Cuaca Ekstrem Penyebab Banjir


Sering kita mendengar istilah cuaca buruk dari berita yang disiarkan di media massa. Entah dari mana asal padanan kata ”cuaca buruk” ini, tetapi penggunaannya telah menyebar luas di kalangan masyarakat. Padahal, penyebutan ”cuaca buruk” ini tidak sepenuhnya benar. Sebab, definisi ilmiah mengenai cuaca buruk (bad weather) sebetulnya tidak ada. Yang mirip dengan penyebutan cuaca buruk yaitu cuaca dahsyat, keras, berbahaya (severe weather).

Cuaca dahsyat ini mengacu pada fenomena cuaca yang berbahaya dan bersifat merusak serta dapat menimbulkan korban. Bentuk cuaca dahsyat ini berbeda-beda tergantung lintang wilayah, ketinggian, topografi, dan tentu saja kondisi atmosfer setempat. Contoh cuaca dahsyat adalah: badai guruh (thunderstorm), angin topan (hurricanes), siklon tropis (tropical cyclone) badai salju, badai pasir, badai es, angin puting beliung (tornadoes), hujan deras, dan sebagainya.

Cuaca dahsyat seringkali rancu dengan istilah cuaca ekstrem. Itu karena kedua hal tersebut memiliki definisi yang berbeda. Cuaca ekstrem adalah fenomena cuaca yang tidak biasa atau tidak umum terjadi di suatu wilayah. Ketidakbiasaan atau ketidakumuman tersebut digolongkan atau diukur dari keadaan cuaca rata-rata yang terjadi di sana.

Misalnya, apabila suhu maksimum rata-rata di suatu wilayah pada bulan Maret pada siang hari adalah 33 derajat Celsius, dan suatu saat suhu di siang hari pada bulan Maret di wilayah tersebut adalah 35 derajat Celsius, fenomena cuaca ini dapat digolongkan sebagai cuaca ekstrem. Contoh lain, apabila di Kota Bandung suatu saat terjadi hujan es atau salju, fenomena ini juga disebut sebagai cuaca ekstrem meskipun hujan tersebut tidak menimbulkan kerusakan apa pun.

Pada prinsipnya, ada empat macam cuaca ekstrem yang diukur dari parameter meteorologi berupa suhu dan curah hujan. Empat cuaca ekstrem tersebut yakni ekstrem panas, ekstrem dingin, ekstrem kering, dan ekstrem basah.

Ekstrem basah dan banjir

Bayong Tjasyono dalam ”Meteorologi Indonesia 2” membuat skema hubungan logis antara cuaca ekstrem dan terjadinya banjir. Ia menjelaskan bahwa fenomena cuaca ekstrem basah di suatu tempat pada suatu waktu akan menciptakan daerah konvergensi, atau disebut dengan sel tekanan rendah. Sel tekanan rendah ini, jika terjadi dalam waktu berhari-hari atau bahkan hingga berminggu-minggu maka akan menyebabkan anomali unsur iklim. Artinya, terjadi penyimpangan terhadap unsur-unsur iklim (dibandingkan dengan kondisi rata-ratanya) seperti curah hujan, suhu, kelembapan, dan sebagainya.

Anomali unsur iklim yang dihasilkan oleh cuaca ekstrem basah adalah, kelembapan udara menjadi tinggi karena penguapan yang terjadi di wilayah tersebut meningkat tajam. Hal ini mengakibatkan jumlah uap air di atmosfer menjadi besar sehingga pembentukan awan pun meningkat pesat. Karena banyak terdapat awan, penyinaran matahari pun terhalang, sehingga biasanya dalam kondisi ini, durasi penyinaran matahari menjadi pendek atau singkat. Akibatnya, curah hujan yang turun di wilayah tersebut pun berlebihan atau mangalami surplus.

Berdasarkan sejumlah peristiwa banjir dan tanah longsor yang terjadi di Indonesia, faktor meteorologis ternyata menjadi penyebab utama. Faktor meteorologis tersebut berkaitan dengan intensitas (jumlah atau volume), distribusi (sebaran), dan durasi (lama atau singkatnya), serta frekuensi (sering atau jarang) curah hujan. Faktor penyebab lainnya tentu berkaitan dengan sifat-sifat fisis permukaan tanah dalam menyerap air hujan, kontur atau topografi, serta drainase.***

Erma Yulihastin, peneliti sains atmosfer pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, Lapan Bandung.

PR – Kamis, 01 April 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s