Kompleksnya Meja Putar


Kelompok seni Meja Putar asal Solo menggelar pemeran lukisan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.Pameran menghadirkan kompleksitas warna dan gaya para seniman. Sesuai judul pameran yang diusung, Kompleksekali, 33 lukisan karya kelompok Meja Putar menyajikan karya dengan aliran yang sangat beragam. Pameran satu pekan ini, dari 9-16 Januari 2010, memang menampilkan kompleksitas warna,gaya,dan aliran yang dianut para seniman Meja Putar.

Bermacam aliran tersaji dalam pameran Kompleksekali. Sebut misalnya kubisme,abstrak,realis,ekspresif, hingga surealisme tersaji dalam satu ruang.Tema-tema yang diusung juga beragam. Mulai dari kritik sosial,politik hingga pemandangan menyatu dalam aroma yang berbeda. Kelompok Seni Meja Putar asal Kota Solo,menyajikan itu semua melalui karyakarya lukisan yang terpampang. Tak kurang dari karya yang tampil itu menampilkan situasi kekinian di negeri ini. Karya Jaya Adhi, misalnya memaparkan realitas sosial yang terjadi belakangan ini.

Jaya Adhi mengambil setting duka bangsa ini, yaitu dengan menghadirkan tokoh Gus Dur yang dalam oretannya.Lukisan Gus Dur meninggal dunia dilukis Jaya Adhi dengan judul Ki Semar Wafat. Dengan media minyak pastel di atas kanvas, gambar Gus Dur yang diibaratkan sebagai Ki Semar, dilukis Jaya dengan coretan-coretan bergaya menyilang menggunakan pastel. Ki semar, dalam lukisan Jaya, dilukiskan tergeletak dengan bertelanjang dada, lengkap dengan pelayat yang mengelilinginya.

Uniknya, pelayat yang mengelilingi Gus Dur adalah presiden dan mantan Presiden RI.Ada Presiden SBY yang tepekur memanjatkan doa, hadir mantan Presiden Megawati yang sesenggukan, mantan Presiden Habibie.Tak ketinggalan juga mantan presiden kedua Soeharto dan presiden pertama Soekarno ikut mengerubuti Gus Dur. Mereka nampak bersedih sepeninggalan Gus Dur, yang menurut Jaya, ia gambarkan sebagai sosok Ki Lurah Semar. Rupanya, dalam pikiran seniman Solo ini,duka yang ditinggalkan Gus Dur tidak hanya bagi yang masih hidup,melainkan juga bagi mereka yang sudah lebih dahulu mendahuluinya.

“Saya pikir semua orang bersedih dengan meninggalnya Gus Dur. Hingga dalam lukisan ini saya pikirkan mantan Presiden Soeharto pun ikut melayat,”papar Jaya kepada Seputar Indonesia di Galeri Cipta II TIM kemarin. Jaya merupakan salah satu seniman Meja Putar yang eksis mengikuti pameran.Ia merupakan salah satu pelukis yang pernah memenangi juara nasional Lomba 100 Tahun Kebangkitan Nasional di Yogya Gallery beberapa tahun lalu. Lukisannya, pada waktu itu, Operasi Sang Semar mendapatkan pengakuan dan apresiasi tinggi.

Koleksi Jaya yang lain, ikut dipamerkan di Kompleksekali, yakni Mangkatnya Sang Jenderal. Masih dengan teknik yang sama, dalam pamerannya kali ini, Jaya menghadirkan lukisan meninggalnya Presiden Soeharto. Namun, yang unik dari lukisan mengenai meninggalnya Soeharto ini,Jaya menampilkan sebanyak 12 sosok Soeharto yang seolah-olah melayat dirinya sendiri dengan bermacam ekspresi. “Dari dulu saya memang suka sekali menggambar sosok presiden. Jadi, gambar-gambar saya ini lebih banyak yang tercipta dari sosok presiden,”papar Jaya.

Kuat dalam gaya dan teknik realistiknya, lukisan Jaya dengan medium pastel ini, seperti membawa kita ke dalam suasana pengamatan yang klasik dan romantis. Subjek matter dan ide lukisanlukisan Jaya juga tergolong unik. Kelompok Meja Putar merupakan perupa dan seniman yang mayoritasberisisenimanautodidakdan mengembangkan dirinya secara sporadis di tengah Kota Solo. Kelompok ini semula berasal dari pertemanan dari individu ke individu, hingga akhirnya terbentuk kelompok Meja Putar. Individu-individu yangtergabungdalamMejaPutarini berasal dari berbagai macam aliran.

Karena terdiri dari berbagai macam orang dan aliran, maka kelompok ini nyaris tidak bisa menyebut aliran macam apa yang banyak dipamerkan. Salah satu anggota Agussis, misalnya pelukis yang cermat dan matang ini mampu melukis dengan teknik dan gaya kubistiknya yang menarik. Simbol-simbol kehidupan masyarakat dan lingkungan, lengkap dengan distorsi dan juga deformasi bentuk yang unik melahirkan karya yang agung. Dialog makna yang tak ada batasnya ini menjadikan karya Agussis terasa lengkap. Lalu ada Abdul Aziz. Pelukis alumnus Seni Rupa STSI Surakarta ini melahirkan karya lukisan dengan distorsi bentuk yang berani.

Aziz menawarkanlukisandenganekspresif ke abstrak dengan lukisan yang kaya warna namun lembut.Bayangbayang manusia disajikan dengan teknik yang lembut hingga terkadang pemaknaannya menjadi halus. Karya Aziz berjudul Terpasung dan dalam Imaji ini, menghasilkan karya yang kaya akan pemahaman makna. “Hanya dua lukisan ini yang saya bawa.Semuanya menggunakan teknik ekspresif abstrak,” papar Aziz.

Pengamat seni lukis Narsen Afatara asal Karanganyar mengatakan digiringnya karya koleksi pelukis Meja Putar ini merupakan simbol aktivitas perupa Solo yang mulai menggeliat. Seleksi alam lewat ibu kota,jelasnya,akan lebih memberikan pemahaman bagi masing-masing pelukis untuk eksis dalam karya dan secara tidak langsung bisa tampil lebih baik.

Harian Seputar Indonesia, 09 Januari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s