Mata yang Malas


Roy menghela nafas panjang dan membiarkan matanya terpejam. Ia ingin tidur. Tidur yang nyenyak dan melupakan semua persoalan selama beberapa jam. Hanya beberapa jam saja. Selanjutnya, ketika matahari terbit seiring riuh-rendah suara anak-anaknya, Roy akan terbangun, menjalani hidupnya seperti biasa dan terus terombang-ambing dalam badai kegamangan yang disebarkan wabah mata yang malas. Akan berakhir seperti apakah wabah ini? Akan berakhir seperti apakah hidupnya? Perkawinannya yang sudah 20 tahun terasa menjadi lain mungkin karena matanya melihat dalam pengaruh wabah mata yang malas. Atau mungkin karena begitulah semua perkawinan. Mungkin sebenarnya yang namanya cinta memang tak bisa dilembagakan dan diletakkan dalam kerangka hubungan kelembagaan itu. Krisis keluarga yang dilaporkan Tania dalam rapat luar biasa ke 5, adalah keadaan ekstrim yang dipicu oleh serangan wabah mata yang malas.
“Apakah aku telah semakin kacau?”
Roy tersenyum kecut.
“Lantas kenapa rupanya kalau aku kacau? Tidakkah aku sebenarnya terlalu gede rasa? Apa sih sebenarnya makna hidupku? Mengapa aku harus mempertahankan nilai-nilai yang sebenarnya serba relatif itu? Yang sebenarnya aku sendiri meragukannya?”

Roy kembali memejamkan matanya. Kali ini ia benar-benar ingin tidur karena jawaban untuk pertanyaan-pertanyaannya itu mungkin hanya akan ditemukannya dalam tidur.

Kompas, 12 Januari 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s