| Metro TV | Lampung Post | Borneo News | Yayasan Sukma | Kick Andy Home Advertisiment * Home * Polhukam * Ekonomi & Bisnis * Olahraga * Sepak Bola * Megapolitan * Nusantara * Internasional * Sains & Teknologi * Humaniora * Opini * Perempuan * Hidup Sehat * Otomotif * Travelista * Kuliner * Blog * Video * Foto * Cinema * Politik Dalam Negeri * Politik Luar Negeri * Hukum * Hankam * Lainnya * Ekonomi * Bursa & Valas * Finansial & Perbankan * Bisnis & Investasi * Lainnya * Bulu Tangkis * Tenis * Basket * F1 * Moto GP * Tinju * Sosok * Lainnya * Liga Inggris * Liga Itali * Liga Spanyol * Liga Jerman * Liga Indonesia * Off Side * Lainnya * Kriminal * Trafik * Sosial * Peristiwa * Lainnya * Berita & Peristiwa * Lainnya * Piranti * Iptek * Telekomunikasi * Regulasi * E Lifestyle * Kesehatan * Pendidikan * Lingkungan * Kebudayaan * Religi * Umum * Bali – Nusa Tenggara * Jabar – Banten * Jateng – DIY * Jatim * Kalimantan * Maluku – Irian Jaya * Sulawesi * Sumatera Suara Anda | Layanan Umum | Kontak Media | Jadwal Hari Ini | Lowongan Kerja Jadwal Sholat Penerbangan Kereta Api Travel + Primajasa Polisi Pemadam Kebakaran Layanan Publik Media Online Iklan Sirkulasi Percetakan Production Publishing Advertisiment Menkeu Kritisi Pemesanan Produk Alutsista Dalam Negeri


Beberapa waktu lalu, BUMN Industri Strategis mengeluhkan ketidakkonsistenan TNI dalam pemesanan produk buatan mereka. Padahal, mereka sudah dianggarkan untuk diadakan selama beberapa tahun dengan mekanisme pengadaan tahun jamak (multiyears). Atas hal itu, Menkeu Sri Mulyani mencoba menganalisa dan mengkritisinya.

“Keluhannya kan tadi order tidak kontinu, berarti bukan saya, tapi Dephan. Tapi, nanti kan dibilang saya tidak kontinyu karena anggaran tidak kontinyu, nanti salah-salahan terus. Jadi, kita perlu duduk sama-sama yang mana yang akan dialokasikan secara strategis untuk kita alokasikan ke industri strategis, mana yang belum bisa diproduksi BUMN Industri Strategis,” ujar Sri Mulyani dalam sambutan seminar Revitalisasi Industri Pertahanan di Jakarta, Selasa (1/12). Lanjutkan membaca “| Metro TV | Lampung Post | Borneo News | Yayasan Sukma | Kick Andy Home Advertisiment * Home * Polhukam * Ekonomi & Bisnis * Olahraga * Sepak Bola * Megapolitan * Nusantara * Internasional * Sains & Teknologi * Humaniora * Opini * Perempuan * Hidup Sehat * Otomotif * Travelista * Kuliner * Blog * Video * Foto * Cinema * Politik Dalam Negeri * Politik Luar Negeri * Hukum * Hankam * Lainnya * Ekonomi * Bursa & Valas * Finansial & Perbankan * Bisnis & Investasi * Lainnya * Bulu Tangkis * Tenis * Basket * F1 * Moto GP * Tinju * Sosok * Lainnya * Liga Inggris * Liga Itali * Liga Spanyol * Liga Jerman * Liga Indonesia * Off Side * Lainnya * Kriminal * Trafik * Sosial * Peristiwa * Lainnya * Berita & Peristiwa * Lainnya * Piranti * Iptek * Telekomunikasi * Regulasi * E Lifestyle * Kesehatan * Pendidikan * Lingkungan * Kebudayaan * Religi * Umum * Bali – Nusa Tenggara * Jabar – Banten * Jateng – DIY * Jatim * Kalimantan * Maluku – Irian Jaya * Sulawesi * Sumatera Suara Anda | Layanan Umum | Kontak Media | Jadwal Hari Ini | Lowongan Kerja Jadwal Sholat Penerbangan Kereta Api Travel + Primajasa Polisi Pemadam Kebakaran Layanan Publik Media Online Iklan Sirkulasi Percetakan Production Publishing Advertisiment Menkeu Kritisi Pemesanan Produk Alutsista Dalam Negeri”

Bintang Kejora Berkibar lagi di Bumi Papua


Bendera bintang kejora, Minggu (29/11) malam, sekitar pukul 21.00 WIT, berkibar di tiga lokasi di sekitar Kodya Jayapura, Papua.

Dari data yang berhasil dihimpun terungkap bendera Papua merdeka bintang kejora itu berkibar di tiga lokasi berbeda. Lokasi pengibaran ketiga bendera bintang kejora itu masing masing kawasan perumnas, Padang bulan, belakang pasar Yotefa dan sekitar kantor organda, Waena.

Pengibaran bendera bintang kejora itu dilakukan menjelang peringatan hut Papua merdeka yang jatuh tanggal 1 Desember. Dari tiga lokasi pengibaran, baru satu lokasi yang telah berhasil diturunkan yakni bendera yang dikibarkan di kawasan belakang pasar Yotefa.

Belum ada satu pejabat di lingkungan kepolisian yang berhasil dimintai keterangannya tentang kasus pengibaran  bintang kejora dan kelompok yang menyatakan bertanggung jawab. Situasi kota Jayapura sendiri hingga kini masih kondusif.

Media Indonesia, 30 Nove,ber 2009

Kematian Kelly Kwalik Menarik Perhatian Radio Australia


Kematian gembong separatis Papua Kelly Kwalik dalam menyergapnya di sebuah rumah di daerah Kwangki Lama Mimika, Papua, Rabu (16/12) dinihari, menarik perhatian Radio Australia.

Perihal kematian pentolan Organisasi Papua Barat (OPM) itu diberitakan Radio Australia dengan mengutip penjelasan Polri. Kematian Kelly Kwalik ini dipandang media utama Australia ini sebagai pukulan serius bagi gerakan separatis di wilayah paling timur Indonesia itu.

Sebelumnya, Kapolda Papua Irjen Pol Bekto Suprapto mengatakan, Kelly Kwalik ditembak setelah yang bersangkutan melakukan perlawanan dengan melepaskan tembakan senjata api jenis revolver ke arah petugas yang berupaya menangkapnya.

“Korban sempat kami bawa ke Rumah Sakit Kuala Kencana untuk mendapat pertolongan, namun nyawanya tidak berhasil diselamatkan,” katanya.

Dalam masalah Papua, Menteri Luar Negeri Australia Stephen Smith berulang kali menyampaikan sikap pemerintahnya yang mendukung penuh integritas wilayah dan kedaulatan RI atas Provinsi Papua dan Papua Barat karena itu adalah cara terbaik untuk merespons isu-isu Papua.

Canberra juga menilai otonomi lebih luas yang telah diberikan pemerintah RI kepada kedua provinsi itu sudah benar dan akan terus didukung.

Berkaitan dengan dinamika kondisi keamanan di Papua, pemerintah dan media Australia sempat menyoroti kasus penembakan yang menewaskan seorang warga negaranya yang bekerja di PT Freeport Indonesia Juli lalu.

Warga Australia yang tewas dalam sebuah penyerangan di Mile 53, Timika, pada 11 Juli 2009 itu adalah Drew Nicholas Grant,38.

Insiden penembakan Drew Grant di Mile 53 itu terjadi ketika mobil naas jenis LWB bernomor lambung 01-2587 yang dikemudikan Jon Biggs melaju menuju Timika dari Tembagapura. Ia tertembak di bagian dada dan leher. Polisi Federal Australia (AFP) bersama Polri sempat melakukan penyelidikan atas kasus kematian Grant ini.

Pada 2002, insiden penembakan terhadap warga negara asing juga terjadi di Timika. Ketika itu kelompok separatis Papua terlibat dalam penembakan dua orang guru warga Amerika Serikat.

Kelompok separatis Papua yang terlibat adalah grup pimpinan Antonius Wamang.

Media Indonesia, 16 Desember 2009

Kemandirian Pertahanan Nasional Suatu Keharusan


SUNGGUH tragis, mungkin inilah kata yang dapat diungkapkan terhadap rentetan peristiwa kecelakaan alutsista (alat utama sistem pertahanan) kita. Untuk ketujuh kalinya tahun ini, pesawat militer kita kembali mengalami musibah. Yang terakhir adalah jatuhnya Helikopter Puma milik TNI AU di Bogor yang menewaskan empat orang dari tujuh penumpangnya.

Rentetan kecelakaan tragis ini memunculkan berbagai indikasikan tehadap kondisi pertahanan nasional kita. Muncul berbagai pertanyaan mulai dari anggaran yang tidak cukup usia tua, kurangnya pelatihan personel, keterbatasan suku cadang karena embargo hingga faktor teknis pesawat itu sendiri yaitu faktor yang disebabkan oleh kesalahan operasional dari manusia (Human Error). Terlepas dari rentetan pristiwa yang terjadi ini telah menjadi sinyal yang jelas kepada pemerintah bahwa kita memang harus memikirkan strategi baru untuk pertahanan kita.

Strategi Pengadaan Alutsista
Belajar dari pengalaman, terutama dalam pengadaan alutsista yang terlalu bergantung pada pihak asing, sudah sepantasnya kita perlu memikirkan konsep pertahanan baru yang berbasiskan pada kemandirian tehnologi pertahanan. Pertimbangan mendesak ini perlu dilakukan mengingat pengalaman politik domestik kita yang kadang-kadang mengundang intervensi asing baik dari segi politik maupun kedaulatan. Bukankah pengalaman disintegrasi bangsa yang mengudang intervensi TNI terhadap persolan ini memunculkan protes dari beberapa negara. Ini dapat dilihat alam kasus Timor Timur, Aceh, dan Papua. Lanjutkan membaca “Kemandirian Pertahanan Nasional Suatu Keharusan”

Gaza dan Opsi Mati Syahid


GEMPURAN terhadap Jalur Gaza tampaknya akan berlangsung entah sampai kapan. Memasuki hari kesembilan serangan, sudah lebih dari 430 orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka. Sementara itu, dunia begitu tidak berdaya mencegah tindakan brutal Israel di wilayah itu. Gaza benar-benar hancur lebur. Dengan penduduk yang menempati wilayah 400 km2 (bandingkan dengan Bandung yang luasnya 165 km2), dan penduduk 1,5 juta orang, Gaza benar-benar menjadi ladang pembantaian dan bulan-bulanan operasi militer.

Gedung pemerintahan, jalan, dan infrastruktur Gaza dihancurkan Israel. Bahkan masjid pun tidak bisa dijadikan tempat berlindung, semuanya rata digasak Israel. Apa yang akan terjadi bila Gaza diisolasi, penduduknya dilarang keluar Gaza, sementara wilayah padat itu dihajar bom terus menerus. Apalagi kini tentara Israel sudah melancarkan serangan daratnya.

Menteri Pertahanan Ehud Barak yang juga mantan Perdana Menteri Israel ini segera memerintahkan angkatan bersenjata Israel bersiap melakukan operasi militer terhadap Hamas. Tampaknya memang ada perbedaan pandangan antara pemimpin Israel soal Gaza ini. Perdana Menteri Ehud Olmert menghendaki adanya kekuatan internasional yang menjaga perdamaian di Gaza, sedangkan Barak dan Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni ingin menyikat habis Hamas dari bumi Gaza. Banyak pihak menilai, sikap keras Ehud Barak ini adalah demi meraih simpati rakyat Israel pada pemilihan umum 10 Februari mendatang. Yang jelas, dengan sikap kerasnya ini, popularitas Ehud Barak naik tajam (Lihat Persaingan Antara Livni, Barak, dan Netanyahu). Lanjutkan membaca “Gaza dan Opsi Mati Syahid”