Tarantula Penghasil Sutra


PARA peneliti bioteknologi Jerman, menemukan laba-laba raksasa yang dapat menghasilkan serat sutra. Laba laba yang berasal dari keluarga tarantula ini bisa mengeluarkan serat dari bagian kaki mereka serta spineretnya. Hal ini tentu saja sangat mengejutkan para peneliti, karena ini sebuah penemuan dengan implikasi yang luas untuk ekonomi skala besar. Menurut catatan tentang famili laba-laba, hingga sekarang tercatat sekitar 40.000 spesies berbagai jenis laba-laba di dunia yang telah diperkenalkan, dan digolongkan ke dalam 111 suku.

Akan tetapi, hewan ini begitu beragam. Banyak di antaranya yang bertubuh amat kecil dan seringkali tersembunyi di alam. Bahkan banyak spesimen di museum, yang belum terdeskripsi dengan baik. Diyakini para ahli, bahwa kemungkinan jenis laba-laba di dunia seluruhnya mencapai 200.000 spesies. Bentuknya ada yang kecil, hingga bertubuh besar (gigantis). Ordo laba-laba ini, dalam Kingdom utama terbagi atas tiga golongan besar pada ras subordo, yakni:

1.Mesothelae yang merupakan laba-laba primitif tak berbisa, dengan ruas-ruas tubuh yang nampak jelas, memperlihatkan hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan leluhurnya yakni artropoda beruas-ruas. 2.Mygalomorphae atau Orthognatha ialah kelompok laba-laba yang membuat liang persembunyian, dan juga yang membuat lubang jebakan di tanah. Banyak jenisnya yang bertubuh besar, seperti tarantula dan juga lancah maung. 3.Araneomorphae adalah kelompok laba-laba modern.

Kebanyakan laba-laba yang kita temui, termasuk ke dalam subordo ini, mengingat anggotanya terdiri dari 95 suku dan mencakup kurang lebih 94 persen dari jumlah spesies laba-laba. Taring dari kelompok ini, mengarah agak miring ke depan (dan bukan tegak seperti pada kelompok tarantula) dan digerakkan berlawanan arah seperti capit dalam menggigit mangsanya. Adam Summers, seorang asisten profesor UC Irvine ,bagian ekologi dan evolusi biologi, adalah di antara tim ilmuwan yang menemukan laba-laba penghasil serat sutra.

Ia menemukan species zebra tarantula, dari Costa Rika, Amerika latin bisa mengeluarkan serat sutra itu dari tempat yang tidak biasa.Tim menemukan “keanehan” bahwa laba laba ini mengeluarkan sutra justru dari lubang keran di kaki mereka. Hal ini memungkinkan tubuhnya, lebih melekat pada permukaan. Sampai saat ini, laba-laba hanya diketahui mengelurkan sutra dari spinnerets yang terletak di perut mereka. Menggunakan serat sutra untuk perlindungan dirinya, dari serangan musuh dan menebar jaring untuk menangkap mangsa.

Temuan ini diterbitkan dalam jurnal Nature edisi sekarang. “Jika kami menemukan bahwa laba-laba lain, selain tarantula ini memiliki kemampuan untuk mengeluarkan sutra dari kaki mereka, ini bisa mewakili perubahan besar dalam evolusi binatang laba laba. Penelitian tentang sutera Tarantula ini, dilakukan oleh gabungan para ahli bioteknologi dari Jerman, antara lain dengan kajian Stanislav Gorb, dari Institut Max Planck untuk Riset Logam di Jerman; Senta Niederegger dari Universitas Friedrich Schiller Jena di Jerman; Cheryl Hayashi dari UC Riverside; Walter Votsch dari Institut Max Planck untuk Biologi perkembangan di Jerman; dan Paulus Walther dari University of Ulm di Jerman.

Web yaitu membuat rumah laba-laba dengan menggunakan kelenjar sutra untuk mensintesis berbagai sutra filamen dengan sifat mekanik yang berbeda. Walaupun secara luas dipercaya bahwa kelenjar aciniform dianggap salah satu sutra seperti pabrik, belum ada bukti yang mengaitkan aciniform keras yang diturunkan dari protein dan sutra – sampai sekarang. Craig Vierra dan rekan menemukan bahwa kelenjar di aciniform tarantula pada species black widow memproduksi benang sutra yang tak dikenal sebelumnya.Ternyata di dalamnya ada extrudes protein yang cukup menonjol, unsur ini merupakan komponen dari berbagai jenis sutra.

**

MONITA dan rekan-rekannya, menggunakan spektroskopis massa untuk menganalisis kandungan protein dari dua jenis sutra.Hal ini digunakan untuk berbagai kasus dan telur, yang digunakan untuk membungkus mangsa. Dalam kedua jenis sutera itu, mereka menemukan serat protein yang tipis dengan struktur serupa sutra dikenal lain protein yang disebut “AcSp1”. Ketika mereka memeriksa tampilan protein baru yang disebut-AcSp1, mereka menemukan konsentrasi dalam kelenjar aciniform bahwa tingkat mRNA yang hadir 1000 kali lipat lebih tinggi, diban-dingkan dengan kelenjar lainnya.

Para peneliti mencatat temuan menarik ini karena serat sutra aciniform bisa diintegrasikan ke dalam beberapa jenis sutra. Para peneliti berencana untuk mencari ciri mekanisme aciniform sutra, dan menemukan serat tipis ini seperti serat ulat sutra. Suatu kasus telur konstituen, yang berasal dari kantung dan terbungkus serat sutra dari laba-laba black widow, latrodectus bintang sore oleh Keshav Vasanthavada, Hu Xiaoyi, Arnold M. Falick, Coby LaMattina, Anne M.F. Moore, Patrick R. Jones, Russell Yee, Ryan Reza, Tiffany Tuton, dan Craig A. Pixel, ternyata bisa menghasilkan serat yang lebih halus

Dari sejumlah keluarga laba-laba tarantula yang ada di dunia, ternyata species black widow dan zebra tarantula dari Kosta Rika memiliki, potensi untuk dikembangkan jadi penghasil serat sutera mendampingi silk worm. Laba laba jenis ini sebelum direkayasa genetika terkenal sebagai jenis yang berbahaya, karena bisanya bisa melumpuhkan manusia.Mengenai sutra yang berasal dari spineret ulat ini, seperti diketahui pertama kali ditemukan oleh Putri Le Zu permaisuri Kaisar pertama Cina, Ching Shi Huang Ti, kaisar pertama Cina daratan lebih dari seribu tahun. Selain ulat sutra, ada beberapa jenis ulat yang juga potensial sebagai penghasil sutra. Namun demikian menurut para ahli persutraan dunia, sampai sejauh ini sutra silk worm masih cukup baik seratnya.

Namun dari hasil penelitian para ahli biotek Jerman, ternyata serat sutra dari tarantula itu jauh lebih baik, kuat seperti baja dan lebih elastis daripada karet. Selain itu laba-laba sutra zebra tarantula ini, lebih mudah dalam upgrading rekayasa genetiknya. Serat sutra dari laba-laba, kelak akan menjadi bahan yang ideal, untuk berbagai keperluan industri medis dan aplikasi teknis. Oleh karena itu para peneliti dari berbagai disiplin ilmu, tertarik mempelajari lebih dalam kehidupan laba-laba raksasa untuk diarahkan sebagai penghasil sutera.

Suatu tim yang dipimpin oleh Thomas Scheibel dari Technical University of Munich kini telah membuat langkah terobosan yang tepat. Mereka melaporkan dalam jurnal Angewandte Chemie, bahwa interaksi antara hidrofilik (ramah air) dan lipofilik (bebas lemak) property, dari protein sutra yang memainkan peran penting dalam proses pemintalan. Pada dasarnya, pemintalan sutra laba-laba, mewakili perubahan fasa yang jadi solusi menjadikannya benang padat. Tetapi rincian persis dari proses ini, masih dalam penelitian yang lebih mendalam, untuk kemudian dijadikan bahan baku industri.

Serat sutra tersebut juga digunakan oleh pemiliknya, dalam menangkis serangan predator pengganggu. Namun uniknya, kandungan zat protein yang disemprotkan berbeda. Mereka menyemprotkan semacam zat yang terbuat dari protein pekat, ke arah musuhnya hingga melarikan diri. Sementara itu, tim Munich Jerman kini telah sukses menggunakan rekayasa genetika, untuk memproduksi salah satu dari protein sutra laba-laba dari laba-laba kebun Eropa (Araneus daidematus). ***

Dedi Riskomar, wartawan senior.

PR – Kamis, 04 Maret 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s