Bakteri Asam Laktat Untuk Terapi Autis


Sudah sejak lama makanan dan minuman yang dihasilkan secara fermentasi dengan bakteri asam laktat menjadi bagian dalam menu makanan sehari-hari di Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan Australia. Bahkan, beberapa daerah di Indonesia, tanpa disadari, makanan hasil fermentasi laktat telah lama menjadi bagian dalam menu makanan keseharian masyarakat.

Beberapa contoh jenis makanan tersebut mungkin bukan saja sudah dikenal, tetapi malah sudah umum disantap. Sebut saja asinan dari Bogor, ikan bekasam dan tempoyak dari Sumatra dan Kalimantan, kimchi, acar, salami, bologna (daging), pindang makassar, budu, serta belacan atau terasi. Bahkan selama pembuatan kecap, tauco, serta terasi, bakteri laktat banyak dilibatkan.

Ada juga yang terbuat dari susu berupa yoghurt, keju, butter, kefir, dan susu asam. Sedangkan yang terbuat dari biji serealia seperti beras dan jagung adalah idli dari India, pui dari Hawaii, pulque dari Meksiko, dan chicha dari Brasil. Bisa disimpulkan, hampir di setiap tempat dan negara selalu ada jenis makanan dan minuman yang merupakan hasil fermentasi bakteri laktat.

Bakteri asam laktat (BAL) Continue reading “Bakteri Asam Laktat Untuk Terapi Autis”

Ada yang Salah dengan Alat Musik Tarawangsa


Tarawangsa adalah alat musik gesek yang biasa dipakai untuk ritus ngaruwat atau ngaraksa yang berarti ungkapan rasa syukur kepada Tuhan pada saat panen tiba. Tarawangsa yang berasal dari Banten, Rancakalong (Sumedang), dan Cibalong, Tasikmalaya.* ACCU.ORG.JP

Ketika suatu tradisi mendapat perubahan, maka akan muncul reaksi pro dan kontra. Begitu pun jika perubahan terjadi pada alat musik tradisional Sunda, tarawangsa. Tarawangsa adalah alat musik gesek yang biasa dipakai untuk ritus ngaruwat atau ngaraksa yang berarti ungkapan rasa syukur kepada Tuhan pada saat panen tiba.

Tarawangsa yang berasal dari Banten, Rancakalong (Sumedang), dan Cibalong, Tasikmalaya, bentuk badan depannya berupa kotak memanjang serta bagian belakang cembung dengan terdapat lubang kecil. Lalu perubahan apa yang terjadi? Dadang Sudianda atau panggilan akrabnya Iyang, pemain sekaligus pembuat alat musik gesek membuat inovasi dengan mengubah tempat lubang kecil di bagian belakang menjadi di badan bagian depan, menipiskan cembung badan belakang, dan membuat tambal peyangga senar di badan depan.

Iyang tentu mempunyai alasan atas perubahan letak dan bentuk tarawangsa itu. Ia menjelaskan bahwa ada kesalahan konstruksi pada tarawangsa di antaranya sebagai alat gesek, konstruksi tarawangsa ternyata untuk alat petik, sehingga suara menjadi kecil. Kemudian suara yang muncul bukan suara asli yaitu akustik, sebab tidak ada ruang untuk pantulan suara. Sehingga tarawangsa memakai alat bantu mikrofon atau spull untuk mengeraskan suara. Continue reading “Ada yang Salah dengan Alat Musik Tarawangsa”

Puisi–Tari dalam Piano Ananda Sukarlan


DENTING pentatonis piano Ananda Sukarlan datar dan runut menjadikan pertunjukkan Libertas Anada Sularlan terasa menyayat.

Lima penari dengan lambaian selendang membentuk simbol pusaran ombak yang menggulung-gulung membuat dada tergetar. Semakin bergemuruh dan terus gemuruh dengan iringan biola Inez Rahardjo,Alto Flute Elizabeth Ashford menjadikan suasana Graha Bhakti Taman Ismail Marzuki (TIM), Minggu (2/1) lalu seperti diterjang badai tsunami. KonserLibertas Ananda Sukarlanmengawinkan antara musik,tari,dan puisi yang dikemas sedemikian rupa hingga terkadang berasa romantis, dan mencekam.

Konser yang digelar Jakarta New Years Concert 2010 ini menyajikan konser piano solo Ananda dengan karya Rapsodia Nusantara No.1 sebagai pembuka. Perpaduan antara komposisi dua lagu daerah Kicir-Kicir dan Si Jali-Jali yang rencak menjadikan pembuka konser Libertas terasa dinamis. Lalu ada Rapsodia Nusantara No.5 yang dimainkan secara apik. Rapsodia Nusantara No.5 merupakan karya Ananda yang terinspirasi dari Yazeed Djamin. Karya Rapsodia Nusantara ini lebih kental nuansa musik-musik Makassar. Continue reading “Puisi–Tari dalam Piano Ananda Sukarlan”

Kompleksnya Meja Putar


Kelompok seni Meja Putar asal Solo menggelar pemeran lukisan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.Pameran menghadirkan kompleksitas warna dan gaya para seniman. Sesuai judul pameran yang diusung, Kompleksekali, 33 lukisan karya kelompok Meja Putar menyajikan karya dengan aliran yang sangat beragam. Pameran satu pekan ini, dari 9-16 Januari 2010, memang menampilkan kompleksitas warna,gaya,dan aliran yang dianut para seniman Meja Putar.

Bermacam aliran tersaji dalam pameran Kompleksekali. Sebut misalnya kubisme,abstrak,realis,ekspresif, hingga surealisme tersaji dalam satu ruang.Tema-tema yang diusung juga beragam. Mulai dari kritik sosial,politik hingga pemandangan menyatu dalam aroma yang berbeda. Kelompok Seni Meja Putar asal Kota Solo,menyajikan itu semua melalui karyakarya lukisan yang terpampang. Tak kurang dari karya yang tampil itu menampilkan situasi kekinian di negeri ini. Karya Jaya Adhi, misalnya memaparkan realitas sosial yang terjadi belakangan ini.

Jaya Adhi mengambil setting duka bangsa ini, yaitu dengan menghadirkan tokoh Gus Dur yang dalam oretannya.Lukisan Gus Dur meninggal dunia dilukis Jaya Adhi dengan judul Ki Semar Wafat. Dengan media minyak pastel di atas kanvas, gambar Gus Dur yang diibaratkan sebagai Ki Semar, dilukis Jaya dengan coretan-coretan bergaya menyilang menggunakan pastel. Ki semar, dalam lukisan Jaya, dilukiskan tergeletak dengan bertelanjang dada, lengkap dengan pelayat yang mengelilinginya. Continue reading “Kompleksnya Meja Putar”

Orkes Puisi Sampak Gusuran di Jakarta


Anis Sholeh Ba’asyin dan Orkes Puisi Sampak GusUran akan menggelar “Suluk Ngeyel” di Ball Room Hotel Nikko Jakarta pada Jum’at 15 Januari 2010 mendatang.

Suluk Ngeyel adalah ekspresi reflektif Anis atas kondisi aktual bangsa, mulai dari geger cicak-buaya, skandal Century sampai dengan geger kesaksian Susno Duadji. Ngeyel adalah kosa kata Jawa untuk menggambarkan orang yang pikiran dan tindakannya tak lagi bisa dikoreksi apalagi dicegah. Dalam pandangan Anis, akrobatik sifat ngeyel semacam inilah yang secara menyolok mendominasi ruang publik akhir-akhir ini.

Seperti biasa, sesuai dengan ciri khas mereka, tema ini akan digarap sebagai benang merah pagelaran yang  menggabungkan unsur puisi, musik dan monolog dalam satu paket yang padu.

Acara yang akan dimulai pukul 19.30 WIB ini diselenggarakan dalam rangka memperingati sewindu berdirinya Indonesian Democracy Monitor (InDemo), sebuah organisasi para aktivis yang bertujuan untuk membangun kesadaran politik yang positif melalui kegiatan-kegiatannya.

Kecuali pagelaran Orkes Puisi Sampak GusUran, dalam acara ini juga akan tampil Dr Hariman Siregar untuk menyampaikan orasi kebudayaan yang bertema “Kembalikan Kedaulatan Kepada Rakyat.”

Kompas, 12 Januari 2010

Kesenian Tradisional “Nandeh” Bengkulu Punah


Salah satu kesenian dari kebudayaan masyarakat Bengkulu, yakni Nandeh, saat ini punah tergilas kesenian moderen, padahal sebelumnya sangat populer di mata masyarakat umum.

“Kesenian yang berasal dan berkembang di wilayah Talo, Masmambang, Manna, hingga Kaur itu di zaman dulu hampir ada di setiap acara warga yang sedang berduka,” kata  Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Bengkulu, Drs Agus Setiyanti, Minggu.

Sekarang ini, tidak ada lagi warga penerus yang berprofesi sebagai pelakon Nandeh tersebut, sedangkan untuk menghidupkan kembali sulit mencari sejarah dan cerita budaya Nandeh itu.

Kesenian Nandeh, katanya, adalah seni bertutur atau berdongeng, untuk menghibur warga yang sedang dilanda musibah, baik ditinggal kerabat terdekat ataupun musibah alam.

Seorang pelakon Nandeh mirip dalang yang bercerita atau pun berdongeng kepada warga yang terkena musibah tersebut, sedangkan dongeng yang diceritakan bertemakan perjuangan dan kejayaan dari para nenek moyangnya terdahulu serta diselingi dengan cerita lucu, sehingga warga terhibur dan duka yang dialami menjadi terlupakan. Continue reading “Kesenian Tradisional “Nandeh” Bengkulu Punah”

Goyang, Gitek, Geol Sunda ke Belanda


Gerakan tari tradisional Sunda yang mengandung 3G, yakni goyang, gitek (gerakan bahu), geol (gerakan pinggul) dipastikan akan diperkenalkan pada dunia melalui Vakantiebeurs 2010 di Utrecht, Belanda 12-17 Januari 2010.

Gerakan 3G yang sempat mengundang pro-kontra di Bandung itu, Selasa (5/1/10) petang ditampilkan oleh sekelompok dara manis di Balairung, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Jalan Merdeka Barat, Jakarta.

Gerakan 3G  dalam tari Rampak Gendang dan Topeng Rehe, serta jaipong itu mendapat sambutan luar biasa dan tepuk tangan yang membahana dari penonton yang memenuhui kursi balairung tersebut. Sejumlah pejabat Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, seperti Direktur Jenderal Pemasaran Sapta Nirwandar,  Direktur Promosi Internasional I Gde Pitana, Kasubdit Promosi Wilayah Eropa  Jordi Paliama turut memberi tepuk tangan.

Show 3G dan  Es Lilin (lagu Sunda) merupakan bagian dari serangkaian kesenian daerah  yang akan dibawa ke Vakantiebeurs, arena pameran pariwisata terbesar di Utrecht, Belanda. Penampilan kali ini  baru gladi resik, latihan, dan mencari masukan. Tari Nusantara dari Sabang hingga Merauke juga akan ditampilkan.

Bob Tutupoly penyanyi legendaris yang serba bisa itu, dalam gladi resik juga turut hadir dan melantunkan empat lagu, yakni Mama Bakar Sagu, Lembe-Lembe, Panggayo, dan Rozen Die Bloeien. “Kami senang luar biasa. Pak Bob Tutupoly bisa mendampingi kami ke Vakantiebeurs,” tutur Jordi Paliama.

Kompas, 06 Januari 2010