Bandung Akan Porak-poranda


Waspadai Gempa 200 Tahunan!

KAWASAN permukiman padat penduduk di Tamansari Kota Bandung, akhir pekan lalu. Kota Bandung termasuk wilayah yang memiliki potensi gempa sebesar 62,9 persen, dengan kekuatan hingga 7,5 pada skala Richter sehingga perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai apa yang harus dilakukan bila gempa bumi terjadi di sekitar kita.* DUDI SUGANDI/”PR”

Sekitar 10 persen gempa bumi di dunia terjadi di Indonesia. Kota Bandung termasuk wilayah yang memiliki potensi gempa sebesar 62,9 persen, berkekuatan hingga 7,5 pada skala Richter dalam kurun waktu 200 tahun sekali. Terakhir, kejadian gempa tersebut terjadi 130 tahun yang lalu. Dengan demikian, kemungkinan gempa tersebut akan berlangsung dalam jangka waktu 70 tahun ke depan atau bisa juga besok. Bagaimana cara menyikapinya?

Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Adang Surachman mengatakan, Indonesia merupakan negara yang aktivitas kegempaannya sangat dipengaruhi oleh tiga jalur gempa, yaitu Trans-Asia/Eurasia, Indo-Australia, dan Circum Pacific. Setiap tahunnya di Indonesia terjadi gempa kecil dan besar sekitar 400 kali. “Itu berarti rata rata lebih dari satu kali per hari,” ujarnya saat menyampaikan orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis Ke-51 ITB di Aula Barat ITB, Jln Ganeca, Bandung, Selasa (2/3).

Dia mengatakan, kedalaman fokus gempa sering kali kurang dari 60 kilometer. Hal itu dapat digolongkan ke dalam gempa dangkal yang mengakibatkan kerugian jiwa dan harta yang besar sekali. Di Indonesia, sekitar 60 persen anggaran belanja negara diperuntukkan bagi pembangunan infrastruktur. Hal itu menyebabkan kejadian gempa besar di berbagai belahan Indonesia yang merenggut nyawa manusia serta mengakibatkan kerugian harta, telah menyebabkan kemajuan pembangunan mundur sekitar 10-25 tahun ke belakang.

Sebut saja kejadian gempa di Flores (1992 yang diikuti dengan tsunami dan 1996), Banyuwangi (1994, disertai tsunami), Liwa (1994), Kerinci (1995), Jambi (1995), Halmahera (1995), Biak (1996), Mangole (1998), Bengkulu (2000), Banggai (2000), Sukabumi (2000), Pandeglang (2001), Karangasem (2004), dan Nabire (2004). Begitu juga dengan gempa besar yang terjadi selama enam tahun terakhir, seperti Aceh (2004), Nias (2005), Sulawesi (2005), Mentawai (2005), Yogyakarta (2006, disertai tsunami) Indramayu (2007), Bengkulu (2007), serta Padang dan Tasikmalaya (2009). Dampak dari gempa tersebut sangat terasa sampai sekarang. Dengan demikian, sangat disadari perlunya usaha untuk melindungi infrastruktur dan yang paling utama adalah jiwa manusia.

Menurut Adang, ada empat upaya manusia untuk menyikapi gempa, yaitu dengan prediksi gempa, zonasi, solusi teknis, dan perlindungan asuransi. Dari keempat solusi tersebut, prediksi gempa masih belum memungkinkan untuk dapat menentukan kapan dan di mana terjadinya gempa. Sampai dengan saat ini, kita tidak bisa meramal kepastian kapan terjadinya gempa,” ujarnya.

Begitu juga dengan zonasi, sampai saat ini masih sulit dilaksanakan. Bahkan, pada masyarakat Amerika Serikat yang dianggap sudah maju sekalipun, mereka masih membangun rumah tepat di atas patahan San Andreas.

Menyikapi dengan perlindungan asuransi pun dikatakan kurang efektif. Pasalnya, perusahaaan asuransi sering kali menerapkan premium yang terlalu tinggi untuk risiko gempa bumi. Hal itu menyebabkan pemilik bangunan menjadi tidak tertarik untuk mengikuti asuransi gempa bumi. Bahkan, perusahaan asuransi pun banyak yang berusaha untuk mengurangi risiko, yaitu dengan mengasuransikan kembali kepada pihak ketiga. Hal itulah yang mendorong tumbuh suburnya perusahaan-perusahaan reasuransi gempa bumi. Melihat kondisi tersebut, satu-satunya pilihan yang paling layak ialah dengan perencanaan desain infrastruktur yang tahan gempa.

Bandung rawan gempa

Untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana gempa, pengetahuan mengenai kerawanan dan kerentanan tempat kita tinggal perlu diketahui. Berkaitan dengan hal tersebut, Pusat Mitigasi Bencana ITB pada tahun 1993 sampai 1998 telah melakukan kajian terhadap Kota Bandung.

Bandung merupakan kota metropolitan baru yang memiliki hawa sejuk dengan suhu rata rata 23 derajat Celsius dan curah hujan berkisar 1.500-2.000 mm/tahun. Kota yang dijadikan daerah wisata oleh pemerintahan Belanda ini semula dirancang untuk 200.000 penduduk. Namun, saat ini lebih dari dua juta jiwa menduduki Bandung. Bahkan, pada siang hari, banyaknya arus masuk dari wilayah seputar Bandung menyebabkan kota ini diduduki oleh sekitar tiga juta jiwa.

Secara topografis, Bandung merupakan sebuah cekungan yang terbentuk dari Danau Purba Bandung. Cekungan Bandung luasnya mencapai 2.283 kilometer persegi.

Jumlah penduduk Bandung yang semakin tinggi mendorong peningkatan permintaan perumahan. Kompleks-kompleks perumahan baru dibangun bukan hanya di pusat kota, melainkan sudah sampai daerah pegunungan. Padahal, sebenarnya daerah tersebut masih merupakan konservasi air dan dari sisi geologi, rawan bencana tanah longsor.

Skenario gempa di Bandung

Dalam orasi ilmiah tersebut, Adang juga memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai apa yang akan terjadi jika gempa besar menimpa Kota Bandung. Jika gempa yang telah diprediksi benar benar terjadi di Bandung, sebagain besar rumah akan rusak dengan tingkat kerusakan yang berbeda-beda, tergantung kualitas bangunan dan intensitas gempa di daerah itu.

Kecamatan yang diperkirakan kerusakannya akan paling ringan adalah Cibeunying Kaler dengan 4.820 rumah atau sekitar 34,81 persen mengalami rusak ringan dan sisanya 9.026 rumah mengalami rusak sedang. Kecamatan yang paling parah kerusakannya adalah Kecamatan Bojongloa Kaler, 49,04 persen rumah roboh dan sisanya atau 8.352 rumah rusak berat. Persentase penduduk yang kehilangan tempat tinggal sekitar 60 persen di pusat kota dan 20 persen di daerah konservasi.

Bangunan bangunan strategis seperti rumah sakit dan kantor polisi akan rusak berat jika terkena gempa dengan 0,238 gravitasi, rusak sedang jika gempa 0,175 gravitasi, dan rusak ringan pada gempa di atas 0,07 gravitasi.

Bangunan sekolahan, terutama SD Inpres dan bangunan di daerah padat pada umumnya roboh. Namun, bagi rumah kayu dan bambu tidak menimbulkan tumpukan yang berat kepada penghuninya. Pada bangunan beton di Ujungberung dan Rancasari, terutama gedung tinggi ada kemungkinan korban tertimbun puing-puing. Lalu lintas akan macet karena di daerah penduduk padat, manusia akan menempati lahan kosong termasuk jalan dan trotoar yang tidak ada bangunannya.

Untuk instalasi listrik, volume kerusakan untuk jaringan paling banyak terjadi pada daerah dengan kepadatan jaringan yang tinggi seperti Bandung tengah dan Bandung selatan. Namun, intensitas kerusakan jaringan cenderung membesar dari arah utara (seperti Dago Timur) ke arah Bandung Timur bagian selatan (seperti daerah Ujungberung dan Gedebage).

Instalasi air minum akan tidak berfungsi selama tujuh hari dengan kerusakan paling parah di daerah layanan Bandung utara, Bandung Barat, dan sebagian wilayah Bandung Tengah. Sementara untuk instalasi telekomunikasi, kerusakan akan terjadi pada daerah selatan di mana cukup banyak terdapat fasilitas telekomunikasi yang kritis dan juga beban dinamis yang dialami relatif lebih besar. Intensitas kerusakan yang paling kecil pada daerah Dago Timur dan terbesar pada daerah Bandung Timur bagian selatan, sekitar Gedebage dan Ujungberung.

Dari hasil kajian tersebut, kata Adang, dilakukan pula analisis dampak bencana. Diperkirakan, jumlah penduduk yang meninggal akibat gempa ini mencapai total 2.646 jiwa, dengan 21.169 orang luka berat dan 264.612 orang luka ringan. Kecamatan yang paling banyak korbannya adalah Kecamatan Bojongloa Kaler dengan 240 orang meninggal, 1.918 luka berat, dan 23.979 orang luka ringan.

Adang mengatakan, jumlah korban tersebut bisa diminimalisasi dengan dilakukannya mitigasi bencana. Untuk itu, perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai apa yang harus dilakukan bila gempa bumi terjadi di sekitar kita. (Tia Komalasari/”PR- Kamis, 18 Februari 2010″)***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s