Menunggu Datangnya Efek Januari


Tahun baru selalu membawa harapan baru,tak terkecuali bagi investor di pasar modal. Di kalangan pelaku pasar modal, harapan baru yang timbul sering kali dikaitkan dengan sebuah fenomena yang dikenal dengan istilah efek Januari (January Effect).

Januari Effect adalah sebuah anomali pasar yang senantiasa mendatangkan keuntungan besar kepada pemodal. Januari dengan January Effect-nya –dan juga Desember dengan window dressingnya –sering kali melahirkan ‘hasil ajaib’ bagi investor. Artinya, hasil keuntungan yang diraih investor bisa dibilang luar biasa dibanding instrumen investasi lain yang konvensional. Kepercayaan terhadap ‘hasil ajaib’ itulah yang sering kali memotivasi minat investor untuk berbelanja saham di awal Januari.Jika kita menoleh beberapa tahun ke belakang,tampak Januari menjadi periode yang cukup istimewa karena pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) senantiasa cukup tinggi,di atas 5%.Pada 2006, 2007 dan 2008, pelaku pasar merasakan indahnya January Effect.

Sedangkan pada 2009, investor tidak bisa menikmati January Effect lantaran kondisi pasar masih terbawa suasana ‘berkabung’ yang melanda sebagian besar bursa-bursa dunia akibat krisis keuangan global. IHSG pada Januari 2009 tumbuh minus. Kembali ke Januari 2010 ini, wajar jika investor menaruh harapan besar. Memang harapan itu diwarnai oleh sedikit perasaan waswas akibat perkembangan suhu politik yang semakin hangat.Pembahasan kasus baillout Bank Century oleh Pansus DPR belum tampak ke mana ujungnya dan kapan segera berakhir. Meski begitu, pelaku pasar berharap hangatnya suhu politik tidak mengganggu prosesi JanuaryEffect di pasar modal.

Sebelum suhu politik akibat munculnya kasus Bank Century semakin hangat, banyak prediksi yang secara optimistis menyebut bahwa IHSG bakal mencapai titik recovery di kisaran 2.800. Prediksi ini dilandasi oleh pencapaian selama 2009 dan kondisi ekonomi makro yang bakal dihadapi pada 2010. Dengan asumsi bahwa kondisi perekonomian makro 2010 lebih baik dibandingkan 2009, cukup logis jika muncul ramalan bahwa IHSG akan menembus titik 2.800, bahkan memecahkan rekor baru di atas rekor yang pernah dicapai di awal 2008,yakni 2.830.

Asumsi Dasar

Bagi kalangan akademisi, fenomena January Effect menjadi bahan kajian yang selalu menarik.Seolah ada misteri yang tersimpan di dalamnya. Cukup banyak variasi logika yang dirancang, namun semuanya belum bisa mengungkap secara jelas apa sebenarnya yang melatarbelakangi tabir JanuaryEffect. Salah satu acuan teori yang sering kali dipakai untuk menjelaskan fenomena ini adalah teori pasar efisien (theory market efficient).

Pada dasarnya, teori ini menyebutkan bahwa perubahan harga saham di pasar mengikuti atau menyesuaikan terhadap perubahan nilai yang terjadi pada underlying asset-nya.Artinya,harga saham di pasar akan senantiasa menyesuaikan terhadap setiap terjadinya perubahan nilai pada perusahaan, dengan catatan bahwa informasi tentang perubahan nilai perusahaan tersebar merata ke semua pelaku pasar.Teori ini mengasumsikan bahwa informasi perubahan nilai perusahaan tersebar secara simetris. Dengan asumsi seperti itu, jika harga saham tidak berubah padahal nilai underlying asset-nya mengalami perubahan berarti pasar saham tidaklah efisien.

Kondisi ini sering disebut juga dengan istilah efisien bentuk lemah (weakform efficiency).Kondisi ini lawan dari pasar efisien bentuk kuat (strongform efficiency) atau perfect market efficient. Asumsi lain dari penjelasan ini mengatakan bahwa investor selalu memanfaatkan informasi untuk mendapatkan keuntungan sebesarbesarnya di pasar. Investor tidak akan diam dan menyia-siakan peluang yang ada di depan mata. Setiap informasi positif yang terjadi di perusahaan adalah informasi berharga yang harus dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan besar dengan membeli saham di pasar.

Dalam perkembangannya, asumsi ini tidak hanya terbatas tentang informasi yang terjadi di perusahaan. Informasi apa pun yang mampu menghasilkan keuntungan besar selalu dimanfaatkan investor. Nah, terjadinya anomali harga saham di pasar yang berulang- ulang di Januari merupakan informasi yang selalu melekat di benak investor sehingga setiap awal bulan itu investor melakukan pembelian besar-besaran. Logika lain yang dibangun untuk menjelaskan fenomena January Effect adalah prilaku para manajer investasi yang berupaya menghindari pembayaran pajak terlalu besar.

Logika ini mengatakan fund managermenjual portofolionya pada Desember untuk menghindari pembayaran pajak terlalu tinggi dan melakukan aksi buy back pada Januari. Karena kecenderungan yang sama di kalangan pengelola dana, maka setiap Januari pasar selalu semarak. Penjelasan lain menyebutkan bahwa January Effect merupakan efek dari kebiasaan prilaku fund manager. Di ujung Desember, fund manager melakukan evaluasi dan menyusun ulang portofolionya untuk menghasilkan imbalan hasil optimal pada tahun berikutnya. Mereka sudah membuat daftar saham mana yang harus dibuang dari portofolio dan saham mana yang bakal masuk dalam portofolio baru.

Nah, saham-saham yang dibuang dari daftar portofolio dilepas pada Desember,sementara eksekusi atau pembelian terhadap saham-saham baru yang akan masuk daftar portofolio dilakukan pada awal Januari.Akibatnya,harga saham meningkat pada awal Januari. Lain pula logika yang disampaikan untuk menjelaskan fenomena January Effectkhusus di Bursa Efek Indonesia (BEI).Banyak penelitian menyimpulkan bahwa BEI merupakan pasar saham yang tidak efisien atau efisien bentuk lemah. Artinya, perubahan atau peningkatan fundamental yang terjadi di perusahaan tidak serta-merta memengaruhi harga saham di pasar.

Jadi,teori market efficienttidak pas untuk menjelaskan fenomena January Effect di BEI.Beberapa penelitian menyebutkan adanya January Effect di BEI lebih disebabkan oleh psikologi pasar akibat adanya informasi tentang anomali harga saham yang terjadi berulang- ulang di setiap Januari. Investor memanfaatkan informasi ini untuk membeli saham di awal Januari. Apa pun logika yang dibangun untuk menjelaskan fenomena pasar ini sebenarnya sah-sah saja.

Hal yang penting bagi pelaku pasar, fenomena ini memiliki probabilitas yang tinggi untuk terjadi. Karena itu jangan lewatkan peluang begitu saja!

Harian Seputar Indonesia, 03 Januari 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s