Roket RX-200, Bantu Mitigasi Bencana


Mentari masih belum menunjukkan dirinya, tetapi berkas sinarnya sudah terlihat di ufuk timur. Rona awan pun mulai berubah merah keemasan. Mereka bergumul di langit cerah Pameungpeuk pagi itu. Tepat pukul 6.00 WIB, terdengar sayup suara perempuan melakukan hitungan mundur. Tak lama, sebuah benda meluncur ke angkasa dengan kecepatan tinggi sambil memancarkan api dan mengepulkan asap tebal dari ekornya. Suasana yang tadinya sunyi penuh ketegangan, tiba-tiba berubah meriah dengan tepukan tangan dan teriakan puas.

Itulah gambaran suasana saat Lembaga Penerbangan dan Antariksa Negara (Lapan) meluncurkan roket pertama dalam uji terbang muatan satelit mitigasi bencana di Instalasi Uji Terbang Lapan, Jln. Raya Cilauteureun, Pameungpeuk, Kab. Garut, Minggu (20/6). Ada tiga tujuan utama dalam uji coba tersebut, Lapan sebenarnya meluncurkan tiga roket jenis RX-200, tetapi peluncuran roket pertama menjadi kunci keberhasilan uji coba keseluruhan. Pasalnya, roket pertama bertujuan menguji dinamika RX-200. Terbukti, setelah roket pertama meluncur tanpa hambatan, roket kedua dan ketiga pun melesat mulus.

Kendati demikian, peluncuran ketiga sempat tertunda sekitar satu jam akibat melintasnya kapal laut asing Ocean Sierra asal Mesir di Pantai Sayang Heulang yang termasuk areal trajektori yang ditentukan.

Menurut Komandan Peluncuran, Muji Sujarwo, tim Lapan sebenarnya sudah mengevakuasi penduduk dan kapal nelayan yang biasa melintas di area trajektori. “Areal yang sudah disterilkan saat peluncuran roket mencapai radius terdekat 600 meter dan terjauh 2.000 meter. Namun, kapal asing tersebut melintas tanpa mengaktifkan radio komunikasinya. Alhasil, kapal mereka tidak terdeteksi di radar dan baru terlihat oleh stasiun pengamat,” ujarnya. Continue reading “Roket RX-200, Bantu Mitigasi Bencana”

Jika Burung tidak Hidup di Habitatnya


KICAUAN serta keindahan bentuk dan warnanya menjadi daya tarik utama seekor burung. Hal itu sering kali membuat banyak orang terpukau dan ingin memilikinya sebagai hewan peliharaan.

Besarnya permintaan pasar pada akhirnya menjadi faktor utama yang mendorong manusia untuk terus berburu dan mengeksploitasi keberadaan unggas tersebut dari habitatnya. Tidak jarang, pada akhirnya burung-burung tersebut menjadi barang perdagangan antarpulau, bahkan antarnegara.

Sejauh pemantauan “PR”, Jalak Tunggir Merah banyak diperdagangkan di beberapa pasar burung yang ada di Kota Bandung. Di Pasar Burung Sukahaji misalnya, terdapat lebih dari lima puluh burung Jalak Tunggir Merah yang dijual dengan harga sekitar Rp 150.000 per ekor. Tidak menutup kemungkinan pula burung tersebut dapat terlepas dari sangkarnya.

Perdagangan burung antarpulau merupakan salah satu asumsi penyebab adanya burung Jalak Tunggir Merah di sekitar Panaruban. Asumsi lain mengatakan bahwa burung tersebut secara sengaja dilepaskan sebagai syarat ritual keagamaan yang kerap dilakukan umat Buddha di kawasan wisata Gunung Tangkubanparahu. Mereka biasa melakukan pelepasan burung dan binatang lainnya dengan keyakinan hal tersebut akan mendatangkan karma baik. Continue reading “Jika Burung tidak Hidup di Habitatnya”

Burung Endemik Sulawesi Ditemukan di Jawa Barat


Jalak Tunggir Merah

BURUNG Jalak Tunggir Merah (Scissirostrum dubium) ditemukan di Desa Cicadas (Panaruban), Kabupaten Subang, Jawa Barat. burung tersebut diperkirakan telah ada di Panaruban sejak tahun 1990-an. Padahal burung eksotis tersebut merupakan spesies endemik Sulawesi yang diasumsikan tidak memiliki kemampuan untuk bermigrasi ke tempat lain.* Dok.Bicons

KEBERADAAN burung Jalak Tunggir Merah (Scissirostrum dubium) yang belum lama ini ditemukan di Desa Cicadas (Panaruban), Kabupaten Subang, Jawa Barat, merupakan suatu fenomena unik yang cukup menarik perhatian para peneliti. Pasalnya, burung eksotis tersebut merupakan spesies endemik Sulawesi yang hingga saat ini diasumsikan tidak memiliki kemampuan untuk bermigrasi ke tempat lain.

“Masih terlalu dini untuk menya-takan bahwa burung Jalak Tunggir Merah mempunyai kemampuan untuk migrasi karena hingga saat ini belum ada penelitiannya,” ucap Nadia Rahma Yusnita (24), koordinator Bird Conservation Society (Bicons) saat diwawancarai di salah satu kafe Jalan Dipatiukur Bandung, Selasa (25/5).

Di Jawa Barat, Jalak Tunggir Merah diketahui ada di daerah Panaruban, Kabupaten Subang. Keberadaannya pertama kali terdeteksi pada tahun 2005 oleh sekelompok mahasiswa jurusan biologi yang sedang melakukan penelitian ke tempat tersebut. Namun tanpa diduga, hingga saat ini jumlahnya berkembang pesat.

Di Pulau Sulawesi sendiri yang merupakan habitat aslinya, penelitian tentang spesies burung ini belum pernah dilakukan. “Namun, bagi pengamat burung di daerah lain seperti di Jawa Barat, tentunya ini menjadi objek penelitian yang cukup menarik. Mengingat yang namanya burung endemik itu daerah penyebarannya terbatas. Pada kenyataannya, saat ini mereka malah berkembang biak dengan pesat,” ujar Nadia. Continue reading “Burung Endemik Sulawesi Ditemukan di Jawa Barat”

Ada yang Salah dengan Alat Musik Tarawangsa


Tarawangsa adalah alat musik gesek yang biasa dipakai untuk ritus ngaruwat atau ngaraksa yang berarti ungkapan rasa syukur kepada Tuhan pada saat panen tiba. Tarawangsa yang berasal dari Banten, Rancakalong (Sumedang), dan Cibalong, Tasikmalaya.* ACCU.ORG.JP

Ketika suatu tradisi mendapat perubahan, maka akan muncul reaksi pro dan kontra. Begitu pun jika perubahan terjadi pada alat musik tradisional Sunda, tarawangsa. Tarawangsa adalah alat musik gesek yang biasa dipakai untuk ritus ngaruwat atau ngaraksa yang berarti ungkapan rasa syukur kepada Tuhan pada saat panen tiba.

Tarawangsa yang berasal dari Banten, Rancakalong (Sumedang), dan Cibalong, Tasikmalaya, bentuk badan depannya berupa kotak memanjang serta bagian belakang cembung dengan terdapat lubang kecil. Lalu perubahan apa yang terjadi? Dadang Sudianda atau panggilan akrabnya Iyang, pemain sekaligus pembuat alat musik gesek membuat inovasi dengan mengubah tempat lubang kecil di bagian belakang menjadi di badan bagian depan, menipiskan cembung badan belakang, dan membuat tambal peyangga senar di badan depan.

Iyang tentu mempunyai alasan atas perubahan letak dan bentuk tarawangsa itu. Ia menjelaskan bahwa ada kesalahan konstruksi pada tarawangsa di antaranya sebagai alat gesek, konstruksi tarawangsa ternyata untuk alat petik, sehingga suara menjadi kecil. Kemudian suara yang muncul bukan suara asli yaitu akustik, sebab tidak ada ruang untuk pantulan suara. Sehingga tarawangsa memakai alat bantu mikrofon atau spull untuk mengeraskan suara. Continue reading “Ada yang Salah dengan Alat Musik Tarawangsa”

Cuaca Ekstrem Penyebab Banjir


Sering kita mendengar istilah cuaca buruk dari berita yang disiarkan di media massa. Entah dari mana asal padanan kata ”cuaca buruk” ini, tetapi penggunaannya telah menyebar luas di kalangan masyarakat. Padahal, penyebutan ”cuaca buruk” ini tidak sepenuhnya benar. Sebab, definisi ilmiah mengenai cuaca buruk (bad weather) sebetulnya tidak ada. Yang mirip dengan penyebutan cuaca buruk yaitu cuaca dahsyat, keras, berbahaya (severe weather).

Cuaca dahsyat ini mengacu pada fenomena cuaca yang berbahaya dan bersifat merusak serta dapat menimbulkan korban. Bentuk cuaca dahsyat ini berbeda-beda tergantung lintang wilayah, ketinggian, topografi, dan tentu saja kondisi atmosfer setempat. Contoh cuaca dahsyat adalah: badai guruh (thunderstorm), angin topan (hurricanes), siklon tropis (tropical cyclone) badai salju, badai pasir, badai es, angin puting beliung (tornadoes), hujan deras, dan sebagainya.

Cuaca dahsyat seringkali rancu dengan istilah cuaca ekstrem. Itu karena kedua hal tersebut memiliki definisi yang berbeda. Cuaca ekstrem adalah fenomena cuaca yang tidak biasa atau tidak umum terjadi di suatu wilayah. Ketidakbiasaan atau ketidakumuman tersebut digolongkan atau diukur dari keadaan cuaca rata-rata yang terjadi di sana. Continue reading “Cuaca Ekstrem Penyebab Banjir”

Alarm Banjir, Agar Warga Siaga Bencana


Sebenarnya warga yang tinggal di kawasan rawan banjir dapat mempersiapkan diri lebih awal untuk menyelamatkan barang-barang berharga beberapa waktu sebelum banjir datang. Caranya melalui alarm peringatan dini bencara banjir. Petrus, peneliti bidang hidrologi Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (Pusair) Bandung, alarm untuk peringatan banjir ternyata ada mengaku telah menempatkan alat semacam alarm bernama Flood Forecasting and Warning System (FFWS) di beberapa daerah aliran sungai. Di antaranya di Nanjung, Cipadung, Ciparay, dan Dampit.

FFWS terdiri atas remote station, yakni transducer dan agent atau logger, data communication network (DCN), FFWS management center, serta display dan alerting system.

Transducer adalah sensor pengukur tinggi muka air sungai, curah hujan, suhu, kelembapan, dan lainnya. Data yang terekam dikonversi dari analog menjadi digital oleh agent/logger dan mengirim semua data ke Flood Management System (FMC) melalui DCN. FMC akan mengumpulkan data, mengolah data, melakukan penghitungan untuk menghasilkan suatu prediksi beberapa waktu ke depan, dan menyimpan data. Data hasil pengamatan tersimpan dalam suatu data base yang terstruktur baik untuk jangka waktu panjang dan pengolahan lebih lanjut.

Display and alerting system berupa unit output bagi publik dan berperan memberikan peringatan. Bentuknya dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Sistem ini dapat diintegrasikan pada sistem peringatan dini berskala nasional (National Early Warning System). Continue reading “Alarm Banjir, Agar Warga Siaga Bencana”

Listrik dari Dalam Bumi Energi yang Ramah Lingkungan


Hampir semua pembangkit listrik membutuhkan uap untuk membangkitkan listrik. Entah itu pembangkit listrik yang menggunakan gas alam, batu bara, atau yang menggunakan nuklir sekalipun, semuanya digunakan untuk memanaskan air pada boiler sehingga terbentuk uap. Selanjutnya, uap ini digunakan untuk memutar turbin. Turbin akan memutar generator, dan dari generator tersebut, listrik akan dibangkitkan.

Lalu bagaimana dengan pembangkit listrik tenaga panas bumi? Pembangkit listrik tenaga panas bumi berbeda dengan pembangkit listrik pada umumnya. Pembangkit listrik panas bumi meminjam panas dari bumi. Pembangkit listrik panas bumi menggunakan uap dari sumber panas di dalam bumi. Selanjutnya sama seperti pembangkit listrik pada umumnya, uap dari dalam bumi  digunakan untuk memutar turbin yang akan mengaktifkan generator sehingga listrik bisa dihasilkan.

Bagaimana kita bisa mengetahui suatu daerah yang menghasilkan panas bumi dan bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik? Bagian dalam bumi memiliki suhu tinggi. Panas inilah yang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi. Akan tetapi, kita berusaha mencari daerah-daerah yang relatif dangkal. Daerah yang dangkal lebih mudah diambil panasnya secara teknologi. Selain itu, tentunya juga lebih murah dalam hal investasi. Keberadaan sumber panas bumi yang relatif dangkal ini ditandai dengan munculnya geiser, sumber air panas, fumarol, kolam air panas, dan sebagainya. Continue reading “Listrik dari Dalam Bumi Energi yang Ramah Lingkungan”