Brian May, Antara Musik dan Astronomi


Bagi yang senang dengan lagu-lagu Queen, nama Brian May mungkin tak asing lagi. Brian May adalah gitaris utama grup band Queen yang digawangi Freddy Mercury. Kepiawaian Brian May dalam dunia musik, khususnya gitar, tak perlu diragukan. Majalah Rolling Stones menobatkan Brian May sebagai salah satu dari seratus  gitaris terbaik sepanjang masa. Tak ayal lagi, nama Brian May tidak bisa lepas dari dunia musik.Namun siapa sangka, di balik kepopulerannya sebagai  musisi, Brian May ternyata  seorang ilmuwan di bidang astronomi.

Pria berambut keriting kelahiran Hampton, London, 19 Juli 1947 itu bernama lengkap Brian Harold May. Semasa sekolah, Brian May memang telah memiliki kegemaran bermusik. Ia pun merintis sebuah band bersama teman sekolahnya Tim Staffel. Hobinya bermusik tidak mengganggu prestasi akademiknya. Brian May semasa sekolah justru dikenal sebagai siswa dengan prestasi cemerlang.

Brian May menempuh kuliah di Imperial College London bidang studi fisika. Ia mampu menuntaskan kuliahnya tepat waktu dengan mendapatkan gelar kehormatan khusus karena berhasil meraih nilai akademik di atas rata-rata. Tak lama setelah meraih gelar sarjana, ia mengambil kuliah setingkat doktoral bidang astrofisika.

Pada tahun 1970, Brian May bersama Freddy Mercury dan Roger Taylor mendirikan band bernama Smile yang kemudian berganti nama menjadi Queen dengan satu orang personel tambahan, yaitu John Deacon. Karena kesibukannya dalam karier bermusik bersama Queen, gelar doktornya tertunda selama lebih dari 30 tahun.

Di sela-sela aktivitasnya dalam bermusik, Brian May mencoba melakukan penelitian berkaitan dengan disertasinya. Antara tahun 1971 dan 1972, ia melakukan observasi bintang di Kepulauan Canarie Spanyol.  Pada tahun 2007, disertasinya yang membahas tentang cahaya zodiak berhasil dirampungkan dan diterbitkan dalam sebuah buku berjudul A Survey of Radial Velocities in the Zodiacal Dust Cloud.

Disertasi Brian May ini berawal dari sebuah fenomena misterius cahaya zodiak (zodiacal light), yaitu cahaya yang berbentuk kerucut yang berpendar di langit sebelah barat setelah matahari tenggelam dan di sebelah timur sebelum matahari terbit. Cahaya ini dapat ditemui di area luas yang gelap tanpa lampu penerangan. Cahaya zodiak ini ada sekitar 2-3 jam sebelum matahari terbit di sebelah timur. Sepintas, adanya fenomena cahaya ini sering kali mengelabui orang di malam hari karena seolah waktu fajar telah tiba. Penelitian yang membahas tentang fenomena cahaya zodiak ini masih sangat minim, dan fenomena inilah yang akhirnya dibidik oleh Brian May sebagai bahan riset disertasinya.

Cahaya zodiak disebabkan hamburan cahaya matahari oleh debu-debu antarplanet yang tersebar di bidang ekliptika yang tampak melintasi rangkaian zodiak di langit (rangkaian rasi bintang yang tampaknya dilalui matahari). Oleh karena itu, cahaya zodiak tampak menjulur ke atas seperti ekor srigala yang arahnya sesuai dengan arah ekliptika. Cahaya zodiak muncul sebelum waktu fajar, sebenarnya ketika malam.

Dalam literatur fikih Islam, cahaya zodiak dikenal dengan nama fajar kadzib yang berarti fajar palsu. Dahulu, sebelum ditemukannya jam, adanya cahaya zodiak ini cukup mengelabui umat Islam dalam menentukan waktu salat Subuh. Nabi Muhammad saw. sendiri mendeskripsikan fenomena cahaya zodiak ini dalam sebuah hadis, ”Fajar itu ada dua. Ada pun fajar yang seperti ekor serigala (yakni fajar kadzib yang arahnya tegak meninggi), maka saat itu tidak boleh salat (subuh) dan dibolehkan makan. Ada pun fajar yang bentuknya memanjang datar di ufuk (yakni fajar shodiq), maka saat itu dibolehkan salat (subuh) dan diharamkan makan (bagi yang berpuasa).”

Brian May menganalisis fenomena cahaya zodiak tersebut dengan menggunakan Spektrometer Fabry-Perot yang terletak di Observatorio del Teide di Izana, Tenerife, salah satu observatorium terbesar di Kepulauan Canary, Spanyol.

Selain merampungkan disertasinya tentang cahaya zodiak, Brian May pun telah merampungkan dua karya ilmiahnya yang berjudul ”Emission in the Night-Sky Spectrum”  dan ” An Investigation of the Motion of Zodiacal Dust Particles (Part I)”.

Pada tahun 2006, Brian May menerbitkan buku berjudul Bang! – The Complete History of the Universe, yang juga membahas berbagai fenomena astronomi. Ia pun diangkat sebagai rektor di Universitas John Moores Liverpool pada tahun 2007. Kesibukannya dalam dunia penelitian  dan akademik memang telah menurunkan porsi aktivitasnya di dunia musik.

Sebagai penghormatan atas karya-karya ilmiahnya, astronom  Sir Patrick Moore memberi nama sebuah asteroid dengan kode ”52665 Brianmay”. Sir Patrick Moore adalah ilmuwan senior yang usianya jauh di atas Brian May. Namun, Moore menghormati Brian May atas karya ilmiahnya.

Prestasi gemilang Brian May di dunia musik  dan dunia akademik mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda saat ini.***

Muhammad Aldhira, penggemar astronomi, mahasiswa S-1 Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran.

PR- Kamis, 18 Februari 2010
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s