita selalu menyikat gigi secara teratur.”

Tabloid Nova, 29 Desember 2009

Sebalinya, kalau sehabis makan tidak sikat gigi atau berkumur pun tidak, sisa makanan yang merupakan sumber karbonhidrat, protein, lemak, dan sebagainya, akan tercampur dengan plak tadi dan menjadi “makanan” utama bagi kuman yang ada di rongga mulut. Nah, faktor waktu di sini menjadi lebih berperan, kalau gigi sulit di bersihkan. Misalnya, akibat lingkungan yang sulit tadi. Plak akan menebal dan berubah warnanya dari putih menjadi kuning atau cokelat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s