Jika Burung tidak Hidup di Habitatnya


KICAUAN serta keindahan bentuk dan warnanya menjadi daya tarik utama seekor burung. Hal itu sering kali membuat banyak orang terpukau dan ingin memilikinya sebagai hewan peliharaan.

Besarnya permintaan pasar pada akhirnya menjadi faktor utama yang mendorong manusia untuk terus berburu dan mengeksploitasi keberadaan unggas tersebut dari habitatnya. Tidak jarang, pada akhirnya burung-burung tersebut menjadi barang perdagangan antarpulau, bahkan antarnegara.

Sejauh pemantauan “PR”, Jalak Tunggir Merah banyak diperdagangkan di beberapa pasar burung yang ada di Kota Bandung. Di Pasar Burung Sukahaji misalnya, terdapat lebih dari lima puluh burung Jalak Tunggir Merah yang dijual dengan harga sekitar Rp 150.000 per ekor. Tidak menutup kemungkinan pula burung tersebut dapat terlepas dari sangkarnya.

Perdagangan burung antarpulau merupakan salah satu asumsi penyebab adanya burung Jalak Tunggir Merah di sekitar Panaruban. Asumsi lain mengatakan bahwa burung tersebut secara sengaja dilepaskan sebagai syarat ritual keagamaan yang kerap dilakukan umat Buddha di kawasan wisata Gunung Tangkubanparahu. Mereka biasa melakukan pelepasan burung dan binatang lainnya dengan keyakinan hal tersebut akan mendatangkan karma baik.

Namun, tampaknya sebagian dari masyarakat kita belum mengetahui bahwa kehadiran spesies burung lain di tempat yang bukan semestinya, berpotensi pada pergeseran spesies burung lokal. Terlebih lagi bila burung tersebut memiliki kemampuan adaptasi tinggi. Pergeseran tersebut dapat diakibatkan oleh adanya kompetisi, baik dari segi perebutan makanan maupun wilayah teritorial (tempat tinggal).

Kompetitor

Kehadiran burung Jalak Tunggir Merah di wilayah Panaruban sedikit atau banyak diprediksi telah mengancam keberadaan spesies burung lokal. Ruhyat mengatakan, hingga sejauh ini mereka terlihat menjadi kompetitor sarang bagi spesies burung Takur (Megalaima Sp.), karena ke-duanya sama-sama bersarang di pohon tua yang sudah mati.

Hal ini dinilai bukan suatu perkara sepele. Pasalnya, ketersediaan pohon mati di wilayah Panaruban sangat terbatas. Hal itu tidak diimbangi dengan jumlah burung yang kian bertambah. “Dugaan saya sejauh ini mereka berkompetisi pada sarang karena ketersediaan jumlah pohon mati di sini masih terbatas. Jadi yang sangat riskan, ia akan menggeser tempat-tempat potensial bagi spesies Megalaima. Kalau yang saya perhatikan, Megalaima selalu kabur ketika ada Jalak Tunggir Merah,” ungkapnya.

Lebih lanjut Ruhyat menjelaskan, dalam hal makanan, hingga sejauh ini belum terjadi persaingan yang signifikan karena ketersediaan distribusi makanan di Panaruban masih cukup banyak.

Hibrida

Walaupun dilihat dari urutan taksonominya berbeda, para peneliti kerap memergoki burung Jalak Tunggir Merah dan burung Perling (Aplonis minor) hidup bersama dalam satu kelompok. Adanya fenomena tersebut dikhawatirkan berbagai pihak akan menjadi masalah baru yang akan membuat geger dunia biologi.

“Itu yang saya khawatirkan. Kalau spesies itu selalu bersama dan tidak ada konflik, lama-lama bisa terjadi tidak adanya pembatas aktivitas reproduksi antara satu dan yang lain. Seharusnya peluang untuk bisa breeding itu kecil karena sejauh ini yang saya lihat masa birahinya masih berbeda,” tuturnya.

Selain itu, menurut Ruhyat, untuk memberikan klasifikasi taksonomi (penamaan ilmiah) pada spesies baru tidaklah mudah. Sebelumnya, peneliti harus melalui proses birokrasi akademis yang cukup sulit dan berbelit-belit.

Kekhawatiran serupa dirasakan oleh Nadia. Jika perkawinan antarspesies itu terjadi hingga menghasilkan spesies baru, ia menduga akan menjadi permasalahan baru akibat ketidakjelasan posisi taksonomi dari spesies yang kelak dihasilkan. “Selain itu yang ditakutkan, adanya spesies baru itu akan makin me-ngancam keberadaan spesies lain,” ucapnya.***

Albiansyah, mahasiswa jurusan Jurnalistik, Fikom Unpad.

PR – Kamis, 10 Juni 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s