Bentuk Rumah Cina Cerminan Arus Politik


Bentuk dan model serta warna arsitek rumah milik masyarakat keturunan Cina sangat dipengaruhi oleh arus dan arah kebijakan politik negara.

Dosen Jurusan Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta, Ir. Dhani Mutiari, M.T. menyatakan,  masyarakat Cina selalu reaktif terhadap kebijakan atau peristiwa politik yang diekspresikan dalam arsitek dan tata ruang rumah mereka.

Dalam hal politik yang represif dan diskriminatif, spesimen arsitek yang terlihat dalam bentuk tata ruang dan fasad yang mengarah pada penguatan identitas kecinaan, adaptasi dengan budaya lain, membuat modifikasi, menciptakan identitas baru, menutup diri dan konservasi rumah lama.

Analisa kaitan arsitek dengan politik disampaikan dia dalam ujian terbuka program doktor ilmu teknik di Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (12/1). Dia meneliti arsitek rumah dan pengaruh politik di masyarakat keturunan Cina di Surakarta, pada sejak masa kota-raja Kerajaan Mataram tahun 1745, periode kekuasaan Belanda (Praja Kejawen) tahun 1755-1942, hingga masa reformasi tahun 1998. Tema penelitiannya, “Pengaruh Politik terhadap Rumah Cina di Sekitar Pasar Gedhe Surakarta”.

Penelitian dengan kajian teks tentang arsitektur Cina dan sejarah perkembangan politik masyarakat Cina di Indonesia dan Surakarta, wawancara, dan observasi bangunan toko dan rumah milik masyarakat keturunan Cina.

Hasilnya masyarakat Cina memahami arsitektur rumah bukan sebatas aspek seni. Corak arsitektur bisa mencerminkan reaksi mereka terhadap kebijakan pemerintah/negara/kerajaan pada masa tertentu.

Faktor politik yang berpengaruh terhadap arsitektur rumah Cina di Surakarta terdiri atas segregasi etnik dan penciptaan akses ke kawasan Pecinan. Kreasi demikian mempertimbangkan aspek akulturasi, asimilasi, dan pengembangan ekonomi, pembatasan ekonomi di pedesaan, pelarangan ekspresi identitas Cina, dan penghancuran rumah Cina.

Menurut dia pelajaran penting dari belajar arsitek rumah milik masyarakat keturunan Cina berkaitan kebijakan politik urban yang terkait budaya. Sepintas dalam rumah mereka hanya terlihat model fasad atau atap melengkung pada sopi-sopi (gunungan), bentuk simetri dengan atap datar tampak dari muka, dan bentuk Shophous dengan karakter toko pada bagian depan dan berlantai dua. Bentuk atap tersebut memiliki konotasi dengan pembacaan kebijakan politik penguasa saat itu misalnya tidak linier atau setaraf dalam memperlakukan warga.

“Aspek politik sebagai pertimbangan urban planning atau bentukan arsitektur, selalu akan menimbulkan reaksi corak arsitek dalam masyarakat keturunan tersebut,’ ujar dia.

Pikiran Rakyat, 12 Januari 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s