Sastra Pesantren Masih Terpinggirkan


Dalam praktik pengajaran, pondok pesantren kaya dengan produk-produk sastra. Namun, sastra pesantren ini cenderung masih terpinggirkan dan bahkan belum dikenal oleh khalayak luas. Ke depannya, sastra pesantren harus memiliki fungsi sosial, komunikatif, dan memegang komitmen kemanusiaan.

Menurut Ketua Yayasan Pondok Pesantren Lembaga Kajian Islam dan Sosial Kali Opak Jadul Maula, para santri sebenarnya telah berkecimpung dengan sastra seperti syair maupun rangkaian untaian doa dalam kehidupan sehari-hari. “Secara tidak sadar, jiwa sastra telah terbentuk, tetapi aliran sastra pesantren ini cenderung belum menemukan bentuknya,” kata Jadul, Senin (11/1/2010).

Tokoh-tokoh sastawan seperti Zawawi Imron maupun Ahmad Tohari juga berasal dari lingkungan pesantren, tetapi belum dikategorikan sebagai sastra pesantren. Untuk mendongkrak minat generasi muda pesantren untuk berkarya di bidang sastra, pondok pesantren pun telah giat menggelar beragam pendidikan sastra, pembuatan film pendek, hingga mengapresiasi film.

Untuk mengisi libur sekolah, sekitar 100 anak dengan rentang usia 15-25 tahun mengikuti pelatihan kepenulisan sastra fiksi di Pondok Pesantren Kali Opak yang diselenggarakan oleh Komunitas Matapena. Kegiatan yang telah selesai pada Minggu (10/1/2010) malam ini diikuti oleh siswa dari lebih 30 pondok pesantren.

Pjs Ketua Komunitas Matapena Yogyakarta Akhiriyati Sundari mengungkapkan pelatihan tersebut mampu mendongkrak kreativitas menulis generasi muda. “Selain memperoleh bekal teknik penulisan, siswa juga diajak menggali ide dengan mengunjungi Candi Boko hingga bantaran Sungai Opak. Kami berharap bisa lahir penulis muda dari pondok pesantren,” tambah Sundari.

Sastra pesantren, menurut Jadul, harus ke luar dari ekspresi keagamaan yang menyempit. “Produk-produk sastra pesantren jangan sampai terjebak pada pemisahan antara kehidupan rohani dan sekuler. Gerakan sastra pesantren jangan sampai membuat sekat yang memecah belah,” tambah Jadul.

Sejak dari zaman para wali, produk sastra yang bermuatan Islami cenderung bisa berakulturasi dan diterima oleh masyarakat luas. Kala itu, para wali pun turut melebur dalam karya wayang yang sebenarnya berakar tradisi Hindu. Untuk semakin memupuk jiwa seni para santri, Pondok Pesantren Kali Opak berencana akan menggelar pameran seni rupa pada Februari mendatang.

Kompas, 11 Januari 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s