Maurice Hilleman, Kreator 40 Jenis Vaksin


Hebohnya kembali “Vaccine War” di Amerika Serikat membuat banyak orang teringat akan sosok berjasa yang menciptakan empat puluh jenis vaksin, termasuk di dalamnya adalah vaksin MMR (measles, mumps, rubella). Dialah Maurice Hilleman, pria kelahiran 30 Agustus 1919 di Miles City, Montana, Amerika Serikat. Ayahnya bernama Robert Hilleman sedangkan ibunya bernama Edith (Matson) Hilleman.

Masa kecil yang dihabiskan di peternakan membuat Maurice Hilleman menjadi anak yang kuat. Kelak, sifat inilah yang menjadikannya ilmuwan yang tak kenal lelah. Peternakan juga merupakan laboratorium bagi Hilleman karena di peternakan ini dia belajar mengenai biologi dan penyakit, serta hidup dan mati. Dia memelihara ayam, sapi, dan menanam sayur-sayuran. Tak hanya itu, Hilleman juga membantu bisnis sampingan keluarga, yaitu memproduksi sapu dan juga menjual lobak.

Di tahun 1937, Hilleman lulus dari Sekolah Menengah Atas Custer County, kemudian dia bekerja di toko retail J.C. Penney. Untuk seorang anak peternakan miskin seperti Hilleman, bersekolah di perguruan tinggi hanyalah mimpi. Untunglah Hilleman mendapat beasiswa dari Universitas Montana dan lulus di tahun 1941.

Selepas dari Universitas Montana, Hilleman kemudian belajar di Universitas Chicago. Di sana dia mendapat gelar doktor dalam bidang mikrobiologi dan virologi. Disertasi doktoralnya (di tahun 1944) mengenai penyakit kelamin yang diakibatkan oleh Chlamydia ini mendapatkan penghargaan.

Dengan gelar doktornya, Hilleman tak lagi susah mendapatkan pekerjaan. Segera setelah mendapatkan gelar itu, Hilleman bekerja di New Brunswick, New Jersey pada perusahaan farmasi E.R. Squibb & Sons. Dia lebih memilih dunia industri dibandingkan dengan bidang akademik karena menurutnya, ilmuwan harus melayani masyarakat. Dalam waktu satu tahun, Hilleman mampu mengembangkan vaksin encephalitis Jepang yang banyak menginfeksi tentara-tentara Amerika Serikat yang bertugas di perairan Pasifik selama Perang Dunia ke II.

Di tahun 1948, Hilleman mulai be-kerja untuk Walter Reed Army Institute of Research di Washington DC. Di sana dia memimpin penelitian mengenai virus yang menginfeksi saluran pernapasan.

Semangat Hilleman dalam bekerja akhirnya membuahkan hasil. Dia mampu menemukan bahwa ternyata virus flu melakukan mutasi setiap tahun. Ada dua jenis perubahan yang terjadi dalam virus ini, yaitu drift dan shift.

Pada bulan April 1957, Hilleman membaca New York Times tentang flu yang menyebabkan pandemik di Hongkong. Flu ini sudah menyerang sekitar 250.000 orang. Pada saat itu, dia menyadari bahwa ternyata sebagian besar virus melakukan perubahan secara shift, yaitu tidak menyebabkan penderita flu imun terhadap virus flu yang termutasi, dan perubahan ini jugalah yang diyakini Hilleman sebagai penyebab kematian 20 juta orang akibat flu Spanyol dan melibatkan 600.000 rakyat Amerika Serikat tahun 1918. Atas dasar ini, Hilleman memprediksi virus baru dari flu bisa membunuh rakyat Amerika Serikat lebih dari satu juta orang.

Untuk mengecek teorinya ini, Hilleman menginstruksikan pasukan militer untuk mengecek tenggorokan para serdadu yang baru pulang dari Hongkong. Hal ini dilakukannya dalam upaya pengambilan sampel. Setelah itu, Hilleman dan para koleganya bekerja empat belas jam sehari untuk mengisolasi virus flu. Hilleman yakin virus flu Hongkong tersebut merupakan virus flu jenis baru.

Hasil penelitian Hilleman terhadap flu yang dibawa para serdadu menunjukkan bahwa darah meraka tidak mempunyai antibodi. Ini berarti bahwa hipotesis Hilleman benar adanya. Virus flu yang baru termutasi tidak bisa dilawan dengan antibodi yang dihasilkan tubuh saat terkena flu virus terdahulu. Setelah itu, Hilleman membuat sampel vaksin flu yang disebarnya ke berbagai pabrik produksi. Akhirnya, perusahaan Merck & Co. memproduksi vaksin temuan Hilleman dalam skala besar.

Di tahun 1960-an, Hilleman mengembangkan vaksin Mumps. Hal ini terinspirasi dari anaknya, Jeryl Lynn, ketika berusia lima tahun. Saat itu anaknya menderita sakit tenggorokan yang diakibatkan oleh bengkaknya bagian kelenjar ludah yang ada di leher. Hilleman menyadari bahwa itu adalah penyakit gondok (mumps) yang banyak menginfeksi anak-anak di Amerika Serikat lebih dari 200.000 anak tiap tahunnya.

Di tahun 1971, Hilleman membuat suatu terobosan vaksin 3 dalam 1, yaitu vaksin MMR atau measles, mumps, dan rubella. Dengan vaksin ini anak-anak hanya mendapat satu kali suntikan untuk bisa menahan tiga jenis virus sekaligus, yaitu virus campak, virus gondok, dan juga virus rubella. Adapun di tahun 1981, Hilleman berhasil membuat vaksin hepatitis B.

Tak hanya menciptakan vaksin untuk manusia, Hilleman juga membuat vaksin untuk binatang. Di antaranya adalah vaksin untuk penyakit marek yang menyerang ayam.

Maurice Hilleman meninggal di Philadelphia pada 11 April 2005 akibat penyakit kanker yang dideritanya. ***

Rudi Haryanto, guru sains MTs-MA Asih Putera Cimahi, alumnus Dept. Biologi ITB.

PR : Kamis, 10 Juni 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s