NASA Luncurkan Teleskop Inframerah


Untuk Memindai Seluruh Benda di Luar Angkasa

SENIN (14/12), Badan Antariksa AS ( NASA ) meluncurkan teleskop baru ke luar angkasa. Teleskop yang dilengkapi dengan piranti  sinar inframerah, digunakan untuk memindai kosmos, dan benda luar angkasa yang belum ditemukan, seperti asteroid dan komet yang mungkin mengancam Bumi.  Kamera inframerah digunakan untuk mendeteksi cahaya dan benda yang memancarkan panas.

Peluncuran dilaksanakan sekitar pukul 9. 09 waktu setempat,  menggunakan roket Delta II dari Vandenberg Air Force Base di California. Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE) yang tak berawak itu akan menghabiskan masa orbit sembilan bulan di luar angkasa, dengan jarak 326 mil di atas bumi. Pengerjaan berupa pemetaan alam semesta, seluruhnya menggunakan cahaya inframerah. Gerakan lensa yang dipandu dari bumi  akan menjejak seluruh permukaan langit 1 fi kali lipat,  dan melakukan pemotretan setiap 11 detik.

“Terakhir kali kami memetakan seluruh langit. panjang gelombang inframerah yang digunakan adalah masa 26 tahun yang lalu,” kata Edward “Ned” Wright dari UCLA, kepala peneliti  misi tersebut. Ia merujuk pada WISE pendahulu, Infrared Astronomical Satellite, yang diluncurkan pada 1983 dan berhasil menemukan enam komet. “Teknologi Inframerah sebenarnya bukan hal baru, hal ini telah diketahui jauh sebelum digunakan dalam teleskop. Semua-langit  dalam foto-foto hasil jepretan kamera inframerah itu indah sekali, seperti impresionis lukisan  sekarang. Dengan teleskop baru itu, kita akan memiliki gambar gambar  yang terlihat lebih jelas.”

Diharapkan WISE dapat menemukan ratusan asteroid dan komet dengan orbit yang mendekati persimpangan jalannya orbit Bumi.  Melalui peengukuran  benda  dengan sinar inframerah, teleskop juga akan mampu membantu menentukan ukuran dan komposisi benda langit. Data yang diakses, dapat membantu para astronom mempelajari temuan tersebut dan seberapa sering benda benda langit itu mendekati bumi. Dengan demikian, diharapkan  akan mengetahui terjadi atau tidaknya benturan oleh  asteroid lainnya.

“Kami dapat membantu lebih awal melindungi Bumi kita, dengan mempelajari lebih lanjut tentang keragaman bahaya asteroid dan komet,” kata Amy Mainzer, deputi ilmuwan projek teleskop inframerah yang bernilai 320 juta dolar AS tersebut.

Misi penginderaan ini semuanya dikendalikan di NASA`s Jet Propulsion Laboratory di Pasadena, California. WISE juga akan mencari jejak bintang redup, ,yang dalam istilah perbintangan disebut “cokelat kerdil”. Dengan bantuan inframerah ini, jutaan galaksi yang jauh-jauh dan terlihat seolah olah terselubung debu juga akan dicoba untuk dipindai.

Data yang diambil oleh WISE, akan diuduh oleh transmisi radio ke seluruh dunia. Frekwensinya cukup ketat, yaitu empat kali per hari untuk komputer di bumi. Semua pancaran ini akan digabungkan, dalam satu sistem agar tidak tumpang tindih. Semua gambar direkam ke dalam sebuah atlas, yang mencakup seluruh falak, lengkap dengan daftar semua objek yang terdeteksi.

Sekitar 55 menit setelah peluncuran, pesawat ruang angkasa diperhitungkan akan mencapai orbit akhirnya. Dan satelit bersama teleskop, kemudian terpisah dari roket. Beberapa menit kemudian, para teknisi dapat mengambil sinyal dari WISE. Sebenarnya teleskop yang menggunakan sinar inframerah, bukan satu satunya milik NASA. Ada teleskop lain milik NASA yaitu Huble, yang menggunakan piranti biasa juga melayang di ruang angkasa.

Observatorium angkasa

Teleskop luar angkasa di jagad raya  yang  baru diluncurkan tersebut diberi nama Space Infrared Telescope Facility (SIRTF). Fasilitas Teleskop Inframerah Luar Angkasa itu adalah benar-benar  observatorium angkasa inframerah. Ini merupakan observatorium besar keempat dan terakhir milik NASA. Periode misi penginderaannya, direncanakan selama 2,5 tahun. Dengan perkiraan waktu prapeluncuran, misi tersebut dapat diperpanjang hingga lima tahun atau sedikit lebih lama hingga pasokan helium cair di dalamnya habis.

Teleskop lain yang menggunakan piranti canggih inframerah, yaitu milik pemerintah Spanyol yang dikelola oleh para astronom dan anggotanya. Hingga saat ini teleskop tersebut mungkin menjadi yang terbesar di dunia. Teleskop canggih ini, sudah diujicobakan penggunaannya sebelum resmi dioperasikan mulai tahun 2008. Teleskop bernama The Gran Telescopio Canarias yang ditempatkan di Pulau Canary, Spanyol ini disusun atas 36 bagian cermin yang secara keseluruhan berdiameter 10,4 meter. Peralatan canggih ini membantu peneropongan objek-objek langit lebih jauh. Dipasang oleh Institut Astrofisika Canary (IAC) untuk melengkapi fasilitas Observatorium Rogue de los Muchachos.

Teleskop tersebut diklaim, mampu mengamati objek langit  sangat jauh yang tak dapat ditangkap teleskop biasa. Teleskop ini juga mampu, menangkap sinyal cahaya yang sangat lemah. Selain itu, juga dapat dipakai untuk mempelajari planet-planet asing dan memburu lokasi lain yang  diduga memiliki kehidupan. “Ia akan mampu menangkap jejak kelahiran bintang-bintang, dan mempelajari secara lebih dalam karakteristik lubang hitam (black hole),  yang selama ini menjadi misteri alam yang belum terpecahkan. Termasuk menerjemahkan komponen-komponen kimia, yang dihasilkan saat terjadi BigBang,” tulis pernyataan yang dirilis IAC.

Big Bang suatu peristiwa alam, yang diduga merupakan ledakan besar saat alam semesta terbentuk pertama kalinya 13,7 miliar tahun lalu.Para astronom yang tergabung dalam organisasi IAC, akan menghabiskan waktu beberapa bulan untuk melakukan kalibrasi terhadap teleskop tersebut sebelum beroperasi penuh tahun 2010 mendatang. Biaya penelitian tentang astronomi ini,diperhitungkan senilai 140 juta dolar AS. Dananya telah disiapkan, khusus dengan memanfaatkan teleskop inframerah terbesar di dunia itu.Untuk ini pemerintah Meksiko, melalui Institut Astronomi di Universitas Otonomi Nasional (UNAM) dan AS melalui Universitas Florida telah menyanggupi sekitar 10 persen dari biaya yang dibutuhkan. Sementara sisanya, akan dibiayai pemerintah Spanyol dan pemerintah daerah Canary.

Dibandingkan dengan teleskop inframerah milik NASA, teleskop Canary memiliki keterbatasan dalam penjejakannya. Gas either yang menutupi bumi, dan awan  terkadang bisa jadi penghalang jarak pandang kendati menggunakan inframerah. Lain halnya bagi teleskop NASA,yang melayang jauh dari permukaan bumi bebas memindai angkasa karena tidak terhalang  apa pun. Bebas pandangan untuk penjejakan, hingga mampu melihat benda langit yang terjauh.

Teleskop Canary diberi nama dengan nama tokoh, untuk menghormati Lyman Spitzer salah satu ilmuan besar abad ke-20. Dialah yang pertama kali mengusulkan, penempatan satu teleskop besar di luar angkasa pada tahun 1946. Teleskop Spitzer yang bernilai 800 juta dolar AS ini ,diluncurkan dari Canaveral Air Force Station, dengan roket Delta II 7920H ELV, Senin, 25 Agustus 2003 jam 13:35:39 UTC-5 (EDT).[4] Ia mengikuti orbit yang agak ganjil, heliosentrik bukan orbit geosentrik, bergerak mengikuti dan menjauh dari orbit Bumi kira-kira 0,1 satuan astronomi per tahun (ini yang disebut orbit “mengikuti bumi”). Cermin utamanya berdiameter 85 cm, f/12 dan dibuat dari berilium serta didinginkan pada suhu 5,5 K. Satelit itu terdiri atas tiga instrumen yang memungkinkannya melakukan pencitraan astronomis dan fotometri dari tiga sampai 180 mikrometer, spektroskopi dari 5 sampai 40 mikrometer, dan spektrofotometri dari 5 sampai 100 mikrometer.***

Dedi Riskomar, wartawan senior.

PR –

Untuk Memindai Seluruh Benda di Luar Angkasa
NASA Luncurkan Teleskop Inframerah

SENIN (14/12), Badan Antariksa AS ( NASA ) meluncurkan teleskop baru ke luar angkasa. Teleskop yang dilengkapi dengan piranti  sinar inframerah, digunakan untuk memindai kosmos, dan benda luar angkasa yang belum ditemukan, seperti asteroid dan komet yang mungkin mengancam Bumi.  Kamera inframerah digunakan untuk mendeteksi cahaya dan benda yang memancarkan panas.

Peluncuran dilaksanakan sekitar pukul 9. 09 waktu setempat,  menggunakan roket Delta II dari Vandenberg Air Force Base di California. Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE) yang tak berawak itu akan menghabiskan masa orbit sembilan bulan di luar angkasa, dengan jarak 326 mil di atas bumi. Pengerjaan berupa pemetaan alam semesta, seluruhnya menggunakan cahaya inframerah. Gerakan lensa yang dipandu dari bumi  akan menjejak seluruh permukaan langit 1 fi kali lipat,  dan melakukan pemotretan setiap 11 detik.

“Terakhir kali kami memetakan seluruh langit. panjang gelombang inframerah yang digunakan adalah masa 26 tahun yang lalu,” kata Edward “Ned” Wright dari UCLA, kepala peneliti  misi tersebut. Ia merujuk pada WISE pendahulu, Infrared Astronomical Satellite, yang diluncurkan pada 1983 dan berhasil menemukan enam komet. “Teknologi Inframerah sebenarnya bukan hal baru, hal ini telah diketahui jauh sebelum digunakan dalam teleskop. Semua-langit  dalam foto-foto hasil jepretan kamera inframerah itu indah sekali, seperti impresionis lukisan  sekarang. Dengan teleskop baru itu, kita akan memiliki gambar gambar  yang terlihat lebih jelas.”

Diharapkan WISE dapat menemukan ratusan asteroid dan komet dengan orbit yang mendekati persimpangan jalannya orbit Bumi.  Melalui peengukuran  benda  dengan sinar inframerah, teleskop juga akan mampu membantu menentukan ukuran dan komposisi benda langit. Data yang diakses, dapat membantu para astronom mempelajari temuan tersebut dan seberapa sering benda benda langit itu mendekati bumi. Dengan demikian, diharapkan  akan mengetahui terjadi atau tidaknya benturan oleh  asteroid lainnya.

“Kami dapat membantu lebih awal melindungi Bumi kita, dengan mempelajari lebih lanjut tentang keragaman bahaya asteroid dan komet,” kata Amy Mainzer, deputi ilmuwan projek teleskop inframerah yang bernilai 320 juta dolar AS tersebut.

Misi penginderaan ini semuanya dikendalikan di NASA`s Jet Propulsion Laboratory di Pasadena, California. WISE juga akan mencari jejak bintang redup, ,yang dalam istilah perbintangan disebut “cokelat kerdil”. Dengan bantuan inframerah ini, jutaan galaksi yang jauh-jauh dan terlihat seolah olah terselubung debu juga akan dicoba untuk dipindai.

Data yang diambil oleh WISE, akan diuduh oleh transmisi radio ke seluruh dunia. Frekwensinya cukup ketat, yaitu empat kali per hari untuk komputer di bumi. Semua pancaran ini akan digabungkan, dalam satu sistem agar tidak tumpang tindih. Semua gambar direkam ke dalam sebuah atlas, yang mencakup seluruh falak, lengkap dengan daftar semua objek yang terdeteksi.

Sekitar 55 menit setelah peluncuran, pesawat ruang angkasa diperhitungkan akan mencapai orbit akhirnya. Dan satelit bersama teleskop, kemudian terpisah dari roket. Beberapa menit kemudian, para teknisi dapat mengambil sinyal dari WISE. Sebenarnya teleskop yang menggunakan sinar inframerah, bukan satu satunya milik NASA. Ada teleskop lain milik NASA yaitu Huble, yang menggunakan piranti biasa juga melayang di ruang angkasa.

Observatorium angkasa

Teleskop luar angkasa di jagad raya  yang  baru diluncurkan tersebut diberi nama Space Infrared Telescope Facility (SIRTF). Fasilitas Teleskop Inframerah Luar Angkasa itu adalah benar-benar  observatorium angkasa inframerah. Ini merupakan observatorium besar keempat dan terakhir milik NASA. Periode misi penginderaannya, direncanakan selama 2,5 tahun. Dengan perkiraan waktu prapeluncuran, misi tersebut dapat diperpanjang hingga lima tahun atau sedikit lebih lama hingga pasokan helium cair di dalamnya habis.

Teleskop lain yang menggunakan piranti canggih inframerah, yaitu milik pemerintah Spanyol yang dikelola oleh para astronom dan anggotanya. Hingga saat ini teleskop tersebut mungkin menjadi yang terbesar di dunia. Teleskop canggih ini, sudah diujicobakan penggunaannya sebelum resmi dioperasikan mulai tahun 2008. Teleskop bernama The Gran Telescopio Canarias yang ditempatkan di Pulau Canary, Spanyol ini disusun atas 36 bagian cermin yang secara keseluruhan berdiameter 10,4 meter. Peralatan canggih ini membantu peneropongan objek-objek langit lebih jauh. Dipasang oleh Institut Astrofisika Canary (IAC) untuk melengkapi fasilitas Observatorium Rogue de los Muchachos.

Teleskop tersebut diklaim, mampu mengamati objek langit  sangat jauh yang tak dapat ditangkap teleskop biasa. Teleskop ini juga mampu, menangkap sinyal cahaya yang sangat lemah. Selain itu, juga dapat dipakai untuk mempelajari planet-planet asing dan memburu lokasi lain yang  diduga memiliki kehidupan. “Ia akan mampu menangkap jejak kelahiran bintang-bintang, dan mempelajari secara lebih dalam karakteristik lubang hitam (black hole),  yang selama ini menjadi misteri alam yang belum terpecahkan. Termasuk menerjemahkan komponen-komponen kimia, yang dihasilkan saat terjadi BigBang,” tulis pernyataan yang dirilis IAC.

Big Bang suatu peristiwa alam, yang diduga merupakan ledakan besar saat alam semesta terbentuk pertama kalinya 13,7 miliar tahun lalu.Para astronom yang tergabung dalam organisasi IAC, akan menghabiskan waktu beberapa bulan untuk melakukan kalibrasi terhadap teleskop tersebut sebelum beroperasi penuh tahun 2010 mendatang. Biaya penelitian tentang astronomi ini,diperhitungkan senilai 140 juta dolar AS. Dananya telah disiapkan, khusus dengan memanfaatkan teleskop inframerah terbesar di dunia itu.Untuk ini pemerintah Meksiko, melalui Institut Astronomi di Universitas Otonomi Nasional (UNAM) dan AS melalui Universitas Florida telah menyanggupi sekitar 10 persen dari biaya yang dibutuhkan. Sementara sisanya, akan dibiayai pemerintah Spanyol dan pemerintah daerah Canary.

Dibandingkan dengan teleskop inframerah milik NASA, teleskop Canary memiliki keterbatasan dalam penjejakannya. Gas either yang menutupi bumi, dan awan  terkadang bisa jadi penghalang jarak pandang kendati menggunakan inframerah. Lain halnya bagi teleskop NASA,yang melayang jauh dari permukaan bumi bebas memindai angkasa karena tidak terhalang  apa pun. Bebas pandangan untuk penjejakan, hingga mampu melihat benda langit yang terjauh.

Teleskop Canary diberi nama dengan nama tokoh, untuk menghormati Lyman Spitzer salah satu ilmuan besar abad ke-20. Dialah yang pertama kali mengusulkan, penempatan satu teleskop besar di luar angkasa pada tahun 1946. Teleskop Spitzer yang bernilai 800 juta dolar AS ini ,diluncurkan dari Canaveral Air Force Station, dengan roket Delta II 7920H ELV, Senin, 25 Agustus 2003 jam 13:35:39 UTC-5 (EDT).[4] Ia mengikuti orbit yang agak ganjil, heliosentrik bukan orbit geosentrik, bergerak mengikuti dan menjauh dari orbit Bumi kira-kira 0,1 satuan astronomi per tahun (ini yang disebut orbit “mengikuti bumi”). Cermin utamanya berdiameter 85 cm, f/12 dan dibuat dari berilium serta didinginkan pada suhu 5,5 K. Satelit itu terdiri atas tiga instrumen yang memungkinkannya melakukan pencitraan astronomis dan fotometri dari tiga sampai 180 mikrometer, spektroskopi dari 5 sampai 40 mikrometer, dan spektrofotometri dari 5 sampai 100 mikrometer.***

Dedi Riskomar, wartawan senior.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s