Mahathir Kunjungi Dua Tempat Bersejarah di Makassar


Mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Tun Mahathir Muhammad dijadwalkan dalam lawatannya ke Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Rabu (13/1) mengunjungi dua tempat bersejarah.

“Kedua tempat bersejarah dan memiliki nilai budaya yang tinggi itu adalah Benteng Ujung Pandang atau Fort Rotterdam di Makassar dan Rumah Adat Balla Lompoa di Kabupaten Gowa,” kata Ketua Panitia Seminar Internasional Dr Majdah Muhiddin Agus Arifin Nu`mang di Makassar, Selasa.

Dia mengatakan, kehadiran mantan PM Malaysia itu, untuk menghadiri seminar internasional yang digelar Kamis (14/1) di Baruga AP Pettarani, Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.

“Beliau akan menjadi pembicara utama untuk membahas tema seminar yang diangkat yakni `Demokrasi untuk Kesejahteraan Rakyat`,” katanya.

Khusus mengenai lokasi kunjungan ke kedua tempat bersejarah itu, Majdah mengatakan, hal tersebut merupakan bagian dari program “city tour” yang disiapkan pihak panitia dari Rektorat Unhas.

Benteng Ujung Padang merupakan peninggalan bersejarah kota yang berjulukan “Anging Mammiri” ini. Dibangun pada tahun 1545 oleh kerajaan Gowa. Kemudian benteng yang letaknya di tepi laut (Pantai Losari) itu direbut dan dibangun kembali pada tahun 1667 oleh Belanda.

Dinding luar yang tebalnya dua meter dan tinggi tujuh meter membentuk kotak yang besar. Di setiap sudut dan pintu utama dibuat benteng pertahanan yang menonjol ke luar dalam bentuk berlian, membuat benteng sulit ditundukkan, sehingga Belanda dapat bertahan di sana selama ratusan tahun pada masa penjajahan.

Hingga kini, benteng itu masih menjaga laut Makassar dan mempertontonkan contoh besar dari arsitektur kolonial Belanda. Tempat tersebut juga merupakan pusat kebudayaan, museum hidup untuk Sulsel yang dilengkapi dengan Museum Lagaligo yang memajang benda-benda pusaka dan bersejarah.

Sementara rumah adat Balla Lompoa yang terletak di Sungguminasa, Kabupaten Gowa di dalamnya terdapat museum yang menyimpan benda-benda pusaka seperti mahkota (salokoa) yang terbuat dari emas murni seberat 1.786 gram dan berhias 250 gram berlian mendapat urutan pertama.

Benda pusaka tersebut diyakini sudah ada sejak Raja Gowa pertama Tumanurung Bainea yang memerintah antara tahun 1.300-1.345 Masehi.

Kompas, 13 Januari 2010

Pulau Bawean Terisolasi


Cuaca buruk yang ditandai gelombang air laut besar mengakibatkan arus pelayaran menuju Pulau Bawean macet total hingga batas waktu yang belum jelas. Akibatnya, masyarakat Pulau Bawean terisolasi dan pasokan kebutuhan pokok terhenti.

Pada hari biasa, pelayaran ke Pulau Bawean berlangsung dua hari sekali. Namun, sejak Rabu (6/1/2010) tak ada pelayaran ke Bawean karena gelombang laut mencapai lebih dari 3 meter.

Iksan (28), warga Surabaya yang tengah berlibur ke Pulau Bawean melalui ponsel, mengatakan, cuaca buruk akan melanda perairan laut Bawean dalam dua pekan ini sehingga pelayaran ditutup sementara.

“Saya tiba di Bawean pada Rabu dan rencana kembali ke Surabaya, Minggu (10/1/2010), tapi tak ada kapal yang berlayar karena gelombang tinggi,” paparnya, Senin.

Berdasarkan ramalan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Maritim Perak, ketinggian gelombang di Perairan Bawean dan Masalembu dalam pekan ini mencapai 3,5 meter. Puncak ketinggian gelombang terjadi esok hari.

Tribun Jabar, 11 Januari 2010

Museum, Andalan Wisata Indonesia 2010


Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata  mengandalkan museum sebagai salah satu tujuan wisata yang dipromosikan pada 2010. “Tahun ini kami tetapkan sebagai tahun kunjungan museum,” kata Direktur Promosi Dalam Negeri Kementerian Budpar, Fathul Bahri, di Jakarta, Kamis (7/1/2010).

Ia mengatakan, 2010 sudah menjadi komitmen bagi pihaknya untuk menjadikan museum sebagai salah satu aset yang dipromosikan kepada wisatawan baik mancanegara maupun domestik.

Pihaknya juga telah meluncurkan Gerakan Nasional Cinta Museum akhir tahun lalu. Kegiatan itu merupakan gerakan bersama antar-komponen bangsa untuk memperkuat apresiasi masyarakat terhadap nilai kesejarahan dan budaya bangsa melalui peningkatan kualitas pelayanan museum.

“Dengan begitu, kami harapkan target kunjungan wisatawan tahun ini dapat tercapai atau bahkan melampaui,” katanya.

Pihaknya pada 2010 menargetkan mampu menjaring 7 juta wisman dengan perolehan devisa 6,75 miliar dolar AS dan menggerakkan wisatawan nusantara sebesar 230 juta perjalanan dengan pengeluaran Rp 138 triliun.

“Kami optimistis angka itu akan tercapai sepanjang tidak terjadi gangguan signifikan di negara kita,” katanya.

Indonesia tahun lalu mampu menjaring 6,459 juta wisman atau meningkat 0,4 persen dibanding 2008. Sedangkan pergerakan wisnus 2009 sebesar 226 juta perjalanan dari sebelumnya 225,4 juta perjalanan pada 2008.

Menurut Fathul, pariwisata Indonesia yang tumbuh tipis merupakan prestasi di tengah kemunduran sektor pariwisata dunia. “Negara lain seperti Australia dan Thailand tumbuh negatif, kita bisa bertahan padahal mempertahankan target itu adalah suatu perjuangan berat di tengah krisis global,” katanya.

Pariwisata Indonesia pada 2009, kata Fathul, menghadapi tiga tantangan serius sekaligus sepanjang tahun yakni kasus flu babi, krisis global, dan terorisme melalui aksi pemboman.

“Meski begitu, pada akhirnya sektor pariwisata Indonesia mampu mempertahankan bahkan tumbuh positif,” tambah Fathul Bahri.

Kompas, 07 Januari 2010

2,2 Juta Wisman ke Bali Takkan Terulang


Jumlah wisatawan mancanegara ke Bali pada 2009 dinilai sangat fenomenal, yakni mencapai 2,2 juta orang. Itu merupakan jumlah tertinggi dalam sejarah kunjungan wisman ke Bali. Namun, angka kunjungan tersebut diprediksi tidak akan terulang tahun ini.

Salah satu pemilik jaringan pariwisata Grup Santrian, Ida Bagus Sidharta Putra, menyatakan, sepanjang 2009, Bali mendapat limpahan wisatawan yang sedianya berwisata ke Thailand. Kondisi kepariwisataan di Negeri Gajah Putih itu tahun kemarin buruk akibat kisruh politik dalam negeri.

“Saya kira sulit mengulang tingginya jumlah wisman tahun lalu di tahun ini seiring membaiknya kondisi politik Thailand. Pemesanan kamar pada awal tahun ini pun tidak sebaik tahun lalu. Sudah ada beberapa pembatalan dari wisatawan Rusia dan Eropa lainnya, itu berarti mereka masih atau baru terkena imbas krisis keuangan global,” kata Sidharta Putra di Denpasar, Sabtu (9/1/2010).

Regional Director Market Management Agoda, sebuah biro perjalanan wisata yang berkantor pusat (untuk kawasan Asia Pasifik) di Bangkok, Thailand, Oliver Libutzki, menyatakan hal senada. Menurut dia, pariwisata Thailand dan juga Malaysia telah berbenah dan optimistis bangkit tahun ini. Pemesanan kunjungan ke Thailand tahun ini, kata dia, sudah mencapai 60.000 orang per hari.

“Thailand punya pantai yang jauh lebih indah dari Bali. Bali sudah kotor dan macet. Waktu tempuh dari kawasan lain, termasuk Eropa dan Amerika, lebih singkat dibanding Bali. Jadi, jika ingin bertahan, maka Bali harus bekerja sangat keras,” kata Oliver.

Jumlah wisman ke Bali pada 2009 ditargetkan 1,9 juta orang setelah pada awal dipatok 2,1 juta orang. Revisi dilakukan terkait terjadinya krisis ekonomi global. Jumlah kunjungan wisman tahun 2008 sebanyak 1,8 juta orang. Target kunjungan tahun ini dipatok antara 2,3 juta dan 2,5 juta orang.

Kompas, 09 Januari 2010

Babel Jadi Bali Kedua?


SELAIN kaya timah, Bangka Belitung menyimpan keelokan alam yang memukau. Hasrat menjadikan Negeri Laskar Pelangi ini sebagai Bali kedua,pun rasanya tidak berlebihan.

Kesuksesan novel Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi karya Andrea Hirata tak dimungkiri turut mendongkrak popularitas Provinsi Bangka Belitung (Babel).Apalagi ketika novel ini difilmkan dengan judul sama, kian banyak masyarakat di luar Babel yang penasaran ingin menjelajah kecantikan alam dan pantai di Babel, terutama Belitung atau yang kerap disebut Belitong oleh masyarakat setempat. Sejak itu, Belitung lekat dengan julukan Negeri Laskar Pelangi. Jika Anda bertandang ke Belitung dengan menaiki pesawat misalnya, papan bertuliskan “Selamat Datang di Negeri Laskar Pelangi” langsung menyambut begitu tiba di Bandar Udara (bandara) Hanandjoeddin di Tanjung Pandan, Belitung.
Continue reading “Babel Jadi Bali Kedua?”

Tempat Wisata masih Diserbu Pengunjung


Objek wisata air Bojongsari (Owabong) Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng), masih menjadi daya tarik wisatawan untuk dikunjungi.

Bahkan, pada hari terakhir liburan Natal dan tahun baru, jumlah pengunjung masih ribuan. Namun diperkirakan tidak akan setinggi pada 1 Januari yang mencapai 7.000 pengunjung.

“Hari ini, saya perkirakan mencapai 3.500-4.000 pengunjung. Tetapi pada umumnya mereka adalah wisatawan lokal. Bukan seperti pengunjung pada 1 Januari lalu yang rata-rata berasal dari luar kota,” kata Manajer Pemasaran Agus Dwiyantoro, Minggu (3/1).

Setidaknya dalam sepekan terakhir, jumlah pengunjung di Owabong mengalami kenaikan sampai dua atau tiga kali lipat. “Rata-rata harian pengunjung hanya mencapai 1.500-2.000 orang. Tapi pada musim liburan kali ini pengunjung mencapai 4.000 bahkan puncaknya mencapai 7.000 pengunjung,” ujarnya.

Sementara di kawasan wisata alam Baturraden, Banyumas, jumlah pengunjung yang menikmati indahnya alam di kawasan itu juga melonjak. “Saat sekarang, rata-rata jumlah kunjungan mencapai 2.000 orang per hari. Kenaikannya memang cukup signifikan karena pada hari-hari biasanya hanya sekitar 500-1.000 pengunjung,” jelas Kepala Unit Pelaksana Teknis Lokawisata Baturraden Sudarto.

Media Indonesia, 03 Januari 2010

Sentra Batik Giriloyo Jadi Desa Wisata


Sentra kerajinan batik tulis di Giriloyo, Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mulai disiapkan menjadi desa wisata bersama sentra kerajinan kulit Dusun Pucung, Desa Wukirsari.

“Untuk mengawali sebagai desa wisata, saat ini sekitar sepuluh rumah warga di Giriloyo disiapkan sebagai penginapan wisatawan yang berkunjung ke desa itu,” kata Ketua Paguyuban Perajin Batik Tulis Giriloyo Nur Ahmadi di Bantul, Yogyakarta, Rabu (6/1).

Ia mengatakan setiap libur panjang akhir pekan dan libur hari besar keagamaan, sentra ini mulai dikunjungi banyak wisatawan nusantara (wisnus). Mereka selain berwisata, juga berbelanja batik tulis produk perajin setempat.

“Oleh karena itu, dengan menyediakan rumah warga sebagai penginapan wisatawan, diharapkan mereka lebih lama tinggal di Giriloyo, apalagi sebagian besar wisatawan datang dari luar DIY,” katanya.
Continue reading “Sentra Batik Giriloyo Jadi Desa Wisata”