Menuju Jaringan Komunikasi Radio Sistem Satelit


Bencana alam belakangan ini memang kerap terjadi di bumi Indonesia tercinta. Gempa bumi dan tsunami sudah tidak asing lagi bagi masyarakat tanah air. Dalam dua tahun belakangan, beberapa gempa besar bahkan sempat mengguncang persada Indonesia, korban pun berjatuhan tanpa bisa mendapat pertolongan yang sigap.

Pada kondisi seperti itu, peran komunikasi menjadi sangat penting untuk memantau korban yang kemungkinan masih bisa diselamatkan dan mencari lokasi bencana yang memerlukan bantuan secepatnya. Jika terlambat, jumlah korban yang jatuh jelas akan semakin banyak.

Kendala utama dalam proses evakuasi (penyelamatan) korban bencana alam di negara ini adalah sarana komunikasi. Ketika bencana terjadi, sering kali sarana komunikasi utama seperti jaringan telefon tetap dan seluler terputus. Selama ini, hanya komunikasi radio amatir yang telah terbukti menjadi alat yang mampu bertahan saat terjadi bencana.

Kendati demikian, menurut Ketua Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) Sutiyoso, selama ini jaringan komunikasi radio amatir, termasuk para anggota Orari, terpasang di daratan dan sering kali sinyalnya terhalang pegunungan. “Dari situ muncul ide untuk membuat jaringan komunikasi Orari yang perestrial dan diangkat menjadi sistem satelit sehingga daya jangkaunya tidak lagi terkendala struktur geografis sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Dengan keberhasilan peluncuran Automatic Position Reporting System (APRS) yang notabene merupakan komponen inti satelit Lapan-Orari, Sutiyoso yakin satelit yang kini masih dalam pengembangan akan bisa diluncurkan sesuai dengan rencana. Jika tidak ada halangan, satelit Lapan-Orari akan diluncurkan bersama satelit Lapan A2 di Sriharikota India pertengahan tahun depan.

Menurut Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lapan Dr. Ing Soewarto Hardhienata, satelit Lapan-Orari akan diluncurkan bersama dengan satelit Lapan A2. “Kedua satelit tersebut kami namakan Twin-Sat (satelit kembar),” ucapnya.

Kendati demikian, Soewarto mengakui Lapan berkeinginan besar untuk bisa meluncurkan satelit dengan roket buatan sendiri. Namun untuk melakukan itu, Lapan memerlukan roket berukuran besar yang bisa mencapai ketinggian ideal untuk menempatkan satelit pada orbitnya.

“Sebenarnya sumber daya manusia (SDM) kita sudah mampu untuk membuat roket besar untuk meluncurkan satelit. Namun kita masih terbentur anggaran yang ada sehingga sejauh ini baru bisa membuat roket ukuran kecil dan sedang,” tutur Soewarto.

Soewarto menegaskan, pihaknya sudah menyatakan kesanggupannya untuk membuat roket yang bisa digunakan untuk mengorbitkan satelit jika pemerintah mau membiayai pengembangannya. “Saat ini kami hanya diberi anggaran Rp 230 miliar/tahun untuk biaya pengembangan keseluruhan. Sementara untuk membuat roket besar perlu lebih dari itu,” katanya.

Beberapa waktu lalu, tambah Soewarto, pimpinan Lapan telah mengungkapkan hal ini kepada DPR. “Mereka tahu bahwa Lapan sudah bisa membuat satelit dan sebenarnya mampu membuat roket yang bisa meluncurkannya. Kami harap akan ada tambahan anggaran agar kita bisa buat sendiri roket besar pada 2014 mendatang,” ujarnya memaparkan. (Handri Handriansyah/”PR-Kamis, 24 Juni 2010″)***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s