Penggabungan Dunia Nyata dan Maya


Teknologi Augmented Reality

Saat sedang menikmati suasana sore hari dengan melakukan aktivitas jalan-jalan ke suatu tempat, sering kali kita tidak tahu nama tempat atau tempat makan yang cocok untuk sekadar kumpul bersama teman-teman. Memang, kita bisa bertanya kepada seseorang, mencari di internet, atau menggunakan Google Maps, tetapi itu kurang asyik. Bagi pemilik gadget seperti iPhone mungkin bisa memanfaatkan aplikasi canggih semacam Layar Stream. Layar Stream adalah sebuah aplikasi khusus untuk peranti bergerak berbasis teknologi Augmented Reality (mengombinasikan antara informasi dari komputer ke dalam kehidupan sesungguhnya).

Sederhananya, jika Anda sedang berada di suatu daerah dan ingin tahu lebih banyak tentang daerah tersebut, tinggal nyalakan aplikasi Layar Stream, fungsikan kamera pada handphone, GPS, dan koneksi internet. Kemudian, Anda bisa mulai mengambil gambar yang ada seperti mau mengambil gambar video (kecuali fungsi rekam tidak ditekan). Pada saat Anda melihat gambar di kamera, secara otomatis aplikasi Layar Stream akan menampilkan informasi sesuai dengan area yang sedang dilihat di kamera. Keren kan? Informasi ini bisa bermacam-macam, mulai dari restoran, tempat wisata, atau informasi penting lainnya. Semuanya ini dilakukan secara real time.

Augmented Reality

Augmented Reality (AR) atau Realitas Tertambah merupakan suatu lingkungan yang mampu menggabungkan objek nyata dan maya (virtual) menjadi satu dalam waktu yang nyata (real time). Teknologi ini merupakan variasi dari Virtual Environment (VE) yang secara menyeluruh membenamkan (immerse) pengguna dalam satu lingkungan sintetik. Menurut Ronald T. Azuma, peneliti AR, AR sejatinya merupakan variasi lain dari realitas virtual (Virtual Reality). Teknologi realitas virtual membenamkan pengguna secara total pada lingkungan sintetis. Ketika masuk dalam dunia buatan itu, kita tidak dapat mengenali lingkungan nyata di sekitarnya.

Di Indonesia, teknologi AR ini sebetulnya bukan barang baru, meski banyak yang belum mengenalnya. Sudah lumayan banyak perusahaan di negeri ini yang telah mengadopsi teknologi AR ini, misalnya salah satu media cetak terbitan nasional, perusahaan minuman ringan teh botol, salah satu perusahaan rokok, serta perusahaan lainnya. Aplikasi AR yang awalnya dipakai untuk pembuatan pesawat Boeing tahun 1950-an ini justru sebaliknya. AR tidak memisahkan yang nyata dengan virtual, malahan yang terjadi adalah penggabungan antara keduanya pada ruang yang sama. Survei Azuma atas pemakaian AR dalam paper-nya menunjukkan tiga hal yang menjadi ciri khusus: AR menggabungkan antara realitas sebenarnya dan virtual yang bersifat interaktif saat itu juga serta memakai gambar tiga dimensi.

Pemakaian aplikasi makin meluas karena banyak sekali kegunaannya, selain sebagai permainan yang mengasyikkan. Di situs YouTube, kita bisa menyaksikan demo perbaikan mobil BMW memakai teknologi AR. Dalam situs itu, melalui kacamata khusus, pemilik BMW dapat memperbaiki kerusakan radiator tanpa harus pergi ke bengkel. Video cara memperbaiki mobil itu tahap demi tahap memberikan petunjuk alat dan bagaimana cara memasang komponen kipas radiator dengan menggabungkan gambar 3D dan video nyata mesin BMW.

Jepang sudah mulai menerapkan teknologi AR yang biasanya digunakan untuk membuat pelanggan memahami lebih detail tentang produk yang ditawarkan oleh sebuah perusahaan. Salah satu contoh adalah yang dibuat oleh Toppan Printing Co. Ltd., di mana mereka meluncurkan sebuah komputer yang dapat memberikan informasi tentang produk secara interaktif yang bentuknya mirip mesin penjual (vending machine). Prinsip kerjanya, dari sebuah QR Code (generasi terbaru barcode) yang diterima melalui komputer tersebut, pelanggan menunjukkan QR Code yang ada di depan komputer. Kemudian, komputer akan mengeluarkan sample produk yang akan diberikan secara gratis kepada pelanggan.

Komputer ini juga bisa memberikan informasi produk dengan cara si pelanggan menunjukkan produk perusahaan mereka yang akan difoto oleh komputer. Melalui aplikasi yang ada, komputer akan menampilkan informasi lengkap tentang produk yang dibawa oleh pelanggan. Contoh lainnya lagi adalah yang dibuat oleh Furutanisangyou Co. Ltd. yang membuat apa yang disebut Magic Mirror. Kaca ini nantinya akan diletakkan di sebuah toko baju dan bisa dijadikan Virtual Fitting Room.

Melalui Magic Mirror, pelanggan bisa mencoba baju tanpa harus membuka pakaian dan masuk ke ruang ganti. Pelanggan cukup berdiri di depan kaca ini, pilih baju yang ingin dicoba, maka kaca ajaib tersebut akan menampilkan diri anda yang sudah mengenakan baju yang ingin dibeli. Hebatnya lagi, kaca ajaib ini juga bisa memberitahu ukuran baju dan lainnya, sesuai dengan ukuran tubuh anda. Sama seperti berada di fitting room, kita bisa mencoba sampai enam barang sekaligus, seperti baju, celana, sweater, dan lainnya. Ke depannya, Magic Mirror bahkan bisa menampilkan posisi dari samping dan belakang.

Sekarang giliran perusahaan kosmetik Shiseido Jepang mencoba menggunakan teknologi AR ini untuk lebih memudahkan pelanggan dalam memilih kosmetik yang paling sesuai. Alat ini disebut dengan Augmented Reality Cosmetic Mirror. Tepatnya di mal Takashimaya di Shinjuku, Shiseido memasang sebuah komputer yang telah menerapakan teknologi AR ini.

Caranya sederhana, Anda cukup berdiri di depan komputer tersebut, kemudian kamera yang ada akan mengambil foto wajah Anda. Setelah itu, Anda bisa “mengutak-ngatik” wajah Anda dengan produk Shiseido. Misalnya, Anda bisa memilih warna maskara yang ada, kemudian teknologi AR akan “memasang” warna maskara langsung ke wajah Anda yang ada di komputer. Jadi, bisa dilihat kira-kira cocok atau tidaknya warna tersebut.

Jangan khawatir kalau Anda masih bingung apakah warna maskara itu cocok atau tidak, karena program yang ada juga bisa memilih warna atau produk yang disesuaikan dengan wajah Anda. Setelah Anda merasa cocok dengan salah satu atau lebih produk dari Shisesido tersebut, Anda bisa langsung mencetak hasil uji coba tersebut melalui printer yang tersedia. Lalu, Anda bisa langsung membawa hasil cetak tersebut untuk ditunjukkan kepada SPG Shiseido yang kemudian akan mengambil produk yang sesuai dengan yang ada pada hasil cetakan. Keren ya?

Pengaplikasian di media cetak

Ini ada cara baru untuk membuat majalah yang kita beli tidak hanya sekadar dibaca, tetapi bisa melihat hal lainnya secara 3D melalui komputer. Sebuah majalah terbitan Inggris bernama Grazia telah membuat edisi perdana majalah yang memadukan teknologi Augmented Reality (AR). Dengan mengadopsi teknologi AR tersebut, para pembaca dengan bantuan webcam dan koneksi internet dapat melihat lebih jauh apa yang sedang ditampilkan di majalah. Misalnya, bila Anda sedang melihat foto seorang model dan memperlihatkan foto model tersebut ke webcam, Anda otomatis akan terkoneksi ke sebuah halaman yang akan menampilkan si model dalam 3 dimensi.

Bukan itu saja, dengan menggerakkan majalah atau tangan di depan webcam, kita juga bisa memutar sang model secara real time. Selain itu, masih banyak yang bisa dilakukan dengan teknologi AR ini. Namun sebelum melakukan semua itu, Anda harus masuk dulu ke situs mereka di Graziadaily.co.uk/3D. Mungkin ada yang bertanya, apa bedanya dengan kita langsung mengakses ke situs mereka? Di sinilah kehebatan teknologi AR, di mana kita bisa memadukan antara yang terjadi di web dan apa yang kita lakukan di depan komputer.***

Toni Irawan, praktisi IT.

PR – Kamis, 22 Juli 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s