Baterai Lit-Air Sumber Energi Baru


Kemampuannya Sepuluh Kali Lipat dari BBM Standar

Lebih dari tujuh juta barel bensin dikonsumsi oleh kendaraan di Amerika Serikat setiap hari. Para ilmuwan berlomba mencari solusi alternatif BBM yang ramah lingkungan untuk bahan bakar dunia. Penemuan BBM dari bahan baku ganggang, masih belum memuaskan para peneliti. Diperhitungkan konsumsi bensin dunia dari tahun ke tahun akan terus meningkat. Tren kebutuhan energi transportasi, tidak bisa dihindari. Oleh karena, itu para ahli biotech masih terus menggeluti berbagai bahan baku baru yang ada di lingkungan kita.

Sekelompok peneliti, mencoba mengeksplorasi berbagai sumber bahan baku, baik yang bersumber dari nabati (organik ) maupun nonnabati (anorganik). Terutama produk produk teknologi, yang kali ini menoleh ke baterai lithium. Sebagai bahan baku lain yang bisa menggantikan BBM, baterai lithium (Li), sebenarnya produk teknologi yang sudah akrab dengan lingkungan kita, karena sering digunakan sebagai sumber energi untuk kebutuhan sehari-hari maupun khusus.

Contoh yang terkecil, baterai lithium digunakan sebagai sumber energi untuk jam tangan, penerangan pekerja tambang, bahan bakar pemanas air, sumber energi roket luar angkasa, dan robot penjelajah di Bulan maupun Planet Mars, serta telefon genggam. Bahkan yang terakhir, digunakan untuk kendaraan roda dua maupun roda empat yang ramah lingkungan. Berangkat dari penggunaan untuk kendaraan roda empat dan dua, yang digunakan adalah Li-ion (lithium ion). Akan tetapi, para peneliti saat ini,mampu membuat lithium lain yang ada kaitannya dengan udara.

Baterai Lit-air (udara), cara kerjanya menggunakan katalisator ”katoda udara”, yang memasok oksigen, elektrolit, dan anoda lithium. Teknologi ini memiliki potensi untuk menyimpan hampir sama banyak energi sebagai tangki bensin, dan akan memiliki kapasitas penyimpanan energi, 5 sampai 10 kali lebih besar daripada baterai Li-ion. Para peneliti di US Department of Energy`s (DOE) Argonne National Laboratory, memanfaatkan materi penelitian untuk mencari hasil yang lebih luas dan mendalam, tetapi aman untuk pemakaian jangka panjang. Energi listrik yang dihasilkan jauh lebih tinggi, dan tahan lebih lama dibandingkan dengan Li-ion yang sudah akrab.

Argonne telah meneliti berbagai teknologi baterai, selama empat dekade terakhir, dan dalam prosesnya telah membangun sumur ilmiah dan keahlian teknik. Argonne telah bekerja dengan beberapa mitra industri komersialisasi baterai Li-ion, dan bahan baterai, termasuk perusahaan seperti EnerDel, Envia, BASF, dan Toda Amerika. Laboratorium itu bekerja sama dengan Commonwealth of Kentucky untuk mengembangkan Kentucky-Argonne National Baterai. Manufaktur pusat, yang akan mendukung pengembangan baterai, yang layak jadi suatu industri manufaktur di AS. Baru-baru ini, DOE laboratorium mengeluarkan dana 8,8 juta dolar AS, untuk membangun dan memakai tiga fasilitas riset khusus baterai yang akan digunakan untuk membuat prototipe baterai. Bahkan tidak hanya sampai prototipe saja, bila sudah siap akan dikembangkan hingga ke skala produksi setelah lewat analisis post-test.

**

RIBUAN skuter listrik kecil, sepeda, dan kursi roda di seluruh Eropa dan Asia yang didukung oleh LifePO4 ( istilah lain untuk Li-air ) sudah dilepas. Bahan yang digunakan dalam lanjutan baterai lithium ion yang penelitiannya dikembangkan oleh Université de Montréal. ”Ini merupakan baterai revolusioner, karena dibuat dari bahan-bahan beracun berlimpah dalam kerak bumi. Plus, harganya tidak mahal,” kata Michel Gauthier, yang diundang profesor di Université de Montréal Departemen Kimia dan co-founder Phostech Lithium, perusahaan yang membuat bahan baterai. ”Baterai ini akhirnya, bisa jadi sumber energi mobil listrik yang sangat menguntungkan.”

Teori pengujian segera dilaksanakan, karena energi listrik yang dihasilkan 100 persen sudah cukup capable. Rencananya akan digunakan pada Microcar, pada debut di Eropa tahun ini. Sumber energi listriknya akan dan didukung oleh baterai LifePO4. Lithium Phostech, pabrik produksinya terletak di St. Bruno, Quebec, menghasilkan LifePO4 hitam bubuk, yang dikirimkan ke seluruh dunia dalam tong tertutup rapat. ”Prinsip teoretis di belakang baterai, telah dipatenkan oleh profesor University of Texas pada tahun 1995. Akan tetapi, tanpa adanya kerja sama dengan ahli kimia lokal, seperti Nathalie Ravet, kami tidak dapat berkembang,” kata insinyur Phostech Lithium, Denis Geoffroy.

Süd-Chemie, suatu perusahaan kimia khusus terkemuka yang berbasis di Jerman, Lithium Phostech pertama kali diinvestasikan tahun 2005. Empat tahun kemudian, diikuti Süd-Chemie Kanada, hingga total investasinya telah mencapai 13 juta dolar AS, dan berdiri sebagai pemilik 100 persen Lithium Phostech. Perusahaan ini mulai menghasilkan LiFePO4 pada tahun 2006, dengan dua puluh karyawan dan menghasilkan 400 metrik ton kapasitas. Sejak saat itu, hampir dua kali lipat jumlah Phostech stafnya.

”Ini merupakan baterai yang jauh lebih stabil dan lebih aman,” kata Dekan MacNeil, seorang profesor di Université de Montréal dari Departemen Kimia, mengomentari temuan ilmiah ini. Dan pada dasarnya, baru Lithium Phostech NSERC-Chair, perusahaan yang bergerak dalam penelitian industri penyimpanan dan konversi energi. ”Selain itu, salah satu keunikannya, mampu mengisi kembali lebih cepat daripada baterai sebelumnya,” ujarnya. Penelitian NSERC sepenuhnya didanai oleh Phostech Lithium. Kelanjutannya, akan membantu penelitian untuk meningkatkan kemampuan baterai LifePO4.

Menurut Gauthier, Phostech Lithium adalah gabungan produk dari akademisi dan dunia usaha yang datang bersama-sama. ”Bahkan seperti kita ketahui bahwa campuran lithium, besi, dan fosfat secara teoretis bila diolah merupakan bahan-bahan yang menjanjikan. Professor Peter Bruce, yang pernah dianugerahi ”the Fellowship of the Royal Society” pada 18 Mei 2007 silam, kembali memberikan kejutan kepada dunia, khususnya kepada perkembangan teknologi di bidang kimia untuk pemanfaatan teknologi elektronik. Bersama tim yang dipimpinnya, ia menciptakan suatu penemuan terbaru di bidang kimia, yaitu baterai yang mampu di-charge dengan menggunakan oksigen.

Ia memimpin projek senilai 1,5 juta poundsterling, berharap baterai temuannya sudah dapat dipasarkan sekitar lima tahun mendatang. Versi mini baterai ini, rencananya akan dimanfaatkan sebagai sumber energi bagi gadget, semacam handphone, laptop, maupun iPod. Para penemunya mengklaim, baterai tersebut juga bakal jadi andalan untuk mendayai mobil listrik masa depan. Bruce memperhitungkan penemuannya ini, akan menjadikan harga baterai ini jauh lebih murah. Dari beberapa pengamatan para ahli kesehatan lingkungan, energi listrik yang dihasilkannya bisa lebih ekonomis dan ramah lingkungan.

”Target kami adalah menciptakan daya dukung kemampuan baterai 5-10 kali lipat dari kapasitas penyimpanan baterai standar. Dengan demikian, ini akan merupakan hasil di luar biasa dari baterai lithium pada saat ini,” ujarnya. ”Kuncinya terletak pada penggunakan oksigen di udara, sebagai bahan reaksi awalnya. Yang menarik dari produk teknologi baterai ini, adalah tidak ada masukan bahan kimia ke dalam baterai,” ujarnya menambahkan. Projek yang telah memakan waktu penelitian selama empat tahun ini, dimulai dua tahun yang lalu dan direncanakan berakhir pada 2011. Bruce memperkirakan, paling tidak dibutuhkan lima tahun lagi, sebelum baterai STAIR ini dijual bebas untuk umum.***

Dedi Riskomar, wartawan senior

PR- Kamis, 04 Februari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s