Kecanduan Opium, Tidak Diakui Anak Lagi…


Selain diliputi rasa cemas akibat perang yang terus membara, para tetua kampung dan desa di Afganistan semakin prihatin terhadap tingginya produksi dan maraknya penggunaan opium di kalangan anak remaja dan kaum muda. Jika generasi muda sampai kecanduan, maka orangtua dipastikan akan mengusir mereka dari rumah dan takkan mengakuinya sebagai anak lagi.

Dalam satu dekade terakhir hingga tahun 2009, Afganistan merupakan negara produsen opium terbesar dunia. Opium adalah bahan baku pembuatan heroin, yang digunakan untuk membiayai kelompok bersenjata di Kandahar dan Helmand, basis perjuangan Taliban.

Meski produksinya mulai menurun—pada tahun 2008 menurun 18 persen—namun total ekspor heroin masih tinggi, yakni 2,8 triliun dollar AS pada tahun 2009. Nilainya setara dengan 1/4 dari total produk domestik bruto Afganistan.

Para tetua terus melakukan tindakan tegas terhadap anak-anak agar mereka segera membuang kebiasaan mengonsumsi narkotika dan obat-obat berbahaya, terutama opium. Tindakan paling tegas ialah mengusir anak-anak dari rumah dan tidak akan diakui sebagai anak lagi kecuali kalau anak-anak bertobat dan tidak lagi mengonsumsi opium atau heroin, serta jenis narkotika dan obat-obat terlarang lainnya.

Beberapa langkah yang dilakukan orangtua dan tetua desa, antara lain selalu diawali dengan membujuk anak agar melepaskan kebiasaan buruk itu. Jika tidak diikuti, tahapan berikutnya adalah mengancam, lalu menghukum, dan langkah terakhir adalah mengusir dari rumah mereka sendiri.

Ismail Ibrahimzai, Kepala Rumah Sakit Provinsi Ghazni, menyebutkan, di provinsinya ada 20.000 pecandu opium (heroin). Sebanyak 80 persen di antaranya adalah pria, 13 persen wanita, dan 7 persen anak-anak. Selain itu dilaporkan, tetua desa sudah mengusir lebih dari 200 pecandu dari kampung akibat tidak mengindahkan nasihat orang tua serta ayah-ibunya. Persoalan ini serius karena narkotika telah merusak sendi-sendi kehidupan keluarga, terutama masa depan anak.

Opium yang menjadi bahan baku heroin umumnya ditanam di wilayah Kandahar dan Helmand. Dua provinsi ini menjadi basis perjuangan Taliban. Narkotika jenis opium, atau heroin, menjadi sumber utama pendanaan perjuangan kelompok Taliban. Industri ilegal ini meraup keuntungan sekitar tiga miliar dollar AS per tahun.

Budidaya opium dan perdagangan heroin juga sering kali ”aman” karena jaringannya dikawal ketat oleh Taliban. Rute pengiriman barang haram itu umumnya ke Pakistan dan Iran, juga selalu dikawal oleh para pejuang Taliban yang memiliki kepentingan untuk mendapatkan dana demi membiayai perjuangan mereka setiap hari.

Pihak kantor PBB yang menangani khusus soal narkoba dan kejahatan, yani UNODC, mengatakan, ”Konflik, perpindahan, kesulitan ekonomi, dan melimpahnya produksi opium telah menghasilkan penyalahgunaan narkoba yang luas di Afganistan.”

Penduduk Qarabah, Mohammad Nabi, mengatakan, jumlah pecandu meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang telah kembali dari luar negeri seperti Iran. Dia merujuk jutaan orang yang melarikan diri dari perang dan rezim Taliban tahun 1996-2001 ke Iran dan Pakistan.

Kompas, 14 Januari 2010

Satu pemikiran pada “Kecanduan Opium, Tidak Diakui Anak Lagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s