Bobotoh


MUNGKIN Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) perlu menambahkan satu lema baru yang berasal dari bahasa Sunda, yakni kata bobotoh. Dalam KBBI memang ada kata botoh, yang diberi keterangan bahwa kata ini berasal dari bahasa Jawa. Di sini kata botoh berarti (1) penyabung ayam dsb; (2) pejudi; (3) pelerai; wasit.

Saya yakin para bobotoh Persib Bandung, misalnya, menolak disebut penyabung ayam dan pejudi. Mereka juga pasti tidak sepakat kalau mereka dikelompokkan sebagai pelerai atau wasit—apalagi wasit sepakbola.

Botoh (Jawa) rupanya berbeda arti dengan bobotoh (Sunda), setidaknya menurut dua kamus yang berbeda—meskipun cukup mengherankan bahwa dua kata yang sangat mirip itu berbeda jauh artinya. Menurut Kamus Umum Basa Sunda, yang diterbitkan Lembaga Basa jeung Sastra Sunda, bobotoh berarti purah ngagedean hate atawa ngahudang sumanget ka nu rek atawa keur ngadu jajaten (yang berperan membesarkan hati atau membangun semangat bagi mereka yang akan atau sedang berlomba). Arti ini sesuai dengan pemahaman bobotoh sebagai pendukung tim Maung Bandung.

Dilihat dari popularitas kata ini dalam jagat sepakbola nasional, kata bobotoh layak menjadi bagian dari kamus besar itu.

Namun, lepas dari apakah kelak kata bobotoh masuk KBBI, kata ini sudah identik dengan Persib. Pendukung Persib dikenal dengan sebutan bobotoh dan bobotoh tak bisa dipakai sebagai pendukung tim lain—meskipun sama-sama berasal dari Jawa Barat. Pendukung Persikab Kabupaten Bandung, umpamanya, disebut dengan kata lulugu—meski nyaris tak terdengar gaungnya. Pendukung Persita bukan bobotoh, melainkan lebih dikenal dengan sebutan Benteng Mania. Pendukung Persikabo, Pelita Jabar, dan Persikota juga tak pernah disebut sebagai bobotoh. Continue reading “Bobotoh”

Iklan

Persib dan Risiko APBD


MUSIM kompetisi Liga Super Indonesia (LSI) 2008-2009 telah usai. Persipura Jayapura jadi juara, dan harapan bobotoh agar Persib Bandung meraih posisi runner up—agar bisa bermain di Asian Champions League—pun tak kesampaian. Sebab, meski punya poin yang sama, Persib Bandung kalah selisih gol dan total memasukkan dari Persiwa Wamena. Satu-satunya hiburan, barangkali, Persib Bandung bisa menumbangkan Persija Jakarta, 2-1, pada pertandingan terakhir—meski nun di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Malang, dan bukannya di Jakarta.

Di titik ini, kita bisa menyesali kesempatan untuk meraih poin di kandang yang amat banyak disia-siakan—lawan Persipura Jayapura atau PSM Makasar, misalnya—dan ditekuk oleh tim-tim yang sejahusnya bisa dikalahkan—melawan Pelita Jaya dan terutama Persitara Jakarta Utara, misalnya. Tak heran bila pelatih Jaya Hartono cuma bisa mengelus dada—mengeluhkan kestabilan emosi dan konsentrasi main yang sangat berkaitan dengan mental para pemain. Dengan kata lain, itu yang harus jadi nilai beli utama pemain bila di musim mendatang Persib Bandung mencari, merekrut, dan mengontrak pemain.

Dan bila sampai di titik mengontrak pemain baru—sementara di klausul kontrak Persib Bandung tidak pernah punya pemain yang telah dikontrak untuk sekian musim ke depan dan sekaligus bisa dijual demi modal awal mengontrak pemain lain, sama dengan mengakui ketidaksehatan manjemen keuangan dari sebagian besar klub peserta kompetisi resmi yang dikelola PSSI cq BLI. Terutama tim yang basisnya perserikatan, dan yang sumber pembiayaannya berasal dari subsidi APBD kota/kabupaten—meski kemudian bisa mencari sponsor dan memperoleh pemasukan dari karcis saat main di kandang.

Yang tak lagi bisa diandalkan karena sejak tahun 2007 kemarin sudah disemprit oleh Mendagri—agar tak menggelontorkan dana rakyat untuk satu cabang olahraga secara terus-menerus dan besar-besaran. Karena, secara logis, dana subsidi untuk pos sepak bola itu merupakan dana total yang dicadangkan untuk macam-macam cabang olahraga di satu sisi, dan bukan untuk perserikatan ikut kompetisi karena di pos dana sepak bola itu ada dana pembinaan dan kompetisi klub yang diayomi perserikatan. Ini yang menyebabkan terjadinya perselingkuhan antara legislatif dan eksekutif—bupati dan wali kota terkadang jadi ketua umum dan manajer perserikatan—demi sulap dana mengucur dari APBD lewat pos-pos absur dan keliru secara tertib administrasi.

Kehancuran Persik Kediri pada paruh musim 2008-2009 bermula dari subsidi pencatutan dana APBD untuk Persik Kediri tidak lewat pos dana anggaran yang jelas tertulis untuk Persik, tapi dilakukan via “peminjaman” dana yang dianggarkan untuk pos dana membangun sebuah institusi pendidikan. Risiko bermain sulap yang diatur oleh wali kota Kediri itu tak tersembunyikan lagi ketika si wali kota yang sudah sekali menjabat itu tak bisa nyalon lagi dan si jagoan yang disiapkannya gagal dalam  pemilihan. Maka terjadi pemotongan dana APBD untuk Persik Kediri di satu sisi dan kewajiban mengembalikan dana ke APBD di sisi lain—pelelangan pemain bintang.

Nasib yang sama juga dialami Persebaya Surabaya di divisi utama, yang cemerlang di separuh musim, tapi harus merasionalisasi gaji dan nilai kontrak pemain karena ancangan dana subsidi dari APBD kota Surabaya tak bisa divalidisasi dan jadi sumber cash flow untuk separuh musim berikutnya. APBD tidak bisa lagi diandalkan, sponsor tidak mungkin dicari di separuh musim sisa, dan karenanya para pengurus terpaksa merogok kocek pribadi dan berutang di mana-mana. Pemain dan pelatih pun berganti. Prestasi jadi angin-anginan, dan kini mereka berada di ujung tanduk—antara mungkin dan tak mungkin menang di laga play off lawan PSMS Medan.

Dengan kata lain, aspek konstitusi di DPRD—bagi eksistensi subsidi dana APBD—dan sekaligus legalitas pencairan dan pemakaian dana yang tercatat resmi di APBD itu bergantung pada (a) lobi ketua umum ke pihak DPRD yang membuat perda dalam ujud APBD dan birokrat yang bertugas mencairkan dana yang telah tertulis legal, dan (b) bagaimana klub perserikatan yang didanai itu mampu mempertanggungjawabkan pemakaian dana itu lewat prestasi dan terutama pertanggjawaban pengunaan dana. Hal itu, memaksa ketua umum jadi politisi yang melobi DPRD dan birokrat yang me-manage anggaran yang dipersiapkan pada RAB Nasional. Sebuah permainan yang rumit—tak sesederhana teriakan bobotoh minta ganti pemain. Lobi yang merentang, dan karenanya menyadarkan kita: subsidi APBD tak boleh jadi fondasi membangun Persib.

Satu-satunya sumber dana potensial yang bisa dijadikan patokan dalam rangka mempersiapkan Persib Bandung di masa depan—setidaknya di musim kompetisi 2009-2010—adalah kecintaan para bobotoh. Tepatnya, prestasi Persib Bandung yang bisa mengundang sebanyak mungkin bobotoh untuk datang dan menonton Persib Bandung main di kandang.

Dan karenanya Persib Bandung membutuhkan stadion yang mampu menampung sebanyak mungkin bobotoh. Untuk itu Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, yang mampu menampung 27.000 penonton sudah memadai. Karenanya, manajemen Persib Bandung harus melakukan ikatan kontrak sewa stadion yang permanen dengan Pemda Kabupaten Bandung secepatnya agar pos pemasukan dari tiket pertandingan terjamin.

Meski pemasukan dari bobotoh itu menuntut syarat: tak terjadi kerusuhan yang akan membuat Persib Bandung dihukum larangan main di Stadion Si Jalak Harupat. Untuk itu (a) semua bobotoh harus bisa menahan diri, tak terpancing anarkistis, dan sekaligus menganggap Persib Bandung sebagai milik mereka yang berharga dan bisa hidup perkasa tanpa subsidi dana APBD. Sekaligus (b) manajemen Persib Bandung tidak menganggap bobotoh itu cuma tukang teriak yang gampang marah tapi justru sebagai sang pemegang saham yang harus diberi informasi sejati tentang kondisi keuangan dan pemain Persib Bandung terkini.

Mereka harus dimuliakan sebagai sang pemilik sah Persib Bandung—bukan milik wali kota Bandung, DPRD, atau pelatih. Sekaligus—karena dana dari bobotoh tidak akan cukup—manajemen tetap harus mencari sponsor secara agresif dan kreatif—sumber dana yang amat besar dan yang besarannya itu bergantung dari prestasi Persib Bandung sendiri. Tapi bobotoh masih tetap bisa aktif menunjang  pendanaan bagi Persib Bandung, dengan membeli merchandise Persib Bandung legal —yang lebih mahal. Mungkin juga dengan kaus resmi yang ditandatangani si pemain yang harganya berlipat tapi uangnya masuk ke kas.

Ambillah setiap orang menyumbang Rp 5.000, dikalikan 27.000 penonton dan 17 kali menonton—sekitar Rp 2.295.000.000. Lebih dari lumayan—dan karenanya semua bobotoh bisa mengaku bahwa Persib Bandung itu “Persib Aing”.

Tribun Jabar, 20 Juni 2009

Membangun Persib yang Terdidik


MINGGU (12/4) ada kencan di Stadion “Si Jalak Harupat”, Soreang, dengan saudara dari Bogor dan Garut: nonton Persib Bandung lawan Sriwijaya FC leg ke-2 Copa Indonesia. Acara itu seperti kebetulan dihadirkan saat saya harus ada di Soreang—setelah perjalanan 10 jam, dengan kereta, dari Madiun.
Pukul 17.00 duduk berselonjor di areal parkir depan pintu IV Utara, capai berputar dari areal IV pintu Selatan—setelah memarkir kendaraan di luar dan masuk via lubang terobosan di pagar kawat berduri. Menyimak gairah dan sesekali teriak sesama Viking yang entah siapa. “Dua enol?” jadi kata kunci yang dibalas pengiyaan atau harapan—”Tilu enol, euy!” Dan seseorang—dengan anak empat tahun—muncul, menyalami dan bilang baru nonton Persikab Bandung keok dari Persisam Samarinda—”Anjing, gelo.” teriak batin, mengikuti kata kunci lain para bobotoh.
Kawan itu memilih pulang, tak bisa menonton Persib pada pukul 19.00—anaknya minta pulang. Dan cekaman bobotoh, diksi “anjing” tetap memenuhi benak, seiring ingatan pada omongan sutradara Benny Yohanes, yang bilang, secara semiotik diksi bobotoh itu kasar. Maksudnya “Persib aing”, bukan yang lebih santun dan tandas mengungkapkan kepemilikan dari batin—misalnya “Persib abdi”, “Beubeureuh Persib” atau “Tumbal Persib”. Pilihan diksi yang menandakan agresivitas bobotoh—sejajar dengan nama diri Viking, yang mengandaikan agresivitas para kolonis Eropa Utara zaman dulu.
*
Sejajar dengan atmosfer menonton yang selalu mengharapkan Persib menang, yang selalu merasa harapan yang dipercayakan itu dikecewakan Persib hingga semua sepakat untuk memaki “anjing” jadi kata kunci. Dan semua kemarahan itu, saat gol tak juga terjadi, tertuju ke pelatih, Jaya Hartono—mulai dari “Jaya, sia mah sare!”, “Jaya, ulah molor wae”, “Jaya, mengbal euy lain nguseup”, “Jaya, sia mah lain urang Sunda”. Dan ketika gol terjadi, semua penonton meloncat-loncat dan berteriak—lantai beton dan bahkan stadion bergetar, mungkin setara kisaran (gempa) 2 atau 3 di skala Richter. Karenanya semua lelaki di situ, yang dahulu terkenal harak dan suka gelut, angkat tangan pada agresivitas bobotoh mengamalkan spirit “Persib aing”.
Tapi apa itu kelemahan, kelebihan, atau destruktif karena aspek harapan yang berlebih, yang membuat Hilton Moriera, Christian Gonzalez, dan Maman Abdurahman stres setiap mau main, yang menyebabkan semua skema main, bakat, dan agresivitas down—baik saat lawan PSM Makassar, Persipura Jayapura, atau penalti menyamping bagai tendangan si Kepoh pada malam itu. Situasi yang membuat mental tim depresif, tidak kuat menanggung harapan—saat dukungan yang harusnya positif jadi beban— dan ketika mental digerogoti maka permainan jadi minimalis—bola dilambungkan ke depan mengharapkan agresivitas striker, dan karenanya amat gampang dimatikan. Saat  permainan mengecewakan bobotoh maka kecintaan jadi agresivitas pelecehan (diri).
* Continue reading “Membangun Persib yang Terdidik”

Persib: Aset atau Beban Publik?


SECARA finansial, Persib masih merupakan beban publik. Pertama, kalau memang Persib merupakan aset, mungkin sudah dari dulu Persib diincar dan kemudian diakuisisi oleh para pengusaha/investor. Pebisnis tulen biasanya punya naluri tajam, instingtif dan kreatif dalam menangkap peluang usaha.

Kenyataannya tidak begitu. Sampai sekarang belum ada investor yang serius mau menanamkan modalnya di Persib. Persib dan perubahan status badan hukumnya menjadi perseroan terbatas (PT) kelihatannya bukan peluang bisnis. Di mata pebisnis, Persib rendah atau bahkan belum punya nilai jual. Kalau saja Persib itu sama dengan aset Pemkot seperti tanah atau gedung, mungkin proses tukar gulingnya (ruilslag) sekarang sudah selesai.

Kedua, sampai saat ini Persib merupakan lembaga yang berat di ongkos (cost center), bukan lembaga yang menghasilkan keuntungan (profit center). Sialnya, yang jadi sumber keuangan Persib selama ini adalah dana hibah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bandung. Dua kombinasi ini—lembaga yang berat di ongkos dan ketergantungan pada dana hibah—semestinya menyadarkan kita sejak awal akan rentannya Persib. Continue reading “Persib: Aset atau Beban Publik?”

Jangan Tangisi Piala Asia


PELUANG Indonesia untuk berlaga kembali di Piala Asia nyaris pupus. Pasukan Garuda peluangnya menipis setelah  kalah 1-2 dan 1-1 melawan Kuwait. Dua lawan berikutnya adalah Oman dan Australia. Pada leg pertama, kedua tim tersebut berhasil ditahan pasukan Bendol (Benny Dollo) masing-masing dengan skor 0-0.

Melihat dua calon lawan pasukan Bendol berikutnya sungguh sangat memiriskan. Lawan Oman meski  bertanding di Jakarta, bukan pertandingan yang gampang. Apalagi Indonesia harus menang untuk melebarkan kembali peluang.

Lawan Australia apalagi. Hasil seri di Jakarta bukan jaminan bagi pasukan Indonesia untuk merain poin penuh. Bermain di kandang lawan tentu sangat berat buat pasukan Bendol. Sebagai catatan, ketika bermain di Jakarta, Australia tidak menurunkan para pemain topnya yang berlaga di Liga Inggris. Alasannya Socceros tengah membidik Piala Dunia. Continue reading “Jangan Tangisi Piala Asia”

Pemain Pelapis Persib


TINGGAL hitungan hari Persib harus kembali mengarungi ketatnya Liga Super Indonesia. Lawan pertama yang harus dihadapi adalah Pelita Jaya di Stadion Jalak Harupat, 21 November. Pertandingan ini sebagai pembuktian kepada fans Maung Bandung, layakkah manajeman menargetkan meraup gelar juara pada musim ini.

Target merengkuh gelar juara adalah untuk kesekian kalinya dicanangkan. Hasilnya, semua sudah tahu, tak pernah satu kali pun Maung Bandung menjadi juara sejak Sutiono cs menyabet gelar Liga Indonesia pertama.

Prestasi Persib turun-naik. Bahkan nyaris terdegradasi kalau saja PSSI tidak menurunkan aturan baru di tengah kompetisi berlangsung. Pada musim lalu Maung Bandung berada di posisi ketiga di bawah sang juara Persipura dan Persiwa Wamena. Continue reading “Pemain Pelapis Persib”

Brasil 2016


DALAM suatu kunjungan ke Itabashi Incineration plant alias pabrik pengolahan sampah di Tokyo tiga tahun silam, manajer pabrik tersebut mengatakan kepada saya: Jika kota Anda ingin bersih dari sampah, maka mungkin harus digelar Olimpiade di kota Anda.

Ia mencontohkan bahwa Jepang umumnya dan Tokyo khususnya juga sempat “jorok”. Namun segenap warga negara bahu-membahu dan bekerja keras untuk menjadikan Tokyo serta Jepang bersih dan rapi demi menyambut Olimpiade 1964.

Dalam konteks saat ini, setiap negara bangsa di dunia pun bersaing menjadi tuan rumah Olimpiade tersebut. Hal ini bukan sekadar prestise, melainkan juga sumber pendapatan ekonomi, dan agar tercatat dalam sejarah dunia. Bukan tidak mungkin ajang ini akan mendorong kemajuan suatu negeri untuk masa-masa mendatang. Continue reading “Brasil 2016”