Perdagangan Satwa Liar Di Indonesia Tinggi


Aktivitas perdagangan dan penyelundupan satwa liar yang dilindungi di Indonesia selama tahun 2009 masih terbilang tinggi, yakni meliputi 183 jenis satwa seperti primata, mamalia, raptor (burung pemangsa), penyu, lutung dan siamang. Direktur ProFauna Indonesia Rosek Nursahid di Malang, Jumat, mengatakan, survey terakhir tahun 2009 yang dilakukan ProFauna di 70 pasar burung ditemukan 183 jenis satwa dilindungi yang diperdagangkan.

“Dari 70 pasar burung (lokasi) yang disurvey di 58 kota, tercatat ada 14 pasar burung yang memperdagangkan burung nuri dan kakatua,” katanya.

Sementara 21 pasar memperdagangkan primata, 11 pasar memperdagangkan mamalia dan 13 pasar memperdagangkan raptor dan 11 pasar memperdagangkan jenis burung berkicau yang dilindungi.

Menurut Rosek, provinsi yang paling banyak memperdagangkan satwa dilindungi adalah Jawa Timur. Sedangkan kota lainnya adalah Pasar Burung Depok di Solo, Ambarawa, Semarang dan Jakarta. Perdagangan satwa liar yang dilindungi itu dilakukan secara ilegal (sembunyi-sembunyi). Ia mengakui, perdagangan satwa langka tidak hanya terjadi di Pulau Jawa saja, namun juga di Sumatera dan Bali.

Kota di Sumatera yang patut mendapat perhatian serius dari pemerintah adalah Palembang, terutama Pasar 16 Ilir yang memperdagangkan berbagai jenis satwa langka seperti elang, siamang, lutung, kukang, dan trenggiling. Sementara di Bali, kasus perdagangan satwa ilegal yang menonjol adalah perdagangan penyu. Meski ada penurunan jika dibandingkan sebelum tahun 2000, penyelundupan penyu di Bali masih tetap terjadi.

Salah satu kasus penyelundupan penyu yang terungkap adalah kasus tertangkapnya nelayan yang hendak menyelundupkan tujuh ekor penyu pada 30 Mei 2009. Di Pulau Dewata itu juga masih ada sekitar enam lokasi yang memelihara penyu secara ilegal yang terpusat di Tanjung Benoa. Pada tahun 2009, lanjutnya, Bali juga memunculkan isu yang kontroversial, yaitu pengajuan Gubernur Bali mengenai kuota seribu ekor penyu untuk keperluan adat dan upacara agama. Pengajuan kuota pemanfaatan penyu tersebut sangat ironis di tengah pencitraan Bali sebagai daerah wisata yang ramah lingkungan.

Selama kurun waktu tahun 2009, ProFauna juga mengamati ada beberapa tempat yang rawan sebagai jalur penyelundupan satwa langka ke luar negeri, di antaranya adalah Bandara Soekarno Hatta, Bandara Ngurah Rai dan Kepulauan Talaud di Sulawesi. Pada 8 Maret 2009 tertangkap tangan dua orang warga negara Arab yang hendak menyelundupkan puluhan ekor satwa lewat Bandara Soekarno Hatta, pada 2 oktober 2009 juga digagalkan upaya penyelundupan 16 ekor elang dan satwa lainnya ke Jepang lewat Bandara Ngurah Rai.

“Pulau Talaud patut mendapat perhatian serius karena masih menjadi jalur utama penyelundupan satwa ke Philipina lewat jalur laut. Pada awal Januari 2009 telah digagalkan upaya penyelundupan 234 satwa lewat Talaud,” tegasnya.

Koran Internet, 08 Januari 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s