Listrik dari Dalam Bumi Energi yang Ramah Lingkungan


Hampir semua pembangkit listrik membutuhkan uap untuk membangkitkan listrik. Entah itu pembangkit listrik yang menggunakan gas alam, batu bara, atau yang menggunakan nuklir sekalipun, semuanya digunakan untuk memanaskan air pada boiler sehingga terbentuk uap. Selanjutnya, uap ini digunakan untuk memutar turbin. Turbin akan memutar generator, dan dari generator tersebut, listrik akan dibangkitkan.

Lalu bagaimana dengan pembangkit listrik tenaga panas bumi? Pembangkit listrik tenaga panas bumi berbeda dengan pembangkit listrik pada umumnya. Pembangkit listrik panas bumi meminjam panas dari bumi. Pembangkit listrik panas bumi menggunakan uap dari sumber panas di dalam bumi. Selanjutnya sama seperti pembangkit listrik pada umumnya, uap dari dalam bumi  digunakan untuk memutar turbin yang akan mengaktifkan generator sehingga listrik bisa dihasilkan.

Bagaimana kita bisa mengetahui suatu daerah yang menghasilkan panas bumi dan bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik? Bagian dalam bumi memiliki suhu tinggi. Panas inilah yang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi. Akan tetapi, kita berusaha mencari daerah-daerah yang relatif dangkal. Daerah yang dangkal lebih mudah diambil panasnya secara teknologi. Selain itu, tentunya juga lebih murah dalam hal investasi. Keberadaan sumber panas bumi yang relatif dangkal ini ditandai dengan munculnya geiser, sumber air panas, fumarol, kolam air panas, dan sebagainya. Continue reading “Listrik dari Dalam Bumi Energi yang Ramah Lingkungan”

Sampah Jadi Bahan Bakar Pesawat


BRITISH Airways berencana memperkenalkan pesawat jet komersial ramah lingkungan pertama di Eropa. Pesawat tersebut menggunakan sampah sebagai bahan bakarnya. Juru bicara British Airways menyebutkan, pihaknya akan bekerja sama dengan perusahaan bioenergi asal AS, Solena. Keduanya akan mengubah sampah menjadi bahan bakar karbon netral untuk pesawat pada tahun 2014.

Saat bahan bakar tersebut digunakan nantinya, Solena akan mengubah 500.000 ton sampah rumah tangga dan industri menjadi 16 juta galon bahan bakar pesawat karbon netral setiap tahunnya. Jumlah ini akan cukup memenuhi dua kali kebutuhan tenaga pesawat jet British Airways, dengan 95 persen emisi lebih kecil dibandingkan dengan bahan bakar kerosin konvensional. Continue reading “Sampah Jadi Bahan Bakar Pesawat”

Baterai Lit-Air Sumber Energi Baru


Kemampuannya Sepuluh Kali Lipat dari BBM Standar

Lebih dari tujuh juta barel bensin dikonsumsi oleh kendaraan di Amerika Serikat setiap hari. Para ilmuwan berlomba mencari solusi alternatif BBM yang ramah lingkungan untuk bahan bakar dunia. Penemuan BBM dari bahan baku ganggang, masih belum memuaskan para peneliti. Diperhitungkan konsumsi bensin dunia dari tahun ke tahun akan terus meningkat. Tren kebutuhan energi transportasi, tidak bisa dihindari. Oleh karena, itu para ahli biotech masih terus menggeluti berbagai bahan baku baru yang ada di lingkungan kita.

Sekelompok peneliti, mencoba mengeksplorasi berbagai sumber bahan baku, baik yang bersumber dari nabati (organik ) maupun nonnabati (anorganik). Terutama produk produk teknologi, yang kali ini menoleh ke baterai lithium. Sebagai bahan baku lain yang bisa menggantikan BBM, baterai lithium (Li), sebenarnya produk teknologi yang sudah akrab dengan lingkungan kita, karena sering digunakan sebagai sumber energi untuk kebutuhan sehari-hari maupun khusus.

Contoh yang terkecil, baterai lithium digunakan sebagai sumber energi untuk jam tangan, penerangan pekerja tambang, bahan bakar pemanas air, sumber energi roket luar angkasa, dan robot penjelajah di Bulan maupun Planet Mars, serta telefon genggam. Bahkan yang terakhir, digunakan untuk kendaraan roda dua maupun roda empat yang ramah lingkungan. Berangkat dari penggunaan untuk kendaraan roda empat dan dua, yang digunakan adalah Li-ion (lithium ion). Akan tetapi, para peneliti saat ini,mampu membuat lithium lain yang ada kaitannya dengan udara. Continue reading “Baterai Lit-Air Sumber Energi Baru”

Elpiji untuk Bahan Bakar Sepeda Motor


Penggemar otomotif banyak yang paham manakala bensin digantikan elpiji dapat menjalankan mesin kendaraan seperti sepeda motor. Hasilnya akan lebih irit dan ramah lingkungan. Tetapi, faktanya masih terlampau sedikit orang yang berani mengaplikasikannya.

Kalau tidak tahu tekniknya, tabung elpiji untuk bahan bakar sepeda motor itu bisa meledak dan mencelakakan orang di sekitarnya,” kata Soelaiman Budi Sunarto, pendiri Koperasi Serba Usaha (KSU) Agro Makmur, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Sekarang ini elpiji dalam kemasan tabung kecil ukuran tiga kilogram sangat mudah dijumpai. Tetapi, masih saja belum begitu banyak orang yang mengenal teknik konversi bensin menjadi elpiji untuk menjalankan mesin sepeda motor.

Budi sejak tahun 1998 membentuk perusahaan Agro Makmur di Desa Doplang, Karangpandan, Kabupaten Karanganyar. Ia mengembangkan teknologi energi yang ramah lingkungan berbahan dasar bio-etanol dan metana atau biogas. Dilengkapi pula pembuatan sarana produksinya, seperti alat biogas konsumsi sampah untuk mengubah sampah organik kering menjadi metana atau sarana untuk pemakaian bio-etanol dengan kompor berbahan bakar hemat etanol.

Sejak 2009 ditemukan elpiji untuk bahan bakar sepeda motor. Satu kilogram elpiji sudah diuji coba mampu untuk menjalankan sepeda motor sejauh 100 kilometer sampai 200 kilometer. Jarak tempuh sejauh itu akan bergantung pada beban penumpang dan kelandaian jalan yang ditempuh.

Membran

Elpiji tidak bisa serta-merta dialirkan begitu saja ke ruang pembakaran mesin sepeda motor. Jika dilakukan asal-asalan, percikan api pada ruang pembakaran akan merembet menuju sumber elpiji, meledaklah tabung elpiji itu.

Budi mengatakan, kuncinya terletak pada membran. Membran terbuat dari tabung besi yang berfungsi menyimpan stok elpiji sebelum masuk ruang pembakaran melalui karburator. Kemudian karburator itu dimodifikasi. Tidak terlampau rumit memodifikasinya, tinggal menanggalkan fungsi pelampungnya. Fungsi pelampung di gantikan dengan membran itu.

”Hanya dua hal itu yang harus dilakukan. Jangan sekali-kali mencoba mengalirkan elpiji langsung menuju ruang pembakaran melalui karburator. Percikan api akan menjalar ke mana-mana, tabung elpiji akan meledak,” kata Budi.

Katup penyaluran gas

Untuk uji kelayakan membran, Budi dibantu peneliti dari Pusat Teknologi Limbah Radioaktif Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Suryadi. Menurut Suryadi, prinsip kerja membran menggantikan fungsi pelampung dengan mempertimbangkan fleksibilitas bahan.

Membran dibuat dengan tabung besi berdiameter 8 sentimeter dengan panjang sekitar 4 sentimeter. Pada permukaan atas dan bawah tabung membran diberikan lapisan karet. Supaya tidak bocor, permukaan karet

dilapisi dengan pelat besi tipis. Dari tabung membran itu disediakan katup penyaluran gas ke karburator.

Menurut Suryadi, dalam pengujian kelayakan membran, daya tahan terhadap tekanan dipersyaratkan minimal mencapai 12 bar. Ini untuk mengantisipasi kekuatan tekanan elpiji yang berasal dari tabung elpiji.

Batas kemampuan menahan pada membran 12 bar itu untuk melampaui tekanan pada tabung elpiji yang hanya 10 bar.

Setelah elpiji mengalir ke karburator menuju ruang pembakaran, akan dibaurkan dengan udara. Mengenai komposisinya, secara umum pada sepeda motor bensin berbanding 1 untuk kapasitas bensin dengan 13 sampai 15 kapasitas udara.

Menurut Budi, berbeda halnya dengan komposisi yang dibutuhkan pada elpiji dengan udara. Komposisinya berbanding 1 untuk kapasitas elpiji dan 5 sampai 18 kapasitas udara.

Rinciannya demikian. Untuk start atau menyalakan mesin motor, dibutuhkan komposisi 1 untuk elpiji dan 5 untuk udara (1 : 5). Selanjutnya, untuk mesin menyala stasioner dengan komposisi 1 : 8.

Menuju akselerasi mesin komposisinya naik 1 : 12 dan menjadi 1 : 18 saat berjalan normal.

Harga ritel elpiji 3 kilogram di pasaran Rp 14.000 sampai Rp 15.000 per tabung. Harga ini setara dengan sekitar 3,3 liter bensin (dengan harga Rp 4.500 per liter).

Menurut Suryadi, kisaran jarak tempuh 1 kilogram elpiji itu bisa 100 sampai 200 kilometer. Maka, satu tabung 3 kilogram elpiji bisa untuk jarak tempuh berkisar 300 sampai 600 kilometer, sedangkan 3,3 liter bensin hanya untuk sekitar 100 kilometer.

”Elpiji terbuat dari butana dan propana yang masih tergolong mahal jika dibandingkan metana yang bisa dihasilkan melalui pembakaran anaerob sampah organik kering,” kata Suryadi.

Metana, menurut Suryadi, masa depan bahan bakar kendaraan. Hanya saja saat ini pengepakan dan distribusinya masih menjadi kendala.

Kompas, 08 Januari 2010

PLN harus Dapat Prioritas Gas


PEMERINTAH diminta serius untuk membantu PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dalam mengatasi masalah kelistrikan di tanah air. Salah satunya dengan memberikan prioritas kepada PLN untuk mendapatkan pasokan gas dan batubara.

Menurut Direktur Eksekutif Komite Kajian Kebijakan Energi Okky Setiawan Kamarga, upaya PLN mengalihkan penggunaan BBM ke gas dan batubara,paling tidak mampu mendatangkan penghematan biaya sekitar Rp 45 triliun per tahun. ‘’Persoalannya,apakah PLN dapat dengan mudah mendapatkan bahan bakar non BBM, seperti gas dan batubara, karena pengadaan komoditas ini dibeli PLN dengan harga komersial dan dilakukan melalui tender bersaing dengan pembeli lain,’’ tegasnya. Sebab, lanjut dia, hampir sebagian besar gas Indonesia diekspor ke mancanagara seperti Jepang, Korea dan Taiwan, sehingga agak sulit bagi pemerintah untuk mengurangi volume ekspor gas karena sudah terikat kontrak.

Meski selama ini ada jaminan dari produsen gas untuk menjamin pasokan gas bagi PLN,kontrak jual beli gas antara perusahaan gas dan PLN lebih banyak merugikan PLN. Ini selalu mungkin terjadi, karena pemasok gas PLN dengan alasan teknis serta perbaikan jaringan pipa dan lain sebagainya, bisa menghentikan pasokan gas. Belum lagi pasokan dan harga bahan bakar lain seperti batu bara yang juga tak jarang memusingkan PLN. PLN, lanjut dia, harus secepatnya mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) untuk pembangkit dan menambah konsumsi batu bara dan gas.
Continue reading “PLN harus Dapat Prioritas Gas”

Mengerek Investasi Hulu Migas


TAHUN baru,target baru. Demikian pengumpamaan niat pemerintah mengerek investasi di sektor minyak bumi dan gas (migas) sepanjang 2010.Diharapkan tahun ini lebih baik dibandingkan 2009 .

Tak tanggung-tanggung pemerintah memperkirakan realisasi investasi bisa dicapai hingga USD15,99 miliar sepanjang tahun ini. Begitulah tampaknya komitmen yang igin direalisasikan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) di 2010 ini.AdalahKepalaBPMigasRPriyono yang menyatakan niat pemerintah menggenjot investasi di sektorhulumigasdidalamnegerilebih tinggi dibanding realisasi tahun lalu yang hanya tercapai USD10,874 miliar. ”Kenaikan investasi tersebut di antaranya dikarenakan upaya peningkatan produksi,” ungkap Priyono.

Priyono menyebutkan,investasi rencananya sebagian besar akan dialokasikan untuk pengerjaan wilayah kerja produksi sebesar USD13,628 miliar. Sisanya sebesar USD2,36 miliar untuk kegiatan eksplorasi. Salah satu proyek peningkatan produksi ini adalah pengeboran migas di Lapangan Banyu Urip,Jawa Timur. Priyono optimistis, realisasi investasi hulu migas tahun ini akan lebih baik dibanding tahun sebelumnya.Tahun 2009, realisasi investasi di sektor hulu migas hanya tercapai sebesar USD10,874 miliar,atau hanya terpenuhi 71,8% dari komitmen awal sebesar USD15,153 miliar.

Masing-masing berasal dari wilayah produksi USD9,976 miliar dan eksplorasi USD898 juta. Diakuinya, investasi sektor hulu migas tahun 2009 tak cukup bagus dibanding 2008 sebelumnya yang mencapai USD12,096 miliar atau lebih tinggi 12%.Menurutnya, turunnya komitmen, efisisensi pengadaan,penundaan proyek karena belum ada persetujuan, dan penundaan pemboran menjadi alasan penurunan investasi. Pada 2009,kegiatan pemboran mencakup 73 sumur yang 50 di antaranya telah di tes dan ditemukan 33 sumur atau rasio keberhasilan mencapai 46% atau lebih tinggi dibandingkan dunia yang hanya 20-30%.
Continue reading “Mengerek Investasi Hulu Migas”

Swasembada Energi


SWASEMBADA bukan sesuatu yang baru bagi bangsa ini.Pada masa lalu Indonesia pernah swasembada beras,hingga negeri ini mendapat penghormatan yang luar biasa dari masyarakat internasional.

Swasembada itu pula, ketahanan pangan di negeri ini juga tahan terhadap goncangan. Lantas, kini mungkinkan swasembada itu juga bisa diberlakukan di sektor non pangan,misalnya energi? Pertanyaan menggelitik ini,tentu bukanlah mengada-ada, atau mengawang-awang. Pemikiran semacam itu justru perlu digulirkan, di tengah ancaman krisis energi yang membayangi negeri ini. Pemerintah sendiri sesungguhnya, mulai menyadari, perlunya bangsa ini melakukan swasembada energi.

Hal ini terlihat dalam Keputusan Presiden No 5 tahun 2006 untuk melakukan proporsi energy mix yang antara lain untuk mengurangi ketergantungan pada minyak bumi, dengan mengganti bahan bakar non BBM. Apabila pada 2006 energy mix di Indonesia 52% bertumpu pada minyak bumi,Gas alam 29%,batubara 15%,Hydro 3% dan Geothermal 1%. Kondisi tersebut harus dirubah di masa mendatang, hingga pada 2025 penggunaan minyak bumi harus turun menjadi 20%. Sementara energi lainnya harus meningkat penggunaannya. Untuk Gas alam naik menjadi 30%, Batubara 33%,air 5%,Geothermal 5%, Biofuels 5% dan lainnya 2%.

Menggeser Penggunaan Energi

Saya melihat energy mix merupakan langkah maju. Mengapa demikian? Karena Indonesia memiliki potensi untuk mengurangi ketergantungan impor minyak bumi,dari material yang ada di Indonesia, yang tidak perlu mengimpor dari luar negeri.Energy mix ini bisa dijadikan landasan untuk melakukan swasembada energi. Swasembada di sini adalah bisa memenuhi kebutuhan energi secara mandiri.
Continue reading “Swasembada Energi”