Ada yang Salah dengan Alat Musik Tarawangsa


Tarawangsa adalah alat musik gesek yang biasa dipakai untuk ritus ngaruwat atau ngaraksa yang berarti ungkapan rasa syukur kepada Tuhan pada saat panen tiba. Tarawangsa yang berasal dari Banten, Rancakalong (Sumedang), dan Cibalong, Tasikmalaya.* ACCU.ORG.JP

Ketika suatu tradisi mendapat perubahan, maka akan muncul reaksi pro dan kontra. Begitu pun jika perubahan terjadi pada alat musik tradisional Sunda, tarawangsa. Tarawangsa adalah alat musik gesek yang biasa dipakai untuk ritus ngaruwat atau ngaraksa yang berarti ungkapan rasa syukur kepada Tuhan pada saat panen tiba.

Tarawangsa yang berasal dari Banten, Rancakalong (Sumedang), dan Cibalong, Tasikmalaya, bentuk badan depannya berupa kotak memanjang serta bagian belakang cembung dengan terdapat lubang kecil. Lalu perubahan apa yang terjadi? Dadang Sudianda atau panggilan akrabnya Iyang, pemain sekaligus pembuat alat musik gesek membuat inovasi dengan mengubah tempat lubang kecil di bagian belakang menjadi di badan bagian depan, menipiskan cembung badan belakang, dan membuat tambal peyangga senar di badan depan.

Iyang tentu mempunyai alasan atas perubahan letak dan bentuk tarawangsa itu. Ia menjelaskan bahwa ada kesalahan konstruksi pada tarawangsa di antaranya sebagai alat gesek, konstruksi tarawangsa ternyata untuk alat petik, sehingga suara menjadi kecil. Kemudian suara yang muncul bukan suara asli yaitu akustik, sebab tidak ada ruang untuk pantulan suara. Sehingga tarawangsa memakai alat bantu mikrofon atau spull untuk mengeraskan suara.

“Saya menyadari bahwa alat musik tradisional Sunda konstruksi musiknya tidak sesuai dengan tata ruang. Itu karena ternyata orang Sunda tidak tahu mengenai konstruksi musik petik atau gesek,” ujarnya, Selasa (30/3).

Agar tarawangsa mengeluarkan suara akustik sebenarnya, Iyang membuat lubang di badan depan sehingga suara tidak langsung terbuang karena akan masuk ke dalam dan keluar dengan cara dipantulkan. Oleh sebab itu, kayu bagian belakang terbuat dari kayu keras sonokeling, sedangkan bagian depan terbuat dari kayu lunak yakni kayu kembang. Lubang berbentuk kujang sebagai tanda khas Jawa Barat.

Penyangga senar tarawangsa berada di dalam, maka tampak depan senar langsung masuk. Hal itu dapat merusak badan tarawangsa, yang biasanya akan terbuang. Untuk itu, Iyang membuat penyangga senar di badan depan seperti penyangga senar pada biola agar tarawangsa awet terpakai.

Iyang tetap menggunakan senar kawat kopling Vespa. Sebab jika memakai kawat biasa suara yang muncul menjadi berbeda dan tidak khas. Pada kawat kopling vespa terdapat lingkaran bekas ulir yang dapat memengaruhi suara. Penggesek pun Iyang masih memakai alat penggesek dari bulu kuda.

Tarawangsa memiliki dua senar, satu senar untuk gesek dan senar lainnya untuk petik. Namun, tidak menghasilkan suara yang bulat dan keras. Bahkan cenderung suara atas hingga bawah tidak rata. Untuk bagian senar Iyang tidak dapat mengubahnya karena terikat oleh sejarah.

“Tarawangsa adalah alat musik gesek yang terbuat dari kayu, berbeda dengan rebab yang dibuat dari kulit. Suara asli alat musik Sunda memang kecil. Yang penting asal bisa bunyi. Padahal itu salah, contoh lainnya suara kecapi cempreng karena tidak ada jalur-jalur suaranya,” kata Iyang yang kini tengah melanjutkan Studi Karawitan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung.

Kesalahan konstruksi memang dapat dimaklumi, melihat dari sejarahnya yakni orang yang bermain musik adalah petani. Bagi petani tidak perlu konstruksi yang penting alat tersebut menghasilkan bunyi dan bisa bermain musik. Berbeda dengan negara lain, seperti Jerman ketika terjadi revolusi industri mereka mempelajari konstruksi alat musik agar menghasilkan suara yang bulat dan harmoni. Hasilnya alat musik barat dapat dimainkan di mana saja dan segala arah.

“Seniman Sunda seharusnya mendapat pelajaran ketika bermain di Jerman. Setiap pemain memainkan alat musiknya di dalam ruangan tanpa alat bantu penegras suara. Saat itu, alat musik Sunda kewalahan karena melepaskan spull jadi suaranya tidak terdengar,” tuturnya.

Inovasi Iyang mendapat dukungan dan hujatan dari kalangan budaya Sunda. Pro karena inovasi itu baik untuk perbaikan pola pikir masyarakat Sunda di masa depan, sedangkan pihak yang menentang berpendapat bahwa hasil sejarah tidak dapat diubah dan beberapa di antaranya percaya arwah nenek moyang atau karuhun akan marah.

Meski alat musik tradisional Sunda mengandalkan dinamika alami, Iyang tetap bercita-cita untuk mengubah konstruksi alat musik tersebut. Itu karena ia ingin meluruskan sesuatu yang selama ini diyakini masyarakat Sunda. Ia juga berharap peneliti budaya Sunda tidak menghasilkan karya sebatas di atas meja. “Alangkah lebih baik jika peneliti tidak hanya meneliti kebudayaannya saja. Masyarakat perlu mendapat masukan konkret dari peneliti untuk mengembangkan budaya mereka,” tuturnya menambahkan.***

Hanifah Widyacastrena, mahasiswa Fikom Unpad.

PR – 15 April 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s