Rumah Modern Futuristik


Rumah Bambu Plester (Rumbater)

Seorang pekerja menyelesaikan pembangunan rumah bambu plester (rumbater), dinding rumbater dari ”palupuh” bambu tengah divernis (kiri). Dinding kemudian diplester adukan semen sehingga setelah jadi dinding akan terlihat seperti tembok (kanan).*

Bambu sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Berbagai barang bisa dibuat dari tanaman ini. Mulai dari peralatan rumah tangga, alat musik, hingga tempat tinggal atau rumah. Barang-barang yang terbuat dari bambu di antaranya, kipas, boboko, tampah, dan sejenisnya. Alat musik dari bambu antara lain angklung, calung, dan arumba. Bahkan bambu muda atau rebung cukup enak dijadikan penganan.

Rumah-rumah tradisional, khususnya di Jawa Barat, dibuat dari bambu, baik tiang maupun dinding dan lantainya. Saat ini bambu kembali menjadi tren untuk pembuatan bangunan. Dengan desain khusus, kini diciptakan rumah berbahan bambu tetapi penampilannya seperti rumah tembok.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puslitbangkim) mencoba membuat inovasi rumah dari bambu sejak tahun 2006. Purwito, salah seorang peneliti Puslitbangkim Bandung menjelaskan cara membuat rumah bambu yang berbeda sehingga selain tahan gempa dan murah, juga unik.

”Teknologinya sendiri diberi nama Rumah Bambu Plester (rumbater). Beda dengan teknologi rumah bambu tradisonal, dinding rumbater terbuat dari bambu tapi terlihat seperti tembok. Selama ini bambu dianggap rumah untuk orang miskin, sehingga semua orang diperkirakan bisa membangun rumbater. Bisa juga memakai injuk dan pasak, tapi sambungannya akan terlihat menonjol,” ujar Purwito menjelaskan.

Purwito mengatakan, jenis bambu yang dapat dipakai untuk konstruksi bangunan adalah bambu gombong (awi gombong), Bambu ater (awi temen), bambu tali (awi tali), bambu betung (awi bitung), bambu ampel (haur koneng), dan bambu hitam (awi hideung).

Konstruksi utama seperti kolom, rangka dinding, dan kuda-kuda terbuat dari bambu bulat sedangkan dinding penutup dari bahan bambu yang dibuat menjadi bilik atau anyaman dengan ukuran yang disesuaikan dengan desain rumah. Rumbater menggunakan penutup dinding dari bambu palupuh (bambu yang dibelah kecil-kecil memanjang) yang dapat dibuat secara manual atau dengan mesin.

Bahan untuk fondasi adalah fondasi umpak yang dapat dibuat dari batu kali atau pipa beton. Konstruksi rangka dinding dapat dibuat secara pabrikasi untuk pembangunan secara massal, tetapi dapat juga dibuat di lokasi pembangunan dalam bentuk tanpa dinding atau sudah dengan penutup dinding. Dinding penutupnya dapat dipersiapkan, bahkan lebih baik jika dibeli dari toko/perajin.

Pemasangan rangka dinding harus diikuti dengan pemasangan rangka atap sehingga kedudukan rangka secara keseluruhan menjadi kaku. Penutup rangka dinding dapat dibuat dari anyaman bambu atau palupuh.

Untuk sambungan berupa besi dilengkapi mur baut. Fungsinya sebagai komponen rangka dinding dengan balok atas, bawah dan kuda-kuda, sambungan rangka kuda-kuda, sambungan rangka kuda-kuda dengan rangka atap (gording), sambungan penutup atap dengan gording, sambungan penutup dinding dengan rangka dinding.

Pemasangan penutup dinding dilakukan setelah pemasangan rangka atap dan penutupnya selesai. Pemasangan dinding penutup dari palupuh ini dilakukan dengan cara palupuh dipakukan pada rangka dinding. Pemasangan sebaiknya tidak terlalu rapat untuk memudahkan pemlesteran dan saling berhubungannya adukan dari sisi luar dan sisi dalam.

Pada tiang/kolom sudut rangka dipasang kawat ayam untuk mengikat adukan dengan bambu serta mencegah penyusutan yang mengakibatkan adukan retak. Terakhir, plesteran pada dinding berbahan baku organik (kayu, bambu, atau rotan) dengan pelaburan menggunakan cat vernis.

”Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pengecatan vernis pada bambu akan meningkatkan kuat lekat antara adukan dengan bambu. Tebal plesteran disyaratkan tidak lebih dari 2 sentimeter. Oleh karena itu, posisi rangka dinding dan penutupnya harus rapi sehingga ketebalan plesteran rata,” ujar Purwito.

Secara keseluruhan, harga bangunan berkisar Rp 16.800.000 dengan luas 21 m2 atau Rp 800.000/m2 sudah termasuk biaya pengawetan dan upah kerja. Tentu lebih murah dibandingkan dengan biaya pembuatan rumah tembok. Tertarik mencoba?***

Hanifah Widyacastrena, mahasiswa Fikom Unpad.

PR – Kamis, 18 Maret 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s