Hantu Perdagangan Bebas


GELOMBANG barang produksi Cina masuk sejak diberlakukannya Asian?China Free Trade Center (ACFTA) mulai 1 Januari tahun ini. Meski sosialisasi pasar global sudah didengar sejak 2002, masyarakat tetap saja kaget saat perdagangan bebas benar-benar diberlakukan.

Sesuatu yang jarang terjadi menyambut datangnya era perdagangan bebas. Kalangan pengusaha dan buruh yang sebelumnya selalu bertentangan seperti layaknya kucing dan tikus, bahu-membahu menentang mulai diberlakukannya ACFTA.

Tiba-tiba kata perdagangan bebas ini terdengar seperti suara seperti hantu yang datang di siang bolong. Pengusaha dan buruh khawatir masuknya barang-barang cari Cina akan membunuh industri lokal. Barang lokal dianggap tidak mampu bersaing dengan serbuan barang dari Cina yang lebih murah dengan kualitas yang tidak kalah bagus dari barang buatan lokal.

Padahal secara logika, tak masuk akal jika barang yang diproduksi di Cina dan dikirim ke Indonesia bisa lebih murah harganya dengan produksi lokal, dengan kualitas yang nyaris sama.

Secara hitungan kasar, ongkos produksi dengan bahan baku dan tenaga kerja yang melimpah di Indonesia akan susah disaingi oleh Cina. Belum lagi ditambah dengan ongkos distribusi barang dari Cina ke Indonesia yang tidak murah.

Fakta bahwa Cina berhasil memasarkan produknya dengan harga murah menunjukkan bahwa ada yang salah dalam sistem perdagangan di negara kita. Harus ditelusuri apa yang membuat biaya produksi sedemikian mahal sehingga barang yang dipasarkan ke konsumen masih kalah dibanding barang dari Cina.

Namun perhitungannya tak sesederhana itu. Komponen produksi di negara kita ternyata masih lebih mahal dibanding biaya produksi di Cina ditambah biaya distribusinya sekalipun. Berbelitnya proses perizinan, banyaknya pungli, dan biaya-biaya lain membuat ongkos produksi menjadi semakin mahal.

Parahnya mahalnya biaya produksi tak berdampak banyak terhadap nasib buruh. Gaji buruh di negara kita ternyata masih kalah jauh dibanding negara-negara tetangga bahkan di Cina. Lalu larinya selisih biaya produksi itu? Yang jelas kesenjangan kesejahteraan antara buruh dan pengusaha kelas kakap di negeri ini semakin jauh.

Cepat atau lambat era perdagangan bebas tak akan bisa dibendung lagi. Salah satu solusi untuk ikut bersaing dalam pasar bebas adalah menekan biaya produksi dan menghasilkan barang berkualitas. Dalam era persaingan yang makin ketat, konsumen tak mau tahu dari negara mana produk berasal. Mereka hanya melihat kualitas dan harga dari produk yang akan dibelinya.

Sebagai negara dengan sumber daya alam melimpah, kebijakan ekspor bahan mentah sudah saatnya ditinjau kembali. Jika semua bahan mentah tak boleh keluar dari negeri ini tanpa diolah terlebih dahulu, negara lain yang miskin sumber daya alam tentu akan kesulitan mendapatkan bahan baku. Keterampilan mengolah sumber daya alam menjadi bahan jadi harus terus diasah.

Pemerintah juga harus membantu para pengusaha dengan mempermudah dan mempercepat semua proses perizinan untuk menekan biaya produksi. Dan yang terpenting pengusaha harus mau berbagi sedikit keuntungannya untuk kesejahteraan buruh sehingga kesenjangan tidak semakin lebar.

Perdagangan bebas tak akan selesai jika hanya dilawan dengan demo turun ke jalan. Era perdagangan bebas harus disikapi dengan meningkatkan kualitas produksi barang dalam negeri sehingga suatu saat nanti negara seperti Cina atau Amerika sekalipun akan ketakutan saat negaranya diserbu oleh barang-barang murah tapi berkualitas dari Indonesia.

Tribun Jabar, 11 Januari 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s