Hambat Ingatan Takut Tanpa Obat


ILMUWAN dari New York University telah mengembangkan cara baru bebas obat dan noninvasif untuk menghambat kembalinya memori menakutkan pada orang-orang. Teknik baru ini, menurut peneliti, pada akhirnya bisa mengubah cara pandang para ilmuwan dalam melihat proses kerja penyimpanan memori dan diharapkan melahirkan terapi baru untuk mengatasi gangguan kecemasan, termasuk gangguan stres setelah trauma (posttraumatic stress disorder).

Menurut peneliti Daniela Schiller, PhD, dan teman-temannya, mereka bisa membentuk ulang memori. Caranya, dengan menghidupkan kembali memori-memori yang tidak menyenangkan dan menciptakan jendela kesempatan untuk membentuk kembali ketakutan tersebut (dikenal dengan rekonsolidasi).

“Rekonsolidasi merupakan proses alami yang selalu terjadi sepanjang waktu,” tutur peneliti Elizabeth Phelps, PhD, seperti dikutip situs webmd.”Studi kami menunjukkan bahwa menghadirkan memori sudah cukup untuk memicu proses rekonsolidasi (seperti penyeimbangan memori). Kiatnya adalah mengetahui bagaimana proses ini terjadi dan menggunakannya untuk memperbaharui bahwa memori-memori sebelumnya aman.”

Hambat memori takut

Peneliti ‘melatih’ para partisipan agar merasa takut dengan sebuah stimulus visual. Dalam kasus ini, peneliti menggunakan kotak persegi berwarna, dengan cara memasangkan gambar dengan kejutan listrik ringan. Kemudian peneliti mengukur cairan di kulit partisipan, sebagai indikasi rasa takut.

Setelah memori ketakutan terbentuk, 65 dari partisipan di papar kembali dengan gambar yang menghasilkan kejutan listrik. Hal ini diikuti dengan ‘latihan pemusnahan’, di mana mereka dipapar dengan persegi berwarna tetapi tidak diberi aliran listrik.

“Istilah pemusnahan umumnya digunakan untuk menggambarkan pelajaran baru bahwa hal yang ditakutkan sebelumnya ternyata aman.”

Respon ketakutan hanya hilang pada mereka yang menjalani latihan pemusnahan. Partisipan yang menerima latihan pemusnahan setelah 6 jam rekonsolidasi tetap takut dengan kotak persegi, begitu juga dengan mereka yang berada pada kelompok pengontrol.

Durasi

Dalam percobaan follow-up setahun kemudian, 19 partisipan menerima 4 kejutan listrik diikuti dengan persegi berwarna. Hal ini ditujukan untuk mengembalikan ketakutan.

Mereka yang sebelumnya telah menjalani latihan pemusnahan dalam waktu 6 jam rekonsolidasi tidak mengalami ketakutan. Sedang mereka yang menjalani latihan pemusnahan setelah 6 jam atau mereka yang tidak mengalami pengaktifan kembali memori rasa takut sebelum latihan pemusnahan tetap menunjukkan respon ketakutan yang sama.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa dalam memori kehidupan ada jendela kesempatan di mana memori itu rentan untuk diubah secara permanen.” Dengan memahami dinamika memori, terang peneliti, dalam jangka panjang diharapkan akan ada terapi untuk mengatasi gangguan yang melibatkan ingatan emosi yang abnormal.

Media Indonesia, 17 Desember 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s