Biaya Kesehatan Naik


Belanja kesehatan di Indonesia selama beberapa tahun ini ternyata terus meningkat. Namun, efektivitas pengeluaran itu dalam meningkatkan kesehatan masyarakat dipertanyakan. Untuk pengendalian biaya kesehatan perlu dilakukan evaluasi ekonomi dan riset lanjutan.

Hal itu tecermin dalam hasil penelitian ”National Health Account” oleh pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia Prof Ascobat Gani, Prastuti Soewondo, dan Mardiati Najib. Sepanjang tahun 2002-2008, menurut mereka, total belanja kesehatan naik rata-rata 19,76 persen per tahun dengan pertambahan penduduk rata-rata 1,33 persen per tahun. Produk domestik bruto naik rata-rata 20,8 persen per tahun.

Prastuti, seusai media workshop ”Health Economics”, Selasa (12/1/2010), mengatakan, data itu merupakan estimasi dan perlu kajian lebih dalam. ”Ini gambaran makro. Kami masih menganalisis secara rinci,” ujarnya.

Terjadi pula pergeseran perbandingan antara porsi publik (pemerintah serta jaminan sosial, seperti Jamkesmas, PT Askes, dan PT Jamsostek) dan nonpublik (privat, seperti korporat, asuransi, dan rumah tangga).

Pada 2002, perbandingan sektor publik dan nonpublik ialah 35:65. Pada 2008, menjadi 54:46 persen. Belanja di sektor publik naik rata-rata 27,2 persen.

Rumah tangga

Untuk belanja kesehatan porsi privat, pengeluaran rumah tangga paling dominan. Belanja kesehatan dari kantong sendiri Rp 30,4 triliun dari total belanja kesehatan sekitar Rp 101 triliun tahun 2008.

Mardiati mengatakan, di satu sisi itu bisa berarti kesadaran kesehatan dan daya beli meningkat. Namun, juga mengkhawatirkan karena menggambarkan belum semua masyarakat mempunyai jaminan kesehatan.

Guru besar FKM UI, Prof Hasbullah Thabrany, mengatakan, keefektifan belanja kesehatan masih harus diukur dengan pendekatan evaluasi ekonomi bidang kesehatan melalui riset terkait. ”Apakah dengan dana itu sudah didapat hasil maksimal,” ujarnya. Di tengah meningkatnya belanja pemerintah, misalnya, persoalan kematian ibu masih tinggi.

Ketua Departemen Farmakoterapi Universitas Utah, AS, Diana I Brixner mengatakan, dengan alokasi biaya kesehatan terbatas dan meningkatnya populasi, yang bisa dilakukan, antara lain meningkatkan efisiensi sistem. Hal itu berarti mengurangi penggunaan produk dan jasa yang kurang bernilai. Tentang obat, misalnya, dulu keputusan pengobatan berdasarkan tingkat efikasi dan efek samping tanpa pertimbangan biaya. Tetapi, dengan biaya terbatas, faktor itu perlu dipertimbangkan.

Kompas, 13 Januari 2010

Iklan

Satu pemikiran pada “Biaya Kesehatan Naik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s