Buaya Purba Ditemukan di Sahara


GURUN  Sahara mungkin tidak seterkenal Pulau Bali. Namun paling tidak orang pernah mendengar, atau mengetahuinya lewat media cetak atau media elektronik. Sahara memang sebuah gurun terbesar di dunia. Terletak di Afrika Utara memiliki luas 9 juta hektare, menguasai hampir 33 persen dari luas benua hitam itu. Udaranya sangat kering, dengan tingkat curah hujan hanya  2,5 cm per tahun. Berada di sebelah utara benua ini, dengan panjang areal merentang dari barat hingga ke timur (Mesir) sepanjang 5.150 km.

Tahun 2000, Prof. Paul Sereno, ahli paleontologi dari Universitas Chicago, AS, tertarik untuk mengadakan penelusuran Gurun Sahara. Dengan dipandu oleh penduduk lokal, tim dari Universitas Chicago itu mulai mengadakan survei.

Dalam perjalanan investigasi itu, mereka mengumpulkan  fosil buaya. Sereno dan timnya sempat mengalami suhu yang amat tinggi hingga 125o F ( derajat Fahrenheit ). Selama berbulan-bulan penjelajahan, mereka mengalami dehidrasi makanan. Untuk mengatasi kesulitan di lapangan, sejak tahun 2004 perbekalan ekspedisi mereka ditingkatkan, dan dilengkapi peralatan tenda, lima ton semen, 600 pon air untuk enam bulan pencarian. Semua  perjalanan investigasi Tim Sereno itu didanai oleh National Geographic Society dan Whitten-Newman Foundation.

Pada akhirnya, upaya tim penelusuran itu tidak sia-sia. Satu demi satu jejak fosil dan tulang belulang mahluk misterius itu ditemukan. Ternyata setelah direkontruksi, fosil-fosil yang diperkirakan sudah berumur 100 juta tahun  tersebut  adalah seekor buaya purba yang belum tercatat dalam ”Kingdom” keturunan crocodile.

Semua penemuan itu, rincian detailnya diterbitkan dalam majalah Journal Science, suatu majalah kumpulan penelitian dari seluruh dunia. Penyiarannya diterbitkan dalam cetakan bulan Desember 2009. Selain dalam Journal Science, juga diterbitkan  dalam National Geographic. Karena tidak masuk dalam catatan ”Kingdom” crocodile, para ahli sepakat untuk memasukkan hewan purba ini dalam spesies tersendiri disesuaikan dengan bentuk tubuh dari spesies-spesies lain.

Nama yang diberikan kepada ”moyang” crocodile itu antara lain Bear Croc: New Spesies, Kaprosuchus saharicus, fosil yang ditemukan di Niger. Memiliki panjang tubuh dua puluh meter.  Pemakan daging, berjalan tegak, dengan moncong lapis baja untuk serudukan, dan tiga set taring berbentuk belati untuk mengiris. Kerabat terdekat yang ditemukan di Madagaskar. Rat Croc: New Species, Arar ipesuchus rattoides; fosilnya ditemukan di Maroko. Tiga kaki lama, berjalan tegak, pemakan tumbuhan dan grub. Sepasang buckteeth di rahang bawah yang digunakan untuk menggali makanan.

Pancake Croc: New Species, Laganosuchus thaumastos; fosil yang ditemukan di Niger dan Maroko. Dua-kaki belakang  juga panjang, berjalan agak jongkok. Pemakan ikan, dengan kaki tiga menekuk, flat kepala. Spike berbentuk ramping, gigi di rahang. Kemungkinan beristirahat bergerak selama berjam-jam, rahangnya terbuka dan menunggu mangsa. Saudara dekatnya ditemukan oleh tim di Maroko, Laganosuchus maghrebensis.

DuckCroc: DuckCroc: New Fossil yang sebelumnya bernama spesies, Anatosuchus kecil. Fosil ditemukan di Niger. Tiga kaki tegak panjang bersisik seperti ikan, pemakan katak dan kepiting. Lebar, moncong dan menggantung seperti hidung Pinokio. Khusus daerah sensorik di ujung moncong, memungkinkannya untuk bertualang di sekitar pantai dan di perairan dangkal untuk mencari mangsanya. Kerabat terdekatnya ditemukan di Madagaskar.

DogCroc: New Fossil bernama spesies Araripesuchus wegeneri. Fosilnya ditemukan di Niger mencakup lima kerangka, semua berdampingan pada satu blok batu. Tiga kaki tegak panjang pemakan tumbuhan dan serangga, hidung menyerupai moncong anjing menunjuk ke depan. Pergerakannya gesit  juga perenang yang hebat. Kerabat terdekatnya ditemukan di Argentina.

Sifat yang menonjol dari moyang buaya hasil penelitian ini, selain berjalannya tegak ia juga mampu hidup di dua alam yaitu di darat dan di air. Dalam keadaan mengejar mangsa, moyang buaya ini bisa berlari hingga kecepatan maksimum 60 km/jam. Hal ini didukung tubuh dan kaki belakang yang panjang dan  kokoh serta kuat.  Dalam penemuan di Sahara, di samping ditemukan tulang belulang dari dinosaurus dan T-Rex, juga sejenis burung purba.

Menurut ahli geologi Hans Larsson, Associate Professor di McGill University, Montreal, salah seorang anggota tim investigasi, ketika bumi masih digenangi air dan mulai menyusut,Gurun Sahara itu merupakan rawa yang mahaluas. Hal ini terlihat dari banyaknya fosil makhluk air, yang salah satunya adalah buaya purba. ***

Dedi Riskomar, wartawan senior.

PR – Kamis, 21 Januari 2010
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s