Memanen Air Hujan untuk Menyelamatkan Air Tanah


RUMAH yang didesain untuk menampung air hujan yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.* DUDISUGANDI/”PR”

Air merupakan salah satu dari kebutuhan primer masyarakat. Kebutuhan akan air bersih masyarakat Bandung umumnya disuplai oleh PDAM. Namun hingga saat ini, tidak seluruh masyarakat Kota Bandung memperoleh air bersih dari PDAM sehingga untuk mendapatkan air bersih diperoleh dari air tanah. Pemanfaatan air tanah untuk kebutuhan sehari – hari bagi  keperluan rumah tangga merupakan hal yang wajar dan aman karena air tanah akan terisi kembali pada saat musim hujan.

Namun akan menjadi berbahaya jika terjadi eksploitasi berlebihan terhadap air tanah. Eksploitasi air tanah ini terjadi karena terlalu banyak pihak yang menggunakan air tanah seperti perumahan-perumahan yang tidak berlangganan PDAM dan industri-industri kecil maupun besar yang membutuhkan banyak air setiap harinya. Kedua penyebab tersebut, semakin hari jumlahnya semakin banyak di Kota Bandung ini.

Parahnya lagi, pada saat musim hujan yang seharusnya merupakan saat di mana tanah menyerap air, tidak dapat dilakukan secara maksimal. Hal ini disebabkan daerah-daerah yang dapat menyerap air ke dalam tanah semakin hari semakin berkurang. Pesatnya pembangunan perkotaan telah menggantikan areal persawahan menjadi perumahan, mengubah lahan-lahan kosong yang ditumbuhi tanaman menjadi rimba beton dan aspal.

Saat terjadi hujan, air menjadi tertahan di permukaan tanah oleh beton jalan raya dll.,  hanya sedikit yang dapat terserap tanah (infiltrasi), sisanya menjadi air limpasan atau jika dalam jumlah yang cukup banyak mengakibatkan banjir. Namun, tentu saja pertumbuhan perkotaan merupakan hal yang positif, dengan syarat tetap memperhatikan dampak terhadap lingkungan

Eksploitasi air tanah dapat menyebabkan tanah menjadi ambles (land subsidence). Selain itu, juga akan menyebabkan kesulitan air bersih karena air tanah tersebut semakin sulit diperoleh, bahkan seperti dikutip dalam Pikiran-rakyat, Bandung akan kekurangan air pada 2013. Di daerah Bandung ini sudah berada beberapa daerah yang merupakan daerah krisis air. Pada musim kemarau di beberapa daerah di Bandung  dapat dijumpai sumur-sumur warga yang mengering sehingga untuk menutupi kebutuhan air bersih, warga harus membeli air dalam jeriken dan tentu saja ini akan menambah biaya kebutuhan sehari-hari. Apabila eksploitasi air tanah berlanjut  tanpa ada rem, krisis air tampaknya akan menjadi kenyataan.
Pemerintah Kota Bandung sebenarnya telah mengetahui kondisi ini dan telah melakukan tindakan-tindakan preventif seperti program penanaman pohon, pembangunan sumur resapan, dan regulasi mengenai penggunaan air tanah. Terlepas dari usaha yang dilakukan pemerintah, terdapat satu potensi lain yang dapat memberikan air bersih, yaitu hujan.

Air hujan yang ditangkap kemudian ditampung (rain water harvesting) dapat dimanfaatkan oleh rumah tangga untuk kebutuhan sehari-hari dengan beberapa perlakuan apabila dibutuhkan, atau digunakan industri kecil seperti usaha pencucian motor dan mobil, usaha laundry, dll. Dengan disubtitusi oleh air hujan, eksploitasi air tanah dapat direduksi, tidak hanya itu air hujan yang sudah tidak tertampung dalam penampungan (reservoir) dapat dimasukkan ke dalam tanah dengan menggunakan sumur resapan sehingga dapat menambah persediaan air tanah. Jika tempat penampungan memiliki kapasitas yang besar, air tersebut dapat dimanfaatkan hingga musim kemarau.

Pemanenan air hujan (rain water harvesting) merupakan suatu cara sederhana.  Butiran air hujan yang jatuh ditangkap oleh penangkap air hujan, penangkap air hujan yang digunakan biasanya adalah atap bangunan karena selain efektif juga efisien. Semakin luas atap bangunan, semakin banyak juga air hujan yang dapat ditangkap, kemudian air hujan tersebut dialirkan oleh talang-talang air ataupun pipa-pipa menuju ke tempat penampungan, tempat penampungan biasanya berada dalam tanah karena apabila terisi air bobotnya akan sangat berat.

Teknologinya cukup sederhana, tetapi dapat memberikan manfaat nyata. Bahkan dapat dibuat oleh orang yang awam sekalipun, karena proses pembuatannya lebih banyak menggunakan pekerjaan pertukangan. Terlebih lagi kesadaran masyarakat akan air lebih diperlukan daripada penguasaan teoretis secara mendalam metode ini. Namun, apabila pembuatannya disertai dengan perhitungan yang cermat dalam penentuan kapasitas penampung, curah hujan, perpipaan, dll., tentu akan memberikan hasil yang lebih baik.

Cara ini bisa dilakukan di mana saja. Adapun tempat yang baik untuk mengaplikasikan cara ini adalah pada bangunan berukuran cukup besar ataupun sarana umum seperti masjid, gedung serbaguna, gedung olah raga, dll. Salah satu contoh tempat yang telah mengaplikasikan metode ini adalah Bandara Frankfurt di Jerman. Kebutuhan air di bandara ini dipasok dari air hujan yang ditangkap dari atap bandara tersebut kemudian ditampung dalam suatu wadah penampung berukuran besar.

Di Jepang, masyarakatnya begitu menghargai air, pemanenan air hujan sudah banyak dilakukan di gedung-gedung perkantoran untuk dimanfaatkan guna mencuci mobil, menyiram kebun, dll.  Bahkan, sebuah LSM lingkungan mendesain penampung air di atap gelanggang olah raga sumo yang luasnya mencapai 8.400 m2.

Di Indonesia, pemanenan air hujan masih jarang digunakan. Mengingat ketersedian air saat ini bukan merupakan masalah yang paling mendesak, meskipun tanda-tanda krisis air sudah mulai tampak. Dengan menerapkan pemanenan air hujan, sedikitnya ada dua manfaat bisa didapat.

Pertama,  penghematan biaya. Memang pada saat ini harga  air bersih tidak semahal harga BBM. Namun, apabila dapat berhemat dari pengeluaran untuk air bersih, mengapa tidak. Khusunya di daerah yang biasanya harus membeli air dalam jeriken, juga untuk industri-industri kecil seperti usaha pencucian mobil dan motor serta usaha laundry yang setiap harinya banyak membutuhkan air.

Kedua, manfaat untuk lingkungan kita. Pemanenan air hujan dapat mengurangi pemakain dari air tanah. Selama musim hujan, air sangat melimpah sehingga dapat digunakan langsung ataupun dengan diberikan perlakuan terlebih dahulu jika diperlukan, selebihnya air hujan tersebut ditampung dalam sebuah bak penampungan agar dapat digunakan pada musim kering.

Meskipun kebutuhan air pada musim kering tidak dapat dipenuhi seluruhnya dari air hasil penampungan tersebut, tetapi akan sangat berpengaruh terhadap pengurangan penggunaan air tanah. Kembali pada ssat musim hujan, jika bak penampungan telah terisi penuh, air hujan yang telah dipanen dapat disalurkan pada sumur resapan. Sumur resapan ini dapat mengisi kembali air tanah, juga untuk menghindari banjir yang disebabkan air tidak dapat meresap ke dalam tanah.

Jika kita bersikap baik terhadap lingkungan, mungkin lingkungan juga akan bersikap baik terhadap kita, lagi pula sebaiknya tidak menunggu bencana datang terlebih dahulu jika tindakan antisipasi dapat mulai dilakukan.***

Andri H.K., mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Unpad.

PR – Kamis, 07 Januari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s