Swasembada Energi


SWASEMBADA bukan sesuatu yang baru bagi bangsa ini.Pada masa lalu Indonesia pernah swasembada beras,hingga negeri ini mendapat penghormatan yang luar biasa dari masyarakat internasional.

Swasembada itu pula, ketahanan pangan di negeri ini juga tahan terhadap goncangan. Lantas, kini mungkinkan swasembada itu juga bisa diberlakukan di sektor non pangan,misalnya energi? Pertanyaan menggelitik ini,tentu bukanlah mengada-ada, atau mengawang-awang. Pemikiran semacam itu justru perlu digulirkan, di tengah ancaman krisis energi yang membayangi negeri ini. Pemerintah sendiri sesungguhnya, mulai menyadari, perlunya bangsa ini melakukan swasembada energi.

Hal ini terlihat dalam Keputusan Presiden No 5 tahun 2006 untuk melakukan proporsi energy mix yang antara lain untuk mengurangi ketergantungan pada minyak bumi, dengan mengganti bahan bakar non BBM. Apabila pada 2006 energy mix di Indonesia 52% bertumpu pada minyak bumi,Gas alam 29%,batubara 15%,Hydro 3% dan Geothermal 1%. Kondisi tersebut harus dirubah di masa mendatang, hingga pada 2025 penggunaan minyak bumi harus turun menjadi 20%. Sementara energi lainnya harus meningkat penggunaannya. Untuk Gas alam naik menjadi 30%, Batubara 33%,air 5%,Geothermal 5%, Biofuels 5% dan lainnya 2%.

Menggeser Penggunaan Energi

Saya melihat energy mix merupakan langkah maju. Mengapa demikian? Karena Indonesia memiliki potensi untuk mengurangi ketergantungan impor minyak bumi,dari material yang ada di Indonesia, yang tidak perlu mengimpor dari luar negeri.Energy mix ini bisa dijadikan landasan untuk melakukan swasembada energi. Swasembada di sini adalah bisa memenuhi kebutuhan energi secara mandiri.

Tidak bergantung pada minyak bumi dan seoptimal mungkin menggunakan energi yang terbarukan. Peluang semacam itu sangat besar dilakukan oleh Indonesia.. Bila konsumsi BBM pada 2009, dimana premium sebesar 20 juta Kilo Liter (KL), Solar 11-12 juta KL, minyak tanah 5 juta KL, gas kira-kira 2 juta metrik ton. Ke depan kondisi demikian harus digeser. Dimana premium harus digantikan dengan elipiji/gas, solar digeser dengan energi alternatif lainnya, dan gas/elpiji digeser ke gas yang bahan bakunya ada di dalam negeri .

Penggeseran ini harus dilakukan, karena kalau program konversi minyak tanah ke elpiji berakhir pada 2011, minyak tanah akan hilang 10 juta KL, yang tersisa 1 juta KL.Tapi diluar itu konsumsi elpiji akan naik dua kali lipat dari tahun ini sebesar 3 juta ton menjadi 6-7 juta ton. Sementara kemampuan produksi dalam negeri hanya 3-4 juta ton. Itu artinya Indonesia harus mengimpor elpiji sebesar 3-4 juta ton. Gambaran semacam itu tentu tak bisa dibiarkan, melainkan harus dicarikan solusinya. Dimana penggunaan elipiji itu haruslah dialihkan ke gas yang dibuat dari batubara muda dan medium yang biasa disebut DiMethyl Ether (DME).

Sebuah senyawa kimia yang karakternya mirip elpiji. Bedanya hanya pada kalorinya lebih rendah. Tetapi dengan teknologi bisa dilakukan efisiensi pada kompor sehingga satu kg elpiji itu setara dengan satu kg DME. Disinilah sesungguhnya ada peluang untuk mengurangi ketergantungan impor 4 juta ton elpiji , dimana Indonesia memiliki cadangan batubara yang melimpah, yang menurut perhitungan cukup 100 tahun lebih. Batubara muda dan medium itu bisa digunakan untuk membuat DME.Di Riau ada satu miliar ton batubara muda, di Sekayu ada 2-3 miliar ton batubara medium. Jumlah itu belum termasuk di Kalimantan.

Kedepan,bangsa ini juga harus berani menggeser bahan bakar mobil, dari premium menggunakan gas. Mobil yang menggunakan solar diganti dengan DME, dan rumah tangga yang menggunakan elpiji digeser menggunakan DME. Dengan begitu pelan tapi pasti, ketergantungan pada minyak bumi semakin menurun. Sementara penggunaan batubara untuk kendaraan bermotor perlu ditingkatkan, dengan merubah menjadi DME,dimana Pertamina kini sudah mulai memprakarsai produksinya.

Pengembangan Biofuels

Untuk menuju swasembada energi,bangsa ini harus berani belajar dari Brasil dalam pengembangan biofuels. Negeri Amerika Latin itu sangat berani dalam melakukan kebijakan energi. Brasil berani mendesain seluruh mobil menggunakan ethanol. Sementara Indonesia untuk 5% saja masih susah. Padahal ethanol itu bisa dibuat dari tebu, ubi dan bahan-bahan yang lain yang ada di Indonesia. Dari gambaran tersebut, sudah saatnya konsumsi premium yang 20 juta KL didorong menggunakan ethanol.

Kalau misalnya pemerintah berani memberikan mandatory dalam 5-10 tahun ke depan, premium itu harus bercampur dengan 20% ethanol, maka kalau penggunaan premium statis, akan mengurangi penggunaan premium 2 juta KL. Itu berarti bila ketergantungan impor premium sebesar 50%, dapat terkurangi menjadi sebesar 40%Kl. Bila ini menjadi komitmen, petani pun akan bergairah untuk menanam tebu, ubi dan tanaman lainnya untuk bahan baku ethanol .

Lantas bagaimana dengan Biosolar? Dewasa ini,konsumsi solar baik itu fuel oil,industrial oil atau automotive oil mencapai 30 juta KL. Untuk memenuhi kebutuhan solar tersebut impor mencapai 40- 50% setara 15 juta KL. Karena itu, Indonesia harus berani meniru negara-negara yang menggunakan biodiesel. Program biosolar itu sesungguhnya sudah ada, tetapi belum kencang. Kalau pemerintah memandatorikan bahwa biodiesel itu komposisinya harus 10% dari solar yang ada, maka 3 Juta KL adalah setara dengan 18 juta barel minyak. Bila digabung dengan 2 juta KL ethanol, maka setahun akan bisa menghemat impor 30 juta barel, atau sebulan 2,5 juta barel, atau setara dengan 3 juta crude (minyak mentah).

Itu berarti bisa meningkatkan kapasitas produksi crude oil sebesar 100.000 barel per hari. Kita sekarang mencari crude saja susah.Crude oil itu banyak digunakan untuk premium dan solar.Ini bisa terjadi lima tahun ke depan. 10% ethanol akan mengurangi impor minyak 2 juta KL. Kalau ditambah lagi menjadi 30% akan mengurangi impor minyak 6 juta KL.Untuk biodiesel untuk 10% akan mengurangi impor minyak bumi 3 juta KL, kalau 20% akan mengurangi 6 juta KL. Gambaran tersebut menjelaskan betapa besar potensi bio ini.

Melihat kalkulasi semacam itu, kiranya perlu didorong pengembangan bio ethanol maupun biosolar ini, agar ketergantungan terhadap impor minyak bumi semakin menurun, yang pada gilirannya pengeluaran negara untuk membeli minyak juga turun. Bila pemerintah konsisten mendorong pengembangan biofuels dan batubara menjadi DME, ke depan tingkat ketergantungan energi kurang dari 10%. Untuk mengurangi ketergantungan solar dengan biodiesel.

Untuk mengurangi ketergantungan elpiji dengan DME. Untuk mengurangi ketergantungan fuels dengan ethanol. Dengan begitu, ketahanan energi ke depan akan bisa tercipta, dan bangsa ini ke depan bisa berswasembada energi.

Harian Seputar Indonesia, 03 Januari 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s