Burung Endemik Sulawesi Ditemukan di Jawa Barat


Jalak Tunggir Merah

BURUNG Jalak Tunggir Merah (Scissirostrum dubium) ditemukan di Desa Cicadas (Panaruban), Kabupaten Subang, Jawa Barat. burung tersebut diperkirakan telah ada di Panaruban sejak tahun 1990-an. Padahal burung eksotis tersebut merupakan spesies endemik Sulawesi yang diasumsikan tidak memiliki kemampuan untuk bermigrasi ke tempat lain.* Dok.Bicons

KEBERADAAN burung Jalak Tunggir Merah (Scissirostrum dubium) yang belum lama ini ditemukan di Desa Cicadas (Panaruban), Kabupaten Subang, Jawa Barat, merupakan suatu fenomena unik yang cukup menarik perhatian para peneliti. Pasalnya, burung eksotis tersebut merupakan spesies endemik Sulawesi yang hingga saat ini diasumsikan tidak memiliki kemampuan untuk bermigrasi ke tempat lain.

“Masih terlalu dini untuk menya-takan bahwa burung Jalak Tunggir Merah mempunyai kemampuan untuk migrasi karena hingga saat ini belum ada penelitiannya,” ucap Nadia Rahma Yusnita (24), koordinator Bird Conservation Society (Bicons) saat diwawancarai di salah satu kafe Jalan Dipatiukur Bandung, Selasa (25/5).

Di Jawa Barat, Jalak Tunggir Merah diketahui ada di daerah Panaruban, Kabupaten Subang. Keberadaannya pertama kali terdeteksi pada tahun 2005 oleh sekelompok mahasiswa jurusan biologi yang sedang melakukan penelitian ke tempat tersebut. Namun tanpa diduga, hingga saat ini jumlahnya berkembang pesat.

Di Pulau Sulawesi sendiri yang merupakan habitat aslinya, penelitian tentang spesies burung ini belum pernah dilakukan. “Namun, bagi pengamat burung di daerah lain seperti di Jawa Barat, tentunya ini menjadi objek penelitian yang cukup menarik. Mengingat yang namanya burung endemik itu daerah penyebarannya terbatas. Pada kenyataannya, saat ini mereka malah berkembang biak dengan pesat,” ujar Nadia.

Tidak mudah untuk dapat menyaksikan keberadaan burung tersebut. Di Panaruban, terdapat setidaknya tujuh belas titik penyebaran yang terdeteksi sering dihinggapi oleh burung Jalak Tunggir Merah, yaitu di Abria (AB), Awi Lega (AW), Pasir Golosor (PG), dan Pasir Pentog (PP).

Sejauh pengamatan saat menyambangi lokasi penelitian, Sabtu (29/5), dibutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan dengan jarak tempuh sekitar lima kilometer hingga dapat tiba di bukit Pasir Pentog, salah satu tempat yang paling sering dikunjungi oleh burung Jalak Tunggir Merah. Untuk dapat tiba di lokasi pengamatan, peneliti harus melalui hutan sekunder dengan track yang cukup terjal dan berkelok.

Namun sayang, hingga akhir perjalanan ke wilayah Panaruban, tidak ada seekor pun burung Jalak Tunggir Merah yang kebetulan dapat terlihat. “Biasanya jam segini mereka bertengger di pohon itu,” kata Reno Febrianto (23) salah seorang tim peneliti dari Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Unpad, sambil menunjuk ke arah pohon sobsi yang memiliki tinggi sekitar delapan meter itu. “Tapi kedatangannya juga enggak bisa diprediksi secara pasti, tergantung kondisi cuaca dan arah angin,” katanya meneruskan.

Mudah beradaptasi

Hingga saat ini, asal mula adanya burung yang bersifat diurnal (mencari makan di siang hari) tersebut masih dipertanyakan. Pakar ornitologi, Dr. Ruhyat Partasasmita, M.Si., berasumsi bahwa keberadaan burung Jalak Tunggir Merah di daerah Panaruban, diprediksi telah ada sekitar dua puluh tahun yang lalu. “Jika dilihat dari laju perkembangan populasinya yang begitu cepat, saya memprediksi burung ini telah ada di Panaruban sejak tahun 1990-an,” ungkap peneliti burung yang telah menggeluti bidang tersebut selama lebih dari enam belas tahun.

Jalak Tunggir Merah diyakini sebagai burung yang memiliki kemampuan adaptasi cukup tinggi. Dalam habitatnya, burung tersebut biasa hidup dalam kelompok yang berjumlah tiga hingga lima ekor. Mereka pun suka membuat lubang sebagai sarang di pepohonan tua yang sudah mati. Sebagai pakan, Jalak Tunggir Merah biasa memakan serangga seperti kepik dan semut. Selain itu, mereka juga diketahui memakan tanaman liar seperti kipapatong, sobsi, dan buah-buahan berbiji.

Kemampuan adaptasi yang cukup tinggi ini dinilai berpotensi mengancam keberadaan spesies lokal. Ruhyat berasumsi, hingga sejauh ini burung Jalak Tunggir Merah terlihat kerap berkompetisi dengan burung Takur (Megalaima Sp.) dalam perebutan sarang. “Dia adaptif karena kebutuhan sarang dan makanannya dapat terpenuhi di sini. Kalau kebutuhannya terpenuhi, dia akan cepat berkembang. Ada asumsi dia bisa mengalahkan spesies burung lokal dalam hal pemenuhan kebutuhan hidupnya,” tuturnya.

Lebih lanjut Ruhyat memaparkan, untuk mendapat kepastian bahwa burung ini betul-betul endemik Sulawesi, selanjutnya ia akan segera mengecek DNA dari burung Jalak Tunggir Merah tersebut di laboratorium Universitas Atmadjaya, Yogyakarta. Menurut dia, hasil penelitian tersebut akan dapat dilihat akhir November 2010 . ***

Albiansyah, mahasiswa jurusan Jurnalistik, Fikom Unpad.

PR – Kamis, 10 Juni 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s