Seperempat Anak Laki-laki Berpotensi Gagap


HAMPIR 25 persen anak laki-laki dan 1 dari 7 anak perempuan berjuang untuk belajar bicara karena ribuan rumah tangga membiarkan televisi mereka menyala. Hal ini membuat anak-anak kesulitan memahami percakapan orang-orang dewasa di sekitar mereka.

Sebuah survei mengungkap bahwa 22 persen anak laki-laki dan 13 persen anak perempuan mengalami gangguan bicara dan memhami pembicaraan orang lain. Menurut hasil pemungutan suara yang dipublikasikan oleh Jean Gross, penasehat komunikasi pemerintah Inggris, ini 3 persen anak menderita gangguan yang signifikan.

Survei ini juga menemukan bahwa anak-anak dari kelas menengah berisiko mengalami gangguan bicara yang setara dengan anak dari keluarga yang kurang makmur.

Menurut survei, lebih dari 24 persen keluarga membiarkan televisi mereka hidup sepanjang waktu. Satu dari 10 anak berusia 1 atau 2 mempunyai televisi di ruangan mereka, sedang sepertiga dari anak berusia 5-7 mempunyai televisi sendiri.

Gross menyatakan bahwa meskipun anak tidak menonton televisi, keributan televisi akan membuat mereka kesulitan memahami pembicaraan orangtua atau saudara-saudara mereka. Gangguan berbicara yang dialami beberapa anak, lanjut Gross, berkaitan dengan kurangnya bahasa yang didengar anak di awal-awal kehidupannya.

“Otak kita tidak didisain untuk belajar dari mesin. Bayi lebih merespon wajah, dan mengenali wajah orangtua mereka,” tutur Gross, seperti dikutip situs dailymail.

Kemampuan berkomunikasi, menurut Groos, merupakan hal yang sangat fundamental dan mendukung semua hal lainnya.”Belajar bicara merupakan salah satu skill terpenting di abad 21.”

Menurut Gross, proporsi anak-anak yang mengalami kesulitan belajar bicara dan memahami pembicaran tinggi, khususnya di antara anak laki-laki.”Sangat penting agar semua anak mendapatkan bantuan yang diperlukan dari ahli yang berpengalaman sedini mungkin.”

Orangtua, lanjut Gross, harus menempatkan belajar bicara dan mendengarkan sebagai prioritas utama untuk anak-anak mereka.

Pendekatan

Hasil studinya menunjukkan bahwa hampir semua orangtua membaca dengan anak mereka, menceritakan kisah, memainkan permainan kata dan menyanyikan lagu pengantar tidur dengan mereka. Selain itu, orangtua juga cenderung mengetahui pendekatan terbaik untuk membenarkan ucapan anak yang salah.

Groos juga menganjurkan agar orangtua membantu anak menguasai bahasa ibu dan tidak hanya berbicara dalam bahasa Inggris. “Menurut pakar, anak-anak yang menguasai bahasa ibu akan mencapai performa terbaik di kehidupan selanjutnya.”

Media Indopnesia, 07 Desember 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s