Ketika Kematian Begitu Dekat


SETIAPorang mungkin pernah mengalami suatu kejadian ketika kematian terasa begitu dekat. Napas terasa mau putus.Kematian tampak di depan mata.

Bahkan, kematian itu sepertinya telah mengulurkan tangannya dan siap mencabut nyawa. Dalam kejadian yang sama, orang bisa berbeda penafsiran atasnya. Ada yang merasa kejadian itu begitu mendekatkan dirinya kepada kematian. Ada yang merasa kejadian itu biasa-biasa saja. Saya pernah mengalami beberapa kejadian yang sangat dekat dengan kematian.Waktu kecil, saat saya berusia sekitar tiga tahun, menurut cerita ibu saya, saya pernah kecemplung ke dalam kolam bekas pembuatan bata merah.Kolam itu penuh air dan dalam.

Saya tenggelam di kolam itu beberapa saat. Sampai ditemukan oleh ibu. Lantas ibu menjerit minta tolong.Tetangga kemudian menolong. Saya dalam kondisi sudah tidak sadar diri dengan perut penuh air. Menurut ibu saya, kematian sudah mendekati saya saat itu.Tetapi, Allah Mahapenyayang, Dia menolong lewat tangan salah seorang hamba-Nya, dan saya selamat. Jika terlambat beberapa menit saja, atau beberapa detik saja, maka sejarah hidup saya hanya sampai pada usia tiga tahun,kira-kira.Dan saya hanya akan jadi kenangan keluarga saya bahwa pernah ada anak kecil bernama Habiburrahman di tengah-tengah mereka, itu saja.

Kejadian kedua, yang ini saya ingat betul.Saya sudah kelas enam SD. Saat itu di rumah saya sedang punya gawe. Di dapur banyak ibu yang sibuk memasak. Saya asyik melihat mereka memasak. Saya ada di dekat tiang.Tiba-tiba dapur itu ambruk. Ibu-ibu selamat, mereka hanya luka kecil terkena genteng.Sementara saya tertimpa kayu blandar besar sampai pingsan. Ada yang mengira saya sudah mati. Tetapi, Allah menyelamatkan. Saya masih diberi umur panjang untuk bisa menghirup napas kehidupan. Ibu saya setiap kali mengingat kejadian itu selalu bilang kepada saya, ”Le, nyawamu itu tambahan. Sudah dua kali disambung oleh Allah.

Pertama ketika tenggelam di kolam.Kedua ketika tertimpa kayu pasak dapur yang besar.” Kemudian,kejadian ketiga,yang juga saya ingat betul. Bahkan ini bagian yang mengubah perjalanan hidup saya.Yaitu, ketika saya kecelakaan di jalan raya Magelang-Yogyakarta tahun 2003. Saat itu saya mengendarai sepeda motor dari Semarang ke Yogyakarta.Sampai di Jalan Raya Magelang-Yogyakarta, tepatnya di Mlati-Sleman, saya kecelakaan. Kejadiannya berlangsung begitu cepat.Tahu-tahu saya sudah ada di ruang gawat darurat sebuah rumah sakit di tengah Kota Yogyakarta.

Dan seketika itu juga saya harus dioperasi karena kaki kanan saya patah. Bagi sementara orang, kecelakaan seperti itu biasa saja.Tetapi bagi saya, alangkah tipisnya batas antara hidup dan mati saat itu. Saya merasa kematian sudah begitu dekat menghampiri. Betapa banyak orang yang meninggal karena kecelakaan di jalan raya. Ketika saya sudah benar-benar sadar setelah operasi,saya sampai menangis betapa Allah masih menyambung nyawa saya.Yang menghidupkan dan mematikan adalah Allah SWT. Kejadian keempat,saya rasakan begitu mencekam.Kematian seolaholah menyelimutkan jubah-Nya ke seluruh tubuh saya.

Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bahkan, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Jantung seolah mau berhenti berdetak. Yang bisa saya lakukan hanya pasrah sepenuhnya kepada Allah SWT. Itu saya alami di atas pesawat terbang beberapa tahun yang lalu. Saat itu saya naik pesawat Adam Air dari Jakarta ke Semarang. Pesawat berangkat setelah magrib. Jakarta gerimis. Pesawat tetap berangkat. Begitu mengangkasa pesawat mengalami guncangan- guncangan. Mula-mula guncangan kecil. Pesawat tetap maju. Saya duduk di dekat jendela.

Di luar jendela yang ada hanya hitam. Sesekali kilat menyambar. Guncangan terus meneror.Terkadang terasa besar dan menjadi-jadi.Suatu ketika pesawat seperti dihempaskan ke bawah. Dan setebal-tebalnya iman,hati seperti mau lepas dari dada. Hanya Allah yang terus disebut.Takbir terdengar dari mulut para penumpang.Penumpang di samping saya sampai menangis dan bertakbir dengan air mata meleleh. Menjelang turun di Bandara Semarang, saya merasakan kematian begitu dekat. Pesawat berputar- putar di atas Kota Semarang dengan diombang-ambing oleh hujan dan badai.

Saya merasakan pesawat itu seperti pesawat mainan yang dipegang anak kecil. Diombang- ambing.Kadang dihempas ke bawah. Dibuang ke kanan, atau ke kiri.Jika tangan anak kecil itu ingin membuangnya,maka terlemparlah pesawat mainannya itu entah di mana. Saat itu saya benar-benar pasrah. Tidak ada yang kuasa menyelamatkan kecuali Allah SWT. Saya tetap berikhtiar dengan bertasbih dan berzikir,memohon keselamatan. Dan agar saya bisa bertemu kembali dengan anak dan istri.Tetapi, jika memang takdir menentukan harus dijemput ajal, maka saya memohon kepada Allah agar termasuk hamba-hamba-Nya yang husnul khatimah.

Akhirnya pesawat itu nekat, tetap mendarat di Bandara Semarang. Dan alhamdulillah kami selamat. Penumpang di samping saya memberitahukan bahwa semua penerbangan yang ke Semarang sebenarnya telah membatalkan jadwal penerbangan ke Semarang karena cuaca buruk.Bahkan,dia punya teman yang juga hendak terbang ke Semarang memakai maskapai lain terpaksa tidak berangkat karena dibatalkan, dan akan terbang esok harinya dari Jakarta. Hanya Adam Air yang berani terbang. Saya tidak tahu informasi itu.

Kalau tahu saya lebih memilih menunda penerbangan dan istirahat dengan tenang di Jakarta. Seingat saya kejadian itu saya alami beberapa bulan sebelum Adam Air hilang di Sulawesi. Kembali saya bersyukur kepada Allah yang telah menyelamatkan nyawa saya.Dan saya bisa bertemu dengan keluarga di rumah dengan penuh rasa cinta dan keharuan. Peristiwa yang sangat mirip dengan kejadian terakhir. Saya alami tadi malam.Kembali saya dicekam kecemasan, dan merasakan hanya Allah tempat bergantung. Saya naik pesawat dari Jakarta ke Semarang setelah azan Isya berkumandang.

Jakarta cerah, tidak ada gerimis tidak ada hujan. Pesawat mengangkasa dengan mulus dan tenang. Sampai di atas pesawat mengalami guncangan kecil. Itu hal yang biasa. Sampai setengah perjalanan, pesawat berguncang-guncang. Di luar yang tampak hanya hitam, dan sinar kilat yang menyambar. Saya mulai cemas. Pesawat terus didera guncangan.Ketika mau mendarat di Semarang, pesawat seperti diombang- ambing badai. Saya teringat anak dan istri. Lalu terus menyebut nama Allah. Saya melihat daratan dengan kerlap-kerlip lampu dan kilatan air laut.Pesawat sedikit menukik siap landing.Ada guncangan besar.

Dan, tiba-tiba pesawat menukik agak tajam untuk mengangkasa. Terus ke atas disertai guncangan tiada henti. Setelah agak tenang, sang kapten memberi tahu bahwa pesawat baru saja gagal mendarat karena derasnya hujan di Kota Semarang, dan jarak pandang yang tidak memungkinkan. Sang kapten mengumumkan akan mencoba sekali lagi. Semua penumpang tampak cemas. Pesawat kembali berputar-putar di atas Kota Semarang. Dan mencoba kembali mendarat. Dan gagal lagi. Bahkan, kapten mengumumkan pihak bandara tidak mengizinkan mendarat karena sangat berisiko.Akhirkan diputuskan untuk mendarat di Surabaya.

Begitu pesawat mendarat di Surabaya, hati agak lega. Dalam hati, saya malah ingin turun, dan mencari penginapan untuk istirahat. Baru besoknya meluncur ke Semarang memakai kereta. Ternyata kami diminta tenang duduk sambil menunggu keadaan cuaca di Semarang. Saya agak deg-degan ketika diumumkan pesawat akan kembali diterbangkan ke Semarang karena hujan sudah reda, dan cuaca memungkinkan untuk mendarat.Pesawat kembali terbang. Dan di dalam hati tidak yang lain kecuali zikir kepada Allah dan bersalawat kepada Rasulullah Saw.

Saya agak tenang ketika merasakan bahwa pesawat tidak banyak mengalami guncangan.Akhirnya dengan kecanggihan kapten pilot.Pesawat bisa mendarat di Bandara Ahmad Yani Semarang di tengah rintik hujan dengan selamat. Dan saya menginjakkan kaki ke bumi dengan hati sangat lega dan luapan rasa syukur kepada Allah tiada terkira. Rabbana lakal hambu kamaa yanbaghi li jalaali wajhika wa `adziimi sulthanika.Ya Allah berilah keselamatan kepada penduduk negeri ini.Amin.

Harian Seputar Indonesia, 06 Januari 2010

Iklan

Satu pemikiran pada “Ketika Kematian Begitu Dekat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s