Pameran kendaraan Komersil di JIExpo


PT Global Expo Management Indonesia (GEMI) bekerjasama dengan Asosiasi Karoseri Indonesia (Askarindo) menggelar “The Indonesia International Bus, Truck and Components Exhibition (IIBT) 2010” di JIEXpo Kemayoran, Jakarta Pusat, 24-27 Maret mendatang. Ini untuk pertama kali kendaraan komersil dipamerkan secara tersendiri, meski sebelumnya sudah pernah bersama IIMS ketika di JCC, tapi masih terhitung dengan jari partisipannya.

Eksebisi kali ini utamanya ditujukan buat pebisnis otomotif di Indonesia bukan konsumen umum. Selain produsen lokal, penyelenggara akan menggandeng 20 negara antara lain dari China, Taiwan, Malaysia, dan Thailand.

Baki Lee, selaku event consultan GEMI menjelaskan, tahun lalu Indonesia hanya menyelenggarakan Indonesia’s Lagrhest Auto Parts Exhibition (INAPA) yang lebih fokus pada produk komponen. Tahun ini, INAPA akan dilebur ke dalam IIBT 2010 yang menjadi pameran dagang internasional.

“Potensi transaksi sangat besar dalam pameran kali ini. Tahun lalu saja di INAPA, dari data kami tercatat sekitar US$25 juta. Itu hanya komponen, tahun ini ada kendaraan komersil, maka setidaknya US$50 juta saja akan tercapai,” ujar Lee di Jakarta, Rabu (13/1/2010).

Para perserta pameran dagang internasional berasal dari beberapa jenis industri dan pendukung otomotif antara lain, bus, truk, kendaraan khusus (tank, militer, pertahanan, keamanan publik), komponen, aksesoris, mesin fuel cell, mesin hydrogen, dan lain-lain.

“Kami berharap dengan pameran kali ini akan bisa menembus pasar Asean atau lebih luas lagi. Kemampuan industri karoseri nasional perlu promosi yang kuat, salah satunya pameran berskala internasional seperti IIBT ini,” jelas David Herman Jaya, Ketua Umum ASARINDO.

Dalam empat hari pelaksanaan pameran, panitia penyelenggara menargetkan akan mampu menyedot sebanyak 25.000 orang pengunjung dari kalangan profesional. Seluruh pengunjung bisa hadir sejak pukul 10.00-18.00 WIB tanpa perlu membayar alias gratis.

Kompas, 14 Januari 2010

China Ungguli AS dalam Penjualan Mobil


Penjualan mobil di China tahun lalu melampaui penjualan di pasar AS untuk pertama kalinya. Kenaikan tersebut didorong oleh insentif Pemerintah China sehingga penjualan naik 46 persen dari tahun berikutnya. Jumlah mobil yang dijual di China mencapai 13,6 juta unit.

Penjualan mobil merupakan salah satu indikator ekonomi penting. Sebelumnya, ekspor China juga telah melampaui ekspor Jerman yang selama ini menjadi negara pengekspor nomor satu dunia. Nilai ekspor China mencapai 1,2 triliun dollar AS, sedangkan Jerman hanya 1,17 triliun dollar AS. Ekspor barang China lebih beragam walaupun bukan merupakan barang-barang canggih berteknologi tinggi seperti barang ekspor dari Jerman.

Pada Desember lalu, penjualan mobil di China naik pesat, hampir 92 persen dari tahun sebelumnya menjadi 1,41 juta unit. Demikian menurut data dari Asosiasi Manufaktur Otomobil China (CAAM) yang dikeluarkan di Beijing, Selasa (12/1/2010). Rekor penjualan di China tahun lalu bertepatan dengan penjualan terendah di AS sejak tahun 1982. Ketika itu krisis finansial sedang merebak dan menyebabkan penurunan laju perekonomian yang membuat daya beli konsumen di AS melemah.

Di AS, mobil yang terjual sekitar 10,4 juta tahun lalu. Angka tersebut turun 21 persen dari tahun 2008. Angka tersebut tidak termasuk penjualan mobil berat komersial yang totalnya mencapai 500.000 unit. Demikian data menurut analis CSM Worldwide Yale Zhang. Sebaliknya, menurut data dari CAAM, pada penjualan 2009 di China sudah menghitung penjualan kendaraan berat komersial.

Hampir sepanjang tahun penjualan di AS menurun kecuali pada Agustus ketika penjualan didorong oleh insentif dari pemerintah. Sedangkan penjualan di China setiap bulan selalu melewati penjualan mobil di AS. Sebelum krisis, penjualan mobil di AS sebanyak 16,2 juta unit, pada tahun 2007, turun 2,5 persen dari 16,6 juta pada tahun 2006. Di China, penjualan mobil pada 2008 sebanyak 9,4 juta unit.

Para analis mengharapkan pasar otomotif China tetap berada di puncak dalam tahun ini dan dapat menjual lebih banyak dari 2 juta unit kendaraan di AS. Akan tetapi, para analis juga memperkirakan penjualan mobil China tidak akan dapat sekuat penjualan pada tahun 2009.

Namun, beberapa analis memperkirakan, secara umum akan ada kenaikan penjualan mobil di China antara 5 dan 6 persen. Beberapa produsen mobil optimistis dan memperkirakan pertumbuhan penjualan akan mencapai 10 hingga 15 persen.

Faktor besar yang akan memengaruhi penjualan adalah penurunan stimulus pemerintah. Pemerintah pusat, Januari lalu, telah memangkas pajak penjualan untuk mobil bermesin kecil. Dampak pemangkasan pajak tersebut, penjualan naik pada tahun 2009. Akan tetapi, untuk tahun 2010 Beijing telah mengurangi pemangkasan pajak untuk mobil kecil. Tahun ini para pembeli mobil kecil harus membayar pajak sebesar 7,5 persen, sedangkan tahun lalu sebesar 5 persen.

Penjualan mobil penumpang di China naik 54 persen tahun lalu menjadi 10,3 juta unit, sementara penjualan mobil komersial naik 28 persen menjadi 3,3 juta unit.

Kompas, 13 Januari 2010

Harley Davidson 2020 Yang Aneh


Menyebut nama Harley-Davidson, apa yang terlintas dibenak Anda? Motor besar, gagah, vintage, dan harga yang mahal. Persepsi Anda itu mungkin tidak salah, tapi tak sepenuhnya benar jika melihat produk terbaru hasil karya desainer Miguel Cotto.

Tanpa terbelenggu kesan yang selama ini melekat pada merek motor asal Amerika Serikat tersebut, Miguel mencoba mengekspresikan diri. Hasilnya, sebuah motor konsep Harley-Davidson satu dekade mendatang (2020), seperti dikutip asphaltandrubber.com (9/1/2010).

Dilihat dari tampilan fisiknya, motor ciptaan Miguel mengusung konsep minimalis. Ciri khas H-D seperti mesin “gendut” v-twin dan berpendingin udara lenyap. Motor ini mengusung dapur pacu berkapasitas 883 cc bergaya Sportster. Salah satu yang mencolok, pemilihan velg tanpa tromol tengah.

Warna merah bata dipilih desainer untuk mengguyur seluruh “tubuh” motor mendukung kesan futuristik. Tapi, masalah benar atau tidak pabrikan Harley-Davidson akan memproduksi motor ini, ya belum ada kepastian.

Dengan desain ini, bisa-bisa seluruh pecinta Harley-Davison meninggalkan motornya dan bergeser ke produk lain dengan karekteristik yang lebih halus. Selain itu, Cotto juga perlu mengubah emblem produk yang baru diciptakannya dengan tulisan Honda ketimbang Harley-Davidson.

Kompas, 13 Januari 2010

Kain Batik China Masuk Pasar Klewer


Produk kain batik berasal dari China menyerbu Pasar Klewer Solo, Jawa Tengah, sejak beberapa hari lalu terkait dengan pelaksanaan Free Trade Agreement ASEAN-China.

Seorang pemilik pabrik kain batik, PT Merak Manis, Bambang Slameto, di Solo, Senin (11/1/2010), mengatakan, kain batik produk China itu relatif belum banyak yang masuk ke Pasar Klewer.

Pasar Klewer selama ini dikenal sebagai pusat perdagangan tekstil terbesar di Jateng.

Sebenarnya, katanya, masuknya kain batik produk China itu ke pasar setempat tidak menjadi masalah asalkan para pedagang bersatu dan mampu bersaing dengan produk luar negeri itu.

“Bagi kami sebenarnya tidak ada masalah karena kain batik asal China itu motifnya tidak bagus, kasar, dan kainnya kalau dipakai terasa panas di badan, sedangkan kain batik di Solo motifnya cukup bagus, begitu juga kualitasnya. Kami tidak mengerti kalau orang di luar Solo, seperti Jakarta yang kurang begitu paham mengenai batik,” katanya.

Ia mengatakan, sebenarnya kain batik produk China itu, pada era 1980-an sudah beredar di Pasar Klewer, tetapi tidak begitu laku seperti saat ini.

“Asalkan para pedagang batik di Solo mau bersatu dan bersaing secara sehat, tidak ada masalah untuk menghadapi membanjirnya barang-barang tekstil asal China ini,” katanya.

Ia mengaku, hingga saat ini masih memiliki kain batik produk China dan menyimpannya secara baik untuk dibandingkan dengan produk setempat.

“Saya masih punya kain batik buatan China itu dan saya simpan, bisa dibandingkan dengan buatan kita, baik mengenai motif maupun kainnya, masih tetap unggul milik kita,” katanya.

Ia menyatakan pentingnya pengusaha batik Solo semakin sadar terhadap kebutuhan suatu wadah atau perkumpulan pengusaha industri itu untuk menghadapi persaingan pasar bebas.

Wadah bagi pengusaha batik setempat, katanya, akan memudahkan pembangunan suatu gerakan untuk menghadapi perdagangan bebas.

“Sekarang sudah tidak pada zamannya lagi para pengusaha maju sendiri-sendiri,” katanya.

Kompas, 12 Januari 2010

TATA Bawa Mobil Mini Nano Ke Detroit


Produsen mobil India, Tata, membawa mobil mini produksinya Nano ke Detroit untuk menunjukkan kepada Motor City seperti apa mobil termurah di dunia, kata produsen otomotif itu, Rabu.

Nano akan diperkenalkan pada konferensi pers di Detroit Sains Centre, Kamis waktu setempat, yang berjarak hanya beberapa mil jauhnya dari tempat pesaing Tata menampilkan produk terbaru mereka pada pameran mobil Detroit.

Tata, Selasa, mengatakan mobil ini adalah pengembangan versi Nano untuk akhirnya dijual di Amerika Serikat, tetapi kemungkinan membutuhkan waktu beberapa tahun sebelum mobil mini ini memuncaki ruang pamer mobil.

Nano yang semula merupakan kendaraan empat pintu dan diluncurkan pada pameran otomotif di New Delhi dua tahun yang lalu, diproduksi dengan biaya sekitar 2.500 dolar AS, sementara versi paling barunya dengan tambahan AC dan wiper belakang diproduksi dengan biaya 3.700 dolar. Versi AS ini akan memiliki mesin yang lebih besar dan standar keselamatan yang lebih tinggi.

“Pemikiran inovatif bahwa membawa Nano milik Tata ke pasar adalah simbol dari apa yang ditawarkan Tata Technologies kepada industri otomotif,” kata Warren Harris, presiden anak perusahaan Tata Technologies yang berbasis di Michigan.

The Nano telah memicu perlombaan untuk menciptakan mobil dengan biaya sangat rendah untuk India dan pasar yang baru tumbuh lainnya. Produsen mobil Perancis, Renault, dan mitranya dari Jepang, Nissan, berencana untuk meluncurkan mobil yang menyaingi Nano pada tahun 2012, yang akan dibangun melalui kemitraan dengan spesialis produsen skuter dan kendaraan roda tiga, Bajaj Auto.

General Motors meluncurkan mobil kecil baru pada Senin waktu dengan harga sekitar 7.000 dolar yang akan pertama kali dikeluarkan di pasar India dan akhirnya dijual di 150 negara.

Koran Internet, 07 Januari 2010

Industri Wig Purbalingga Tak Permasalahkan FTA


Industri rambut palsu atau wig di Purbalingga, Jawa Tengah, tidak mempermasalahkan diberlakukannya “free trade agreement (FTA)” antara ASEAN dan China mulai 2 Januari 2010. “Kami tidak mempermasalahkan pemberlakuan FTA karena industri rambut palsu Purbalingga lebih berkonsentrasi pada pasar ekspor di Amerika dan Eropa,” kata Ketua Asosiasi Pengusahan Indonesia (Apindo) Kabupaten Purbalingga Saryono di Purbalingga, Jumat. Menurut dia, pasar rambut palsu maupun bulu mata palsu produksi Purbalingga di dalam negeri sangat sedikit bahkan cenderung tidak ada.

Saat disinggung kemungkinan adanya persaingan dengan produksi rambut palsu asal China, dia mengatakan, industri wig Purbalingga siap bersaing dengan produk China. “Kami berani bersaing, karena kualitas produk wig Purbalingga tak kalah dengan China,” kata pemilik perusahaan wig PT Tiga Putra Abadi Perkasa Purbalingga ini.

Sementara mengenai permintaan ekspor rambut palsu, dia mengatakan, hal itu terus mengalami perbaikan pascakrisis finansial global. Menurut dia, ekspor rambut palsu saat ini meningkat sekitar 10 persen, tetapi dia tidak menyebutkan total ekspor yang telah dilakukan. Di Purbalingga saat ini terdapat 19 industri wig berstatus penanaman modal asing (PMA) yang sebagian besar berasal dari Korea, dan 18 di antaranya merupakan industri wig dan bulu mata palsu yang sebagian besar melakukan ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa. Data yang dihimpun dari Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Dinperindagkop) Purbalingga, total nilai ekspor industri rambut palsu ke Amerika rata-rata mencapai Rp3,8 miliar perbulan. Konon, industri rambut palsu Purbalingga merupakan yang terbesar kedua di dunia setelah Guangzhou, China.

Koran Internet, 08 Januari 2010

Industri Keramik Klampok Khawatirkan Masuknya Produk China


Industri keramik di Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah mengkhawatirkan masuknya produk China seiring pemberlakuan “free trade agreement (FTA)” antara ASEAN dan China. “Kekhawatiran terhadap masuknya produk luar negeri yang sering dianggap bagus dan berkualitas tetap ada,” kata pengelola kelompok industri keramik “Mustika” Purwareja Klampok, Tri Mulyantoro di Banjarnegara, Jumat.

Kendati demikian, dia mengaku berusaha untuk tetap optimistis karena produk keramik dari Purwareja Klampok memiliki ciri khas tersendiri dengan kondisi pasar yang diharapkan tetap stabil. Ia mengatakan, peran pemerintah sangat diharapkan untuk melindungi industri kecil dalam menghadapi pasar bebas ini. “Mudah-mudahan produk yang masuk ke Indonesia berbeda dengan produk kita,” katanya.

Menurut dia, pengrajin keramik di Purwareja Klampok memiliki produk andalan berupa poci. Akan tetapi, pengrajin akan sangat terpukul jika kelak ada produk poci dari luar negeri yang masuk dengan harga lebih murah dan kualitas yang lebih bagus. “Walau demikian, kami tetap optimistis dan berani bersaing dengan produk luar negeri, khususnya keramik dari China,” kata Tri Mulyantoro.

Koran Internet, 08 Januari 2010