Aktivasi Otak Tengah, ”Menyulap” Anak tanpa Mantra


SEORANG anak mewarnai dengan mata tertutup di Bandung, beberapa waktu lalu. Saat ini tengah berkembang sebuah metode yang disebut sebagai aktivasi otak tengah dimana metode ini mengaktifkan fungsi otak tengah dengan menggunakan prinsip gelombang otak. Jadi, hanya dengan diperdengarkan musik tertentu dan juga serangkaian kegiatan beserta latihan, anak-anak yang asalnya biasa-biasa saja bisa menjadi luar biasa.* DUDI SUGANDI/”PR”

Beberapa bulan belakangan ini, media massa kita sedang dirambahi suatu fenomena yang menakjubkan. Ya, fenomena ini berupa tayangan dan artikel mengenai anak-anak jagoan dengan mata ditutup. Mereka beratraksi layaknya pesulap cilik. Ada yang mewarnai gambar, ada yang membaca, bermain kartu, bermain catur, bermain rubik, hingga bermain sepeda. Kesemuanya melakukan aktivitas seperti normal saja. Padahal, mata mereka ditutup dengan kain yang cukup tebal. Bagaimana bisa?

Adalah sebuah metode yang disebut sebagai aktivasi otak tengah. Metode ini ditengarai sebagai alasan di balik kehebatan anak-anak tersebut. Apa sebenarnya aktivasi otak tengah itu? Bagaimana bisa metode tersebut membuat anak-anak menjadi hebat?

Aktivasi otak tengah adalah sebuah metode pengaktifan fungsi otak tengah yang menggunakan prinsip gelombang otak. Jadi, hanya dengan diperdengarkan musik tertentu dan juga serangkaian kegiatan beserta latihan, anak-anak yang asalnya biasa-biasa saja bisa menjadi luar biasa.

Aktivasi otak tengah tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Hanya anak  berusia antara 5-15 tahun yang bisa melakukannya. Alasan logis di balik syarat ini kemungkinan besar adalah karena anak-anak yang berada dalam rentang usia ini mempunyai otak yang masih fresh, mudah disuruh, mudah diberi sugesti, dan bisa digiring untuk rileks. Lanjutkan membaca “Aktivasi Otak Tengah, ”Menyulap” Anak tanpa Mantra”

Mendiknas: Hasil UN untuk Intervensi Perbaikan Sekolah!


Hasil Ujian Nasional 2010 akan benar-benar serius dimanfaatkan sebagai pemetaan pendidikan. Karena itu, evaluasi UN bukan hanya untuk menentukan kelulusan siswa, melainkan juga sebagai dasar bagi pemerintah untuk mengintervensi perbaikan layanan pendidikan di sekolah-sekolah.

“Tidak perlu mempertentangkan UN untuk kelulusan atau pemetaan saja. Jika hasil UN hanya untuk pemetaan tanpa ada konsekuensi pada kelulusan, maka nanti kita tidak akan tahu yang sebenarnya soal kondisi riil kemampuan siswa kita,” kata Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan Nasional, dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR RI di Jakarta, Senin (11/1/2010).

Menurut Nuh, penilaian kelulusan dengan melihat hasil UN dalam pandangan pemerintah masih merupakan metode evaluasi yang terbaik sampai saat ini. “Tetapi, kami terbuka untuk perbaikan ke depannya,” kata Nuh.

Fasli Jalal, Wakil Menteri Pendidikan Nasional, menambahkan tidak ada keinginan pemerintah untuk memaksakan pelaksanaan UN tanpa dasar. Kebijakan UN seperti sekarang ini merupakan konsekuensi dari PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

“Sebelum PP diubah, kami tetap mengikuti. Namun, pemerintah siap untuk mencari evaluasi yang terbaik,” kata Fasli.

Kompas, 11 Januari 2010

Nilai Kelulusan Diusulkan Proporsional


Nilai kelulusan siswa SMP/SMA sederajat harus proporsional. Ujian nasional jangan dijadikan sebagai penentu utama kelulusan siswa. Aspek lain, seperti kemampuan siswa selama belajar, ujian sekolah, dan perilaku siswa, perlu dipertimbangkan secara proporsional.

”Jangan lagi UN jadi yang paling besar bobotnya dalam penentuan kelulusan siswa. Penilaian hasil evaluasi itu mesti saling melengkapi, bukan saling menjatuhkan” kata S Hamid Hasan, ahli evaluasi pendidikan dari Universitas Pendidikan Bandung, yang dihubungi dari Jakarta, Minggu (10/1/2010).

Menurut Hamid, sinyal dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyempurnakan UN merupakan angin segar untuk keluar dari berlarut-larutnya masalah UN yang menghambat penyediaan layanan pendidikan berkualitas.

”Asal jangan sekadar untuk pernyataan politik. Kita harus benar-benar memikirkan kualitas lulusan seperti apa yang ingin dihasilkan dari sekolah? Tentu yang berkualitas secara keseluruhan, bukan hanya karena mengejar nilai UN,” jelas Hamid.

Peta pendidikan

Pendapat senada dikemukakan Elin Driana, Koordinator Education Forum. Meskipun UN ulang merupakan salah satu kebijakan yang baik untuk siswa, persoalan UN tidak berhenti di masalah peningkatan teknis pelaksanaan. Lanjutkan membaca “Nilai Kelulusan Diusulkan Proporsional”

Disiapkan, Penyelarasan Pendidikan dan Dunia Kerja


Penyelarasan pendidikan dan dunia kerja bukan hanya untuk menyiapkan lulusan yang siap kerja karena memiliki keterampilan atau keahlian yang dibutuhkan dunia industri. Penyelarasan pendidikan mesti juga melatih lulusan untuk mampu mandiri menjadi wirausaha yang membuka lapangan kerja bagi dirinya maupun orang lain.

“Penyelarasan pendidikan dan dunia kerja jadi fokus yang penting saat ini. Untuk mewujudkannya, perlu sinergi dengan banyak pihak,” kata Hamid Muhammad, Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Kementrian Pendidikan Nasional, di Jakarta, Minggu (10/1/2010).

Hamid yang juga Koordinator Program Penyelarasan Pendidikan dan Dunia Kerja Kementrian Pendidikan Nasional, mengatakan penyalarasan mendesak dilakukan karena kenyataan di masyarakat menunjukkan makin tinggi pendidikan seseorang, makin rendah kemandirian. Kondisi tersebut tercermin dari semakin meningkatnya pengangguran terdidik di jenjang pendidikan menengah dan tinggi.

Untuk pendidikan kewirausahaan, kata Hamid, bukan hanya dikembangkan di persekolahan dan perguruan tinggi. Pendidikan di luar sekolah seperti keaksaraan, lembaga kursu, dan pendidikan masyarakat juga kan dikembangkan.

Di Indonesia ada sekitar 10.000 lembaga kursus dan lima ribu pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang juga perlu sentuhan penyelarasan dengan dunia kerja, baik dalam peningkatan keterampilan, maupun pendidikan kewirausahaan.

Hamid mengatakan implementasi penyelarasan pendidikan dan dunia kerja yang bersifat lintas sektor itu nantinya diatur dalam general frame work. “Acuan itu akan diluncurkan akhir Januari ini, sebagai bagian dari 100 hari program kerja Mendiknas,” kata Hamid.

Kompas, 10 Januari 2010

Bahasa dan Kesusastraan Banjar Masuk Sekolah


Kesusastraan dan bahasa Banjar sebagai bahasa ibu masyarakat Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan akan dimasukkan dalam muatan lokal di sekolah. Saat ini, kian banyak masyarakat setempat yang tidak lagi bisa berbahasa Banjar secara baik.

Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) Rudy Ariffin mengatakan, upaya untuk memasukkan bahasa Banjar ke dalam muatan lokal sudah ditempuh melalui rancangan peraturan daerah tentang pendidikan, yang kini masih berada di tangan DPRD Kalsel. Diharapkan, dalam waktu dekat peraturan daerah itu sudah bisa terealisasi.

“Mengapa kita masukan bahasa ini ke sekolah, ini untuk menjaga identitas sosial dan etnik masyarakat banjar sendiri,” ujar Rudy saat memberi sambutan pada Seminar Nasional Linguistik di Banjarmasin, Senin (11/1/2010).

Menurut Rudy, keberadaan orang Banjar tersebar luas hingga ke luar Kalsel. Ia mencontohkan orang Banjar di Riau, Jambi, dan Sumatera Utara, juga menggunakan bahasa Banjar sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Di Kalsel sendiri terdapat sekitar 70-80 persen yang menggunakan bahasa yang dimaksud. Begitu pula di Kalimantan Timur 30-40 persen dan Kalimantan Tengah 30-40 persen.

Kompas, 11 Januari 2010

PTN Indonesia Siapkan 9 Mobil Hemat BBM


Sebanyak empat perguruan tinggi negeri – Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya – mempersiapkan sembilan mobil hemat bahan bakar. Karya ini untuk mengikuti ajang Shell Eco-Marathon Asia yang diselenggarakan di Sirkuit Internasional Sepang, Kuala Lumpur, Malaysia 8-10 Juli 2010.

Manager Media Relations, External Affairs, & Communication PT Shell Indonesia Fathia Syarif, Senin (11/1/2010) di Surabaya mengatakan, ITB dan UI rencananya membuat tiga mobil hemat bahan bakar, ITS 2 jenis, dan UGM satu unit. Sapu Angin I yang versi prototipe adalah mobil hemat bahan bakar pertama yang selesai dibangun.

Sapu Angin I ditargetkan hanya menggunakan satu liter bensin untuk perjalanan sepanjang 1.000 km. Adapun untuk Sapu Angin II, diharapkan hanya menggunakan satu liter bensin untuk 300 km perjalanan. Adapun kecepatan mobil seperti yang ditentukan dalam aturan lomba berkisar 25-30 km/jam.

Kompas, 11 Januari 2010

ITS Luncurkan Dua Mobil Hemat BBM!


Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Senin (11/1/2010), luncurkan dua mobil hemat bahan bakar minyak (BBM) yang diberi nama “Sapu Angin 1” dan “Sapu Angin 2”.

“Target Sapu Angin 1 adalah diproduksi untuk mobil masa depan pada 25-30 tahun mendatang”
— Agus Setiawan/Mahasiswa Teknik Mesin ITS

Peluncuran yang ditandai dengan running test itu disaksikan langsung oleh Presiden Direktur PT Shell Indonesia Darwin Silalahi, karena kedua mobil tersebut akan ikut dalam kompetisi internasional “Shell Eco-Marathon (SEM) Asia 2010” di Sirkuit Sepang, Kuala Lumpur, Malaysia, 8-10 Juli 2010 mendatang.

“Sapu Angin 1 merupakan mobil futuristic prototypes mirip gokart dengan target satu liter BBM untuk jarak tempuh 1.000 kilometer,” kata manajer tim Sapu Angin 1, M. Agus Setiawan.

Sementara itu, mobil “Sapu Angin 2” merupakan mobil urban concept vehicle mirip mobil roda empat yang konvensional, namun hanya berisi 1-2 penumpang dengan target satu liter BBM untuk jarak tempuh 300 kilometer.

“Tapi target Sapu Angin 1 adalah diproduksi untuk mobil masa depan pada 25-30 tahun mendatang,” kata mahasiswa Jurusan Teknik Mesin pada Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITS Surabaya ini.

Menurut Agus, kedua mobil ini dirancang sendiri oleh 14 mahasiswa angkatan 2005 dan 2006. Para mahasiswa bekerja keras merancang dan membuat kedua jenis mobil setelah berguru selama seminggu kepada perusahaan pabrikasi kapal di Kenjeran, Surabaya. Rencana ini disendiri dibuat pada Agustus 2009 lalu.

“Semuanya dilakukan mahasiswa sendiri, mulai membuat desain, mencari bahan baku, mengelas, melakukan pembubutan, dan seterusnya hingga selesai,” tutur Agus.

Kompas, 11 Januari 2010