Alat Canggih Pemindai Penumpang di Bandara


“Whole Body Imaging Scanner”

Setelah sekitar tiga tahun, ketika ancaman peledakan bom di pesawat terbang dengan menggunakan bom cair – yang kemudian diikuti pelarangan membawa cairan ke dalam kabin pesawat terbang (liquid ban) termasuk di antaranya hairspray dan hand lotion – terungkap oleh Scotland Yard, dinas rahasia Inggris Agustus 2006, dunia penerbangan terasa aman tanpa adanya ancaman teroris, sampai Desember 2009 ketika Umar Farouk Abdulmutallab yang terbang dengan pesawat Airbus A330 Delta/Northwest Airlines Flight 253 dari Bandara Schiphol Amsterdam, Belanda ke Detroit , Amerika Serikat, tertangkap membawa bahan peledak jenis pentaerythritol tetranitrate (PETN) yang dijahitkan di celana dalamnya yang tidak terdeteksi sebelumnya.

Umar Farouk Abdulmutallab, pria warga negara Nigeria, berumur 23 tahun kemudian merakit bom di dalam toilet pesawat dan diduga akan meledakkannya dari tempat duduknya, ketika pesawat hendak mendarat di Detroit. Meskipun kaki Abdulmutallab sempat terbakar, tetapi tidak ada seorang pun dari 277 penumpang yang cedera dan tidak ada kerusakan pada struktur pesawat terbang.

Pemeriksaan penumpang di bandara, saat ini umumnya hanya menggunakan walk through metal detecor (WTMD) dan handled metal detector yang tidak mampu mendeteksi barang yang tersembunyi dan bahan berbahaya yang nonmetal.

Meskipun berbagai jenis bahan peledak termasuk PETN yang nonmetal dapat dideteksi dengan peralatan portable explosives trace detection (ETD) yang tersedia di banyak bandara di dunia, tetapi tersangka pembawa bahan peledak tidak termasuk orang yang dipilih untuk dilakukan pemeriksaan khusus.

Kejadian tersebut tak pelak menyengat pemerintah Amerika Serikat yang segera bereaksi dengan memanfatkan teknologi whole body imaging scanner (WBI) sebagai sarana pemeriksaan penumpang yang lebih akurat dan teliti di checkpoints keamanan bandara.

Melalui US Transportation Security Administration (TSA), pemerintah Amerika Serikat segera membuka kontrak pembelian WBI seharga 165 juta dolar AS (sekitar Rp1,5 triliun) dari L-3 Communications setelah sebelumnya, pada Oktober 2009 juga mengucurkan dana 173 juta dolar AS (sekitar Rp. 1,6 triliun) untuk membeli peralatan sejenis,  Secure 1000 single-pose whole-body imaging system (WBI) dari Rapiscan.

Dengan sistem WBI dan piranti lunak pendeteksi otomatisnya, pemeriksa penumpang akan memperoleh data secara waktu nyata (real time), barang-barang berbahaya atau peralatan yang tersembunyi di balik pakaian yang dikenakan penumpang.

Tindakan serupa juga dilakukan oleh pemerintah Belanda yang kemudian memasang sekira 60 peralatan whole body imaging scanner di Bandara Schiphol setelah sebelumnya sempat kecolongan dengan tidak terdeteksinya bahan peledak yang dibawa oleh Abdulmutallab.

WBI sebenarnya bukan peralatan yang sangat baru, teknologi ini sudah diperkenalkan sejak awal 2007 dan sejak April 2008, dilakukan proses evaluasi selama 20 bulan untuk berbagai vendor yang membuat WBI.

Sebagai bagian dari proses evaluasi, pembuat WBI harus dapat mendemonstrasikan kemampuan WBI produknya, di antaranya sistem tersebut harus dapat terintegrasi dengan sistem keamanan bandara yang telah ada dengan “akibat yang minimal terhadap konfigurasi saat ini, mempunyai kemampuan memeriksa sedikitnya 60 orang per jam ( 1 orang per menit), dan mampu memeriksa sedikitnya 95 persen tinggi penumpang pria.

Dua vendor yang lulus uji yang mampu memenuhi semua persyaratan adalah L-3 dan Rapiscan. L-3 mengklaim bahwa ProVision mempunyai sistem two-second multi-directional scan time yang mampu memindai 300 – 600 penumpang per jam (12 sampai 24 detik per penumpang), sedangkan Rapiscan mengklaim dapat memindai setiap penumpang hanya dalam “beberapa detik”.

L-3 Communications melaporkan telah menjual produknya ProVision WBI yang berbasis millimetre-wave lebih dari 200 unit di seluruh dunia termasuk 40 unit yang sedang dalam pengujian di 19 bandara.

Rapiscan dengan sistem WBI berbasis X-ray backscatter juga sedang menguji sistemnya di beberapa bandara. Penggunaan WBI ini sendiri sempat terhalang oleh keberatan pribadi (privacy concerns), karena WBI pada dasarnya akan “menelanjangi” penumpang yang citranya – seluruh tubuh dalam 3 dimensi – akan terlihat di layar monitor.

Para pembuat WBI kemudian menjawab isu ini dengan beberapa fitur baru seperti menggunakan siluet hitam dan putih dalam citra 3 dimensi, mengaburkan bagian wajah (blurring facial) dan petugas pemeriksa yang ditempatkan jauh dari ruang pemeriksaan untuk mencegah petugas tersebut melihat langsung siapa yang sedang diperiksa.

Namun dengan kejadian bobolnya sistem pemeriksaan “konvensional”, penggunaan WBI ini kemudian dipercepat pada awal tahun 2010 ini.

Selain menyelidiki adanya kelalaian dalam pemeriksaan penumpang di bandara, petugas keamanan Amerika Serikat juga menyelidiki keefektikan sistem WBI, yang menggunakan teknologi seperti backscatter X-ray, millimeter atau Terahertz-wave apakah akan mampu mengekspose ancaman potensial yang tersembunyi di balik pakaian dan dapat mendeteksi adanya bahan peledak seperti PETN dan sejenisnya.

Dua jenis pemindai yang tersedia saat ini adalah WBI berbasis millimeter wave scanner dan backscatter scanner.

Teknologi millimeter wave memantulkan gelombang elektromagnetik yang tidak berbahaya dari tubuh manusia dan membuat citra hitam dan putih. Besaran energi yang dipancarkan 10.000 kali lebih rendah dari yang diizinkan untuk telefon selular.

Teknologi backscatter atau reflection X-ray memproyeksikan sorotan sinar X yang terionisasi ke seluruh permukaan tubuh dengan kecepatan tinggi. Pantulan sinar tersebut dideteksi, digitalisasi, dan ditampilkan di layar monitor.***

Eddy Budi Setiawan, pemerhati dunia penerbangan, alumnus Teknik Penerbangan-ITB.

PR – Kamis, 04 Februari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s