Alarm Banjir, Agar Warga Siaga Bencana


Sebenarnya warga yang tinggal di kawasan rawan banjir dapat mempersiapkan diri lebih awal untuk menyelamatkan barang-barang berharga beberapa waktu sebelum banjir datang. Caranya melalui alarm peringatan dini bencara banjir. Petrus, peneliti bidang hidrologi Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (Pusair) Bandung, alarm untuk peringatan banjir ternyata ada mengaku telah menempatkan alat semacam alarm bernama Flood Forecasting and Warning System (FFWS) di beberapa daerah aliran sungai. Di antaranya di Nanjung, Cipadung, Ciparay, dan Dampit.

FFWS terdiri atas remote station, yakni transducer dan agent atau logger, data communication network (DCN), FFWS management center, serta display dan alerting system.

Transducer adalah sensor pengukur tinggi muka air sungai, curah hujan, suhu, kelembapan, dan lainnya. Data yang terekam dikonversi dari analog menjadi digital oleh agent/logger dan mengirim semua data ke Flood Management System (FMC) melalui DCN. FMC akan mengumpulkan data, mengolah data, melakukan penghitungan untuk menghasilkan suatu prediksi beberapa waktu ke depan, dan menyimpan data. Data hasil pengamatan tersimpan dalam suatu data base yang terstruktur baik untuk jangka waktu panjang dan pengolahan lebih lanjut.

Display and alerting system berupa unit output bagi publik dan berperan memberikan peringatan. Bentuknya dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Sistem ini dapat diintegrasikan pada sistem peringatan dini berskala nasional (National Early Warning System).

”Dikirim dengan sistem telemetri, yakni pengiriman data dari lapangan menggunakan sistem komunikasi GSM, pakai sim card. Posisinya sama seperti handphone (HP) memakai modem. Atas dasar itu data terkirim sesuai dengan perintah kita, mau setiap satu jam atau satu hari. Bisa juga setiap lima menit, tergantung kebutuhan. Data ini dikirim semua masuk ke data base, kemudian bisa dilihat dan disebarkan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana(BNPB), kalau daerah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Juga disebarluaskan, termasuk kepada publik, secara telemetri,” tutur ujar Petrus, Senin (29/3).

Peringatan hingga berupa alarm langsung dari data base nyatanya masih belum bisa terealisasikan, sebab masih tergantung pada data di lapangan yang memerlukan data panjang sampai bertahun-tahun. Maka untuk saat ini FFWS masih secara manual, yakni melalui SMS warning kepada pejabat setempat. Pejabat memberi tahu masyarakat melalui alarm setempat menyatakan bahwa 6 jam ke depan akan terjadi banjir.

Agar sampai ke pejabat atau posko banjir, nomor handphone mereka disimpan di agent. Kemudian akan ada SMS warning berupa peningkatan muka air, misalnya lebih dari 5 meter sehingga disebut siaga satu. Bagi masyarakat yang sering menggunakan fasilitas internet, juga bisa memantau grafik muka air melalui website http://www.tech4water.com.

Spesifikasi transducer di antaranya server yang dilengkapi software aplikasi, dengan kapasitas 1-50 atau 1-150 station pengamatan. Agent Rainfall atau Automatic Rainfall Recording yang terdiri atas general purpose agent (GPA-888E), sensor (tipping bucket, luasan cuplik 200 cm2, magnetic pulse, resolusi pulsa 0,5 mm), power supply, dan dilengkapi modem GSM/CDMA. Agent Water Level atau Automatic Water Level Recording yang terdiri atas general purpose agent (GPA-888E), sensor (jenis pelampung, range 0-10 mm, sistem encorder optocouler, analog output 0-5 volt DC), power supply, dan dilengkapi modem GSM/CDMA.

Keluaran sistem ini juga dapat memberikan ramalan  terjadinya kekeringan pada suatu periode tertentu di suatu wilayah, misalnya daerah irigasi. FFWS merupakan pengembangan yang dilakukan oleh kelompok kerja Puslitbang SDA, PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI), Universitas Dipenogoro (Undip), dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS).

Alat ini sejak tahun 1980-an sudah ada, tetapi suku cadang dan tenaga ahli tidak ada, serta kesulitan operasional sehingga alatnya tidak berfungsi. Alat FFWS ini asli buatan Indonesia dan diperjualkan oleh PT INTI, meski tampilan dan bentuknya berbeda dengan kemampuan sama.***

Hanifah Widyacastrena, mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad.

PR – Kamis, 01 April 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s