Biofertilizer Hasil Radiasi Nuklir Tingkatkan Produktivitas Pertanian


Pupuk hayati (Biofertilizer) hasil radiasi nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) bernama Azora terbukti mampu meningkatkan produktivitas pertanian.

“Pupuk hayati Batan ini memacu pertumbuhan tanaman seperti membuat akar dan daun lebih banyak, meningkatkan hasil, memperbaiki kualitas menjadi lebih menarik dan bersih, serta mengurangi pemakaian pupuk,” kata Kepala Batan Dr Hudi Hastowo di sela Forum for Nuclear Cooperation in Asia (FNCA) yang dihadiri perwakilan dari sembilan negara di Jakarta, Senin. Lanjutkan membaca “Biofertilizer Hasil Radiasi Nuklir Tingkatkan Produktivitas Pertanian”

Penelitian FTIP Unpad Mencegah Kerusakan Brokoli dan Kol


Jika brokoli dan kol yang kawan beli berwarna kuning atau malah daun-daunnya rontok, bisa jadi sayuran tersebut telah rusak.

DUA tahun terakhir, Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Universitas Padjadjaran bersama Korea Food Research Institut (KFRI) berkutat dengan penelitian tentang sayur brokoli, kol putih, dan petsay. Penelitian dua lembaga ini mengarah pada cara-cara penanganan pascapanen ketiga sayur tersebut.

Alasan penelitian ini karena produk pertanian untuk jenis-jenis sayur-sayuran tadi belum maksimal. Penyebabnya beberapa hal, di antaranya kualitas fisik produk tersebut menurun saat dipasarkan. Misalnya, warna brokoli berubah menjadi kuning karena zat etilen pada brokoli, pembusukan akibat bakteri dan lain-lain. Kol putih dan petsay yang masuk genus Brassica juga peka terhadap etilen. Akumulasi zat itu pascapanen akan menyebabkan rontoknya daun dan perubahan warna menjadi kuning.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari FTIP Unpad (Nurpilihan Bafdal, Carmencita Tjahjadi, Debby Sumanti Moody, dan Totok Pujianto) dan dari KFRI (Seo-In Hong dan Dongman Kim), menemukan bahwa tingkat kerusakan pada tiga jenis sayuran tadi termasuk masih tinggi pada produk pertanian di Indonesia. Penyebabnya, kebanyakan petani belum memerhatikan secara serius penanganan pascapanen. Lanjutkan membaca “Penelitian FTIP Unpad Mencegah Kerusakan Brokoli dan Kol”

Saraf Buatan Pendeteksi Banjir


UPAYA manusia dalam membudidayakan lahan tidur seringkali dilakukan secara acak, tanpa didasari pertimbangan keilmuan. Alhasil, lahan yang harusnya memberi untung berbalik membawa buntung. Seperti yang terjadi pada para pengguna lahan di DAS (daerah aliran sungai) beberapa daerah, antara lain Kali Progo, Yogyakarta.

Dari mulanya hutan, secara intensif kemudian berubah menjadi lahan untuk sawah dan pemukiman. Perubahan yang berakibat degaradasi lahan, berpengaruh pada limpasan yang terjadi dan celakanya dapat berujung berbagai bencana. Bila diurut dari bahaya dan kerusakan yang ditimbulkan, banjir secara umum menduduki peringkat pertama, terutama di musim hujan seperti saat ini.

Dari kekhawatiran itu, muncullah tiga orang jawara dari Kampus Bulaksumur Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Dengan berbagai jurus ampuh pendeteksi banjir, trio Feriyonika, Hasia Ahmadi, Fajar Siddik berhasil menggondol juara kategori Elektroteknik untuk Peringatan Dini dan Penganggulangan Bencana pada Electrical Engineering Awards 2007 di Kampus ITB Bandung, Kamis (15/11). Pada gelaran yang diselenggarakan Hima Elektroteknik (HME) ITB ini, ketiganya berhasil menyakinkan juri dengan seperangkat alat yang berfungsi mengukur dan memperkirakan kecepatan rambat dan waktu tempuh banjir, dari hulu sungai hingga lokasi yang ditentukan. Lanjutkan membaca “Saraf Buatan Pendeteksi Banjir”

Manajemen Pengelolaan Air Sudah Usang


WADUK Jatigede, itulah solusi terakhir yang diharapkan untuk mengatasi seluruh permasalahan pengairan di dua daerah yang menjadi sentra pertanian terbesar di Jabar, yakni Kab. Cirebon dan Indramayu.

Tentu saja, jawaban tersebut terasa klasik, bahkan seolah-olah mimpi karena sampai sekarang pun belum ada kepastian 100% waduk tersebut akan benar-benar diwujudkan atau terwujud. Akan tetapi, bila melihat kenyataan di lapangan, memang begitulah adanya dan seharusnya.

Sistem manajemen pengelolaan air yang selama ini berlangsung di daerah itu telah begitu usang. Seluruh infrastruktur yang disediakan, yang sebagian besar merupakan warisan infrastruktur pengairan peninggalan ekspemerintahan kolonial Belanda, tidak lagi mampu menjawab kebutuhan di lapangan. Lanjutkan membaca “Manajemen Pengelolaan Air Sudah Usang”

Masih Ada Pengganti Kedelai


Dedi (36), terlihat tak bergairah. Tangannya perlahan membersihkan nampan-nampan persegi empat yang biasa digunakan untuk alas tahu buatannya. Hanya sedikit jumlah tahu yang ia produksi hari itu. Lebih sedikit dibandingkan dengan produksi hari-hari sebelumnya. Harga kedelai yang belum kunjung membaik membuat ia dan rekan-rekannya, sesama perajin tahu mengalami pukulan berat. Dedi adalah salah satu perajin tahu di kawasan Cibuntu Kec. Bandung Kulon Kota Bandung.

Dia mengatakan, masih tingginya harga kedelai di pasaran membuat para produsen tahu Cibuntu belum beranjak dari kesulitan. Produksi kian menurun dan pendapatan makin merosot. “Omzet turun sampai 50 persen. Produksi juga. Biasanya sehari bisa buat 8.000 tahu, sekarang paling 3.000-an, itu juga susah jualnya,” ujar Dedi.

Tidak jauh dari tempat pembuatan tahu milik Dedi, terdengar keluhan yang sama. Sebagai perajin tempe yang sudah bertahun-tahun berkutat dengan makanan rakyat ini, Ruswandi (35) merasa kewalahan dengan tingginya harga kedelai saat ini. Ia mengatakan walaupun harga kedelai saat ini sudah turun dari masa krisisnya, menurut dia masih mahal dan memengaruhi tingkat produksi dan penjualan. “Sekarang saya terpaksa mencampur kedelai dengan singkong untuk tempe saya,” kata dia. Lanjutkan membaca “Masih Ada Pengganti Kedelai”

Dilema Petani dan Pupuk


SETIAP musim tanam selalu terjadinya “kelangkaan” dan kenaikan harga pupuk di lapangan, terutama di berbagai sentra produksi padi, termasuk di Jawa Barat. Kondisi klasik dengan alasan klise itu terkesan sulit teratasi dan belum ada upaya serius mengatasinya. Dampaknya, tentus saja sangat dirasakan petani, yakni ancaman gagal tanam dan gagal panen.

Batasan “kelangkaan” pupuk, adalah kondisi pasokan pupuk minim bahkan tak ada pada suatu wilayah yang sedang memerlukan saat musim tanam. Kondisi itu umumnya disebabkan kebutuhan pupuk petani hanya pada saat tertentu (musim tanam), sehingga para pedagang menyediakan dalam jumlah besar mengikuti pola musim tanam.

Lain halnya saat bukan musim tanam, pasokan pupuk di kios-kios biasanya sedikit. Kondisi demikian tak dapat disebut sebagai “kelangkaan” pupuk, karena kebutuhan lebih sedikit sehinga pasokan pun disesuaikan.

Daerah Jabar boleh dikatakan sudah beruntung, karena produsen pupuk setempat, PT Pupuk Kujang Cikampek, Karawang, kini sudah memiliki dan mengoperasikan dua pabrik produksi urea. Ini membuat pasokan rata-rata pupuk urea dari BUMN tersebut menjadi rata-rata 2.600 ton/hari, atau dua kali lipat dibandingkan semula.

Secara teori, berlipatnya jumlah produksi pupuk urea, bukan masalah lagi bagi Jabar. Apalagi, jika melihat kondisi banyak lahan pertanian setiap tahunnya yang terus tergusur. Dengan demikian, seharusnya pasokan pupuk urea menjadi surplus.

Namun, kenyataannya, “kelangkaan pupuk” masih saja terjadi, termasuk pada musim tanam awal 2008.

Situsi ini langsung diikuti dengan kenaikan harga di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp 1.200,00/kg. Kondisi itu diperparah dengan munculnya kepentingan-kepentingan atau kekurangtahuan kondisi dari pihak-pihak tertentu.

Menyadari kondisi ini, PT Pupuk Kujang berupaya memenuhi kebutuhan dengan pendistribusian rata-rata per hari 3.600 ton. Ini terdiri dari dua pabrik sekitar 2.600 ton dan sebesar 1.000 ton dari stok gudang pabrik.

Saat pabrik sedang dipacu untuk memperoleh produksi yang maksimal, terjadi hal di luar dugaan yaitu adanya gangguan operasi. Pabrik Kujang 1B harus dimatikan. Namun, saat ini, pabrik Kujang 1A dapat dipacu untuk beroperasi lebih maksimal dengan memanfaatkan bahan baku dari Kujang 1B, sehingga dapat berproduksi sekitar 1.500 ton per hari. Lanjutkan membaca “Dilema Petani dan Pupuk”

Mikoriza, Pupuk Hayati Super


Pupuk hayati (biofertilizer) adalah bahan penyubur tanah yang mengandung mikroorganisme atau sel hidup dalam keadaan dorman yang berfungsi untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara guna mendukung pertumbuhan tanaman. Beberapa jenis mikroba yang umum digunakan antara lain mikroba penambat unsur nirogen, mikroorganisme pelarut fosfat, dan mikrooganisme penghasil hormon tumbuh.

Di samping itu ada jenis mikroba dari golongan jamur yang disebut mikoriza ditemukan sebagai sumber biofertilizer potensial yang dapat meningkatkan produktivitas budidaya tanaman. Biofertilizer atau pupuk hayati semacam ini bersifat ramah lingkungan dan dapat mempertahankan kualitas tanah secara berkelanjutan.

Mikoriza mempunyai peran dalam mempercepat suksesi pada habitat yang terganggu secara ekstrem. Mikoriza yang menginfeksi akar tanaman berperan dalam perbaikan nutrisi tanaman dan meningkatkan pertumbuhan, karena hifa yang menginfeksi akar mempunyai kemampuan yang tinggi dalam meningkatkan kapasitas penyerapan unsur hara fosfat, nitrogen, sulfur, seng, dan unsur esensial lainnya. Dengan adanya mikoriza, laju penyerapan unsur hara oleh akar bertambah hampir empat kali lipat dibandingkan dengan perakaran normal, demikian juga luas penyerapan akar makin bertambah hingga 80 kali.

Mikoriza berperan juga sebagai bio-protektor terhadap patogen tanaman, bio-remediator bagi tanah-tanah yang tercemar dan membantu pertumbuhan tanaman pada tanah yang tercemar. Lanjutkan membaca “Mikoriza, Pupuk Hayati Super”