Manfaat dan Bahaya Si Keong Racun


“Dasar kau keong racun,
Baru kenal eh ngajak tidur,
Ngomong nggak sopan santun,
Kau anggap aku ayam kampung…”

Itulah sepenggal lagu “Keong Racun” yang dipopulerkan oleh duo Sinta dan Jojo. Dari mulai anak-anak sampai orang tua sudah tidak asing lagi mendengar lagu tersebut. Akan tetapi, tahukah Anda apa dan siapa itu keong racun?

Adalah the Giant African Snail (Achatina fulica bowdich) sosok sebenarnya si keong racun yang tersohor itu. Keong racun atau populer juga dengan nama bekicot adalah hewan bertubuh lunak dengan satu cangkang. Ia berjalan dengan menggunakan perutnya, atau disebut juga hewan gastropoda (gastro=perut; poda/podos=kaki).

Bekicot atau keong racun bukanlah hewan asli Indonesia. Ia berasal dari Afrika Timur dan saat ini tersebar luas di dunia melalui manusia (menempel pada kapal/kontainer atau barang-barang bawaan manusia) dan tumbuh-tumbuhan (telur bekicot). Kemampuannya beradaptasi dan tingginya kemampuan reproduksi membuat bekicot eksis di alam. Bekicot merupakan hewan hermaprodit (dalam satu individu terdapat organ reproduksi jantan dan betina).

Namun begitu, ia tetap membutuhkan individu lain dalam melakukan aktivitas reproduksi. Sekali melakukan perkawinan, satu bekicot dapat memproduksi 100 hingga 400 telur! Bahkan pada waktu tertentu, hewan ini dapat menghasilkan 1.200 telur dalam satu perkawinan.

Selain dari kemampuan reproduksinya, ukuran bekicot yang besar membuatnya menjadi salah satu keong darat terbesar di dunia. Umumnya panjang bekicot berkisar antara 5-10 sentimeter. Namun, tidak sedikit yang dapat mencapai 20 sentimeter. Beratnya pun dapat mencapai 1 kilogram.

Hewan ini sering kali dijumpai di sekitar manusia, di pekarangan rumah, persawahan, atau daerah lain yang lembap. Bekicot dapat hidup di berbagai kondisi lingkungan, kecuali di atas ketinggian 1000 meter karena hewan ini tidak dapat berkembang biak dengan baik pada kondisi tersebut. Bekicot jarang dijumpai pada siang hari karena aktivitasnya kebanyakan dilakukan pada waktu malam, termasuk kegiatan mencari makan.

Sering kali kita merasa jijik jika ada keong racun di halaman rumah. Memang hewan tersebut terkenal sebagai hama tanaman, terutama pada anggrek. Akan tetapi ternyata, hewan berlendir ini juga memiliki manfaat.

Beberapa tahun yang lalu, kerabat saya tidak sengaja menginjak beling dan melukai telapak kakinya hingga mengeluarkan banyak darah. Lalu kerabat saya yang lain (seorang analis laboratorium) mengusulkan untuk mencari bekicot di pohon pisang belakang rumah. Bekicot tersebut kemudian dibuang cangkangnya dan ditempelkan pada luka yang masih mengeluarkan banyak darah tersebut. Tak kuasa saya menahan jijik melihat pemandangan itu. Namun, perasaan itu tak lama berubah menjadi takjub. Hanya dalam waktu beberapa menit, luka kerabat saya tidak lagi mengeluarkan darah. Kering seketika!

Selidik punya selidik, ternyata lendir bekicot dapat meningkatkan tingkat migrasi sel makrofag yang berperan penting dalam proses perbaikan jaringan luka (Berbudi, 2008). Selain itu, lendir bekicot mengandung protein yang memiliki aktivitas antibakterial terhadap Staphylococcus aureus (Rosyidi dkk, 2001) dan Pseudomonas aeruginosa (Sudiyono, 1992). Kedua bakteri tersebut merupakan bakteri penyebab nanah pada luka. Berdasarkan kandungan-kandungan tersebut, bekicot memiliki peran penting dalam mempercepat proses penyembuhan luka.

Selain berguna untuk pengobatan, Bekicot juga banyak diproduksi sebagai penganan. Di kediri misalnya, daging bekicot dikonsumsi dan dijual dalam bentuk sate atau keripik. Kerabat bekicot, yaitu Helix pomatia atau dikenal sebagai escargot, malah dinobatkan sebagai makanan prestisius dan mahal di negara Prancis.

Fakta penting tentang keong racun

“Walaupun keong racun dapat dimanfaatkan langsung, penanganan terhadap hewan tersebut tetap harus hati-hati. Bekicot sering kali membawa hewan lain pada tubuhnya atau berperan sebagai vektor bagi Angiostrongylus cantonensis. Cacing kecil ini dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia, yaitu meningitis, bila bekicot dimakan secara mentah/tidak dimasak secara benar. Oleh karena itu, setiap bekicot yang hendak dikonsumsi hendaknya direbus hingga benar-benar matang. Kontak langsung dengan mata, hidung, dan mulut juga sebaiknya dihindari terutama pada anak-anak. Sebagai penanganan lain, mencuci tangan dengan bersih setelah melakukan kontak dengan bekicot juga sebaiknya dilakukan.***

Ayu S. Nurinsiyah, penerima Beasiswa Unggulan (Kemendiknas) Double Degree -PSMIL Universitas Padjadjaran & University of Twente, Belanda.

PR – Kamis, 16 September 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s