Sulitnya Mengendalikan Roket


Ingar-bingarnya mungkin masih tak semegah Kontes Robot Indonesia (KRI) yang berlangsung di Malang 19–20 Juni 2010 . Namun, semangat kompetisi dan adu gengsi di Kompetisi Roket Indonesia (Korindo) 2010 tidak kalah seru. Empat puluh tim dari 39 perguruan tinggi se-Indonesia berlomba mengasah pengetahuan yang mereka dapat di kampus untuk diaplikasikan bersama teknologi roket buatan Lembaga Penerbagangan dan Antariksa Nasional (Lapan) di Yogyakarta 26-28 Juni 2010.

Seperti dalam dua penyelenggaraan di tahun-tahun sebelumnya, dalam Korindo 2010 peserta bukan berlomba membuat roket, tetapi membuat muatan (payload) yang akan diluncurkan bersama roket uji muatan (RUM70-100)-LPN. Payload tersebut berupa tabung silinder berisi rangkaian elektronik dan sistem akuator yang berfungsi sebagai perangkat telemetri untuk meteorologi dengan menggunakan tiga macam sensor yaitu untuk temperatur, tekanan, dan kelembapan.

Sedikit perbedaan dalam kompetisi tahun ini, payload yang dilombakan mengambil tema “Homing Meteo Payload”. Payload tersebut harus mampu kembali menuju sasaran yang telah ditentukan setelah terpisah dari roket peluncur yang berbahan bakar propelan padat dan dapat mencapai tinggi terbang 2 km. Untuk mengendalikannya sampai sasaran, peserta harus melengkapi payload dengan pemandu arah terbang yang menggunakan kompas dan bersifat otonomous sekaligus bisa berkomunikasi dengan sistem kendali operator di segmen darat (ground segment).

Bagi para peserta, ada dua hal yang membuat tingkat kesulitan dalam Korindo lebih tinggi dari KRI. Selain kendali jarak jauh yang tidak boleh mengganggu transmisi data hasil deteksi sensor meteorologi dari payload ke ground segment, ukuran (dimensi) payload juga harus sesuai kabin dalam roket peluncur. Dengan kelengkapan komponen yang cukup banyak, payload harus memenuhi ukuran maksimal diameter 100 mm, tinggi 200 mm, dan berat maksimal 1.000 gram.

Ketua Bidang Acara Korindo 2010, Atik Bintoro mengatakan, secara teknis kemampuan peserta dalam merancang payload mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Namun, peserta harus belajar lebih banyak mengenai persyaratan payload roket. “Dari segi rancang bangun sudah bagus, tinggal mengakali bagaimana payload tersebut bisa diluncurkan mulus dengan roket dan menjalankan fungsinya setelah terlepas dari roket di udara sampai kembali ke sasaran,” ujarnya.

Atik menambahkan, Korindo 2010 terbagi dalam tiga tahap penilaian, uji fungsional, uji peluncuran, dan prensentasi data hasil deteksi muatan di udara oleh ground segment. “Saat diluncurkan, payload harus bisa mengirimkan data selama kurang lebih tujuh puluh detik dan dibaca dengan baik oleh ground segment peserta dan panitia. Selain itu, payload harus dikendalikan menuju sasaran,” katanya menjelaskan.

Tingkat kesulitan yang tinggi, kata Atik, membuat Korindo tidak pernah memiliki juara yang bisa mempertahankan prestasi mereka di tahun berikutnya. “Bahkan, tim Institut Teknologi Bandung yang menjadi Juara Korindo 2009, gugur di babak awal uji fungsional,” ujarnya.

Menurut Atik, uji fungsional terbagi ke dalam beberapa bagian, uji G-Force, uji G-Shock, uji vibrasi dan uji self run untuk menentukan daya tahan komponen payload terhadap daya hentakan dan getaran yang dihasilkan roket saat diluncurkan. “Pembakaran propelan dalam roket sifatnya tidak sempurna sehingga menghasilkan hentakan hebat saat diluncurkan dan saat pemisahan muatan di udara. Selain itu selama meluncur juga terjadi getaran hebat,” katanya .

Sebuah alat elektronik rumah tangga, kata Atik, hanya tahan terhadap getaran dan hentakan sampai 2G. Jika diluncurkan dalam roket yang menghasilkan hentakan dan getaran sampai 7G, komponen elektronik tersebut bisa hancur. “Untuk itu payload harus lulus uji vibrasi, G-Shock dan G-Force. Bila tidak, akan rontok saat diluncurkan. Setelah menempuh ketiga uji tersebut, payload juga harus lolos uji selfrun, artinya setelah diberi entakan dan getaran, payload harus tetap bisa berfungsi dengan baik,” ujarnya.

Menurut Atik, uji fungsional adalah tahap yang paling sulit. Hal ini terbukti dengan tidak lulusnya lebih dari setengah peserta Korindo 2010. “Pada uji fungsional utama dua puluh tim tidak lulus dan beberapa tim harus memperbaiki dimensinya. Namun setelah diberi kesempatan memperbaiki, akhirnya ada tiga puluh tim yang lolos ke uji peluncuran dan presentasi,” ujarnya.

Dalam uji peluncuran, tidak semua tim berhasil meluncurkan payload mereka dengan mulus dan menerima transmisi data dengan baik di ground segment. “Ada yang tidak bisa terpisah dari roket (separasi) ada juga yang transmisi datanya tidak diterima dengan baik di ground segment,” ungkap Atik.

Jawa Barat yang diwakili enam tim dari lima perguruan tinggi hanya mampu menempatkan satu tim di peringkat ketiga, yaitu tim Unibersitas Komputer Indonesia dengan payload yang mereka namai Aerose 2010 dan Politeknik TEDC Cimahi dengan Pasopati di posisi Harapan I. Sementara itu, tim Politeknik Elektronika Negeri Surabaya-Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (PENS-ITS) dengan EEPISky-nya berhasil meraih gelar juara. Posisi runner-up ditempati Universitas Pelita Harapan dengan Homing Meteo Payload rancangan mereka. (Handri Handriansyah/PR – Kamis, 08 Juli 2010)***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s