“Sonar” Kelelawar di Pesawat F-35


HANYA beberapa jenis kelelawar dan paus bergigi yang mengandalkan echolocation canggih untuk menangkap mangsanya. Mereka memancarkan sonar dan gema balik untuk mendeteksi serta melacak mangsa kecil. Dua studi baru hasil penelitian ini disiarkan pada edisi 26 Juli 2010 di Current Biolog.

Hewan liar ini mampu meninggikan atau merendahkan frekuensi pendengarannya, tergantung pada gelombang sonar balik dari sasaran yang jauh atau dekat dan diantisipasi sampai ke tingkat molekuler. “Secara umum, pancaran dan pantulan gelombang sonar itu bersifat konvergen yang timbul oleh berbagai mutasi gen yang berbeda. Hasil penelitian ahli biologi menunjukkan bahwa sifat echolocation sebenarnya telah berevolusi dengan adanya perubahan genetik dari kelelawar dan lumba-lumba,” kata Stephen Rossiter dari University of London.

Urutan konvergensi terjadi karena perubahan asam amino prestin yang menghasilkan frekuensi tinggi, seleksi, dan kepekaan yang sangat disukai pada echolocating mamalia. Prestin ditemukan di luar sel-sel rambut yang berfungsi sebagai penguat di dalam telinga, memperbaiki sensitivitas, dan selektivitas frekuensi dari getaran mekanis.

Tim Rossiter, termasuk Shuyi Zhang dari Universitas Normal Cina Timur menunjukkan sebelumnya prestin urutan gen telah mengalami konvergensi antara garis keturunan yang tidak berhubungan dengan echolocating kelelawar. Penulis ini, bersama dengan tim Zhang di Michigan, sekarang menunjukkan bahwa konvergensi memanjang ke echolocating lumba-lumba.

Zhang menunjukkan, meskipun mereka memiliki kemampuan yang sama, tetapi pada kenyataannya kelelawar dan ikan paus sangat bervariasi dalam echolocation-nya. “Sebagai contoh, kelelawar menggunakan echolocation untuk rentang 0 sampai 30 meter, sedangkan paus mengunakan untuk rentang hingga di atas 100 meter. Hal ini karena daya rambat suara di udara lebih cepat dibandingan dengan di air,” ujarnya.

Terlepas dari perbedaan-perbedaan media, temuan para pakar menunjukkan bahwa frekuensi tinggi, sensitivitas, dan selektivitas akustik dari kelelawar dan ikan paus bergantung pada molekul desain prestin.

Para peneliti yang mempelajari perilaku echolocation kelelawar telah menemukan bahwa mamalia terbang memancarkan suara sangat keras, jauh lebih keras daripada binatang yang dikenal di udara. Annemarie Surlykke dari Institut Biologi, SDU, Denmark, dan koleganya, Elisabeth Kalko dari University of Ulm, Jerman, mengamati perilaku echolocation dari sebelas jenis pemakan serangga tropis kelelawar Panama, dan temuan-temuannya yang dilaporkan dalam minggu ini `PLoS ONE.

Untuk meyakinkan,peneliti menggunakan array mikrofon, dan fotografi metode untuk merekonstruksi jalur penerbangan dari kelelawar di lapangan, ketika malam memburu, mencari, dan menangkap serangga. Kelelawar memangsa serangga di udara menggunakan sistem sonar mereka. Surlykke dan Kalko mengambil informasi ini sebagai dasar untuk memperkirakan intensitas suara yang dipancarkan.

Mereka menemukan bukti bahwa kelelawar memancarkan suara sangat keras melebihi 140 dB ( desibel ) SPL sekitar 10 sentimeter dari mulut kelelawar.Hal ini merupakan level suara tertinggi, yang dikeluarkan oleh jenis hewan apa pun di udara. Sebagai perbandingan, tingkat di konser music rock metal, menghasilkan suara hanya 115-120 dB, ambang rasa sakit telinga pada manusia karena kerasnya suara adalah sekitar 120 dB.

Kelelawar memancarkan panggilan echolocation mereka pada frekuensi ultrasonik, yaitu di atas jangkauan pendengaran manusia. Hal ini diperlukan untuk mendapatkan gema dari serangga kecil, tetapi menarik kembali frekuensi tinggi secara kilat bila telah menemukan sasarannya.

Meskipun intensitas sinyal (dan frekuensi) dari kelelawar sangat bervariasi, mereka muncul untuk berkumpul di kisaran deteksi serupa karena kelelawar memancarkan frekuensi dan intensitas tertinggi. Dengan demikian, penelitian ini menggambarkan nilai dari pendekatan interdisipliner yang menggabungkan kelelawar biologi, ekologi, dan perilaku akustik.

Karunia Allah SWT kepada kelelawar ini dimanfaatkan dalam teknologi militer ataupun sipil. Pancaran gelombang sonar sudah lama digunakan oleh kapal-kapal tim SAR untuk menjejak kapal yang tenggelam, kumpulan ikan, sumber minyak mentah dan tambang, di darat ataupun di lautan. Sementara gelombang sonar di udara digunakan untuk pesawat komersial maupun pesawat tempur. Kini Departemen Pertahanan Amerika Serikat tengah mengembangkan teknologi baru berbasis sonar untuk meningkatkan kecanggihan pesawat tempurnya yang terbaru, F-35.

Pesawat tempur baru F-35 ini, dicadangkan menggantikan F-22 “raptor” yang lebih dikenal dengan nama “Stealth” atau pesawat siluman. Pesawat tercanggih ini memiliki warna hitam, mampu terbang rendah, dan tidak terjejak oleh radar lawan. Namun kecanggihan pesawat ini menjadi rontok dengan kehadiran rudal terbaru S-300 dan S-400 produksi Rusia yang mampu menghajar musuh-musuhnya hingga sejauh 200-300 kilometer sebelum menyentuh wilayah sasaran. Pesawat F-35 Lightning II adalah hasil pengembangan dari pesawat X-35 dalam program Joint Strike Fighter.

Pesawat tempur berkursi dan bermesin tunggal ini dapat melakukan banyak fungsi, antara lain pertempuran udara, dukungan udara jarak dekat, dan pengeboman taktis yang ketepatannya ditera oleh sonar echolocation. Pengembangan pesawat ini dibiayai oleh Amerika Serikat, Britania Raya, dan beberapa negara Eropa lainnya. Diproduksi oleh industri kedirgantaraan yang dipimpin oleh Lockheed Martin serta dua rekan utamanya, BAE Systems dan Northrop Grumman.***

Dedi Riskomar, wartawan senior.

PR – Kamis, 16 September 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s