Bakteri Asam Laktat Untuk Terapi Autis


Sudah sejak lama makanan dan minuman yang dihasilkan secara fermentasi dengan bakteri asam laktat menjadi bagian dalam menu makanan sehari-hari di Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan Australia. Bahkan, beberapa daerah di Indonesia, tanpa disadari, makanan hasil fermentasi laktat telah lama menjadi bagian dalam menu makanan keseharian masyarakat.

Beberapa contoh jenis makanan tersebut mungkin bukan saja sudah dikenal, tetapi malah sudah umum disantap. Sebut saja asinan dari Bogor, ikan bekasam dan tempoyak dari Sumatra dan Kalimantan, kimchi, acar, salami, bologna (daging), pindang makassar, budu, serta belacan atau terasi. Bahkan selama pembuatan kecap, tauco, serta terasi, bakteri laktat banyak dilibatkan.

Ada juga yang terbuat dari susu berupa yoghurt, keju, butter, kefir, dan susu asam. Sedangkan yang terbuat dari biji serealia seperti beras dan jagung adalah idli dari India, pui dari Hawaii, pulque dari Meksiko, dan chicha dari Brasil. Bisa disimpulkan, hampir di setiap tempat dan negara selalu ada jenis makanan dan minuman yang merupakan hasil fermentasi bakteri laktat.

Bakteri asam laktat (BAL) Continue reading “Bakteri Asam Laktat Untuk Terapi Autis”

Iklan

Manfaat dan Bahaya Si Keong Racun


“Dasar kau keong racun,
Baru kenal eh ngajak tidur,
Ngomong nggak sopan santun,
Kau anggap aku ayam kampung…”

Itulah sepenggal lagu “Keong Racun” yang dipopulerkan oleh duo Sinta dan Jojo. Dari mulai anak-anak sampai orang tua sudah tidak asing lagi mendengar lagu tersebut. Akan tetapi, tahukah Anda apa dan siapa itu keong racun?

Adalah the Giant African Snail (Achatina fulica bowdich) sosok sebenarnya si keong racun yang tersohor itu. Keong racun atau populer juga dengan nama bekicot adalah hewan bertubuh lunak dengan satu cangkang. Ia berjalan dengan menggunakan perutnya, atau disebut juga hewan gastropoda (gastro=perut; poda/podos=kaki).

Bekicot atau keong racun bukanlah hewan asli Indonesia. Ia berasal dari Afrika Timur dan saat ini tersebar luas di dunia melalui manusia (menempel pada kapal/kontainer atau barang-barang bawaan manusia) dan tumbuh-tumbuhan (telur bekicot). Kemampuannya beradaptasi dan tingginya kemampuan reproduksi membuat bekicot eksis di alam. Bekicot merupakan hewan hermaprodit (dalam satu individu terdapat organ reproduksi jantan dan betina).

Namun begitu, ia tetap membutuhkan individu lain dalam melakukan aktivitas reproduksi. Sekali melakukan perkawinan, satu bekicot dapat memproduksi 100 hingga 400 telur! Bahkan pada waktu tertentu, hewan ini dapat menghasilkan 1.200 telur dalam satu perkawinan. Continue reading “Manfaat dan Bahaya Si Keong Racun”

“Sonar” Kelelawar di Pesawat F-35


HANYA beberapa jenis kelelawar dan paus bergigi yang mengandalkan echolocation canggih untuk menangkap mangsanya. Mereka memancarkan sonar dan gema balik untuk mendeteksi serta melacak mangsa kecil. Dua studi baru hasil penelitian ini disiarkan pada edisi 26 Juli 2010 di Current Biolog.

Hewan liar ini mampu meninggikan atau merendahkan frekuensi pendengarannya, tergantung pada gelombang sonar balik dari sasaran yang jauh atau dekat dan diantisipasi sampai ke tingkat molekuler. “Secara umum, pancaran dan pantulan gelombang sonar itu bersifat konvergen yang timbul oleh berbagai mutasi gen yang berbeda. Hasil penelitian ahli biologi menunjukkan bahwa sifat echolocation sebenarnya telah berevolusi dengan adanya perubahan genetik dari kelelawar dan lumba-lumba,” kata Stephen Rossiter dari University of London.

Urutan konvergensi terjadi karena perubahan asam amino prestin yang menghasilkan frekuensi tinggi, seleksi, dan kepekaan yang sangat disukai pada echolocating mamalia. Prestin ditemukan di luar sel-sel rambut yang berfungsi sebagai penguat di dalam telinga, memperbaiki sensitivitas, dan selektivitas frekuensi dari getaran mekanis.

Tim Rossiter, termasuk Shuyi Zhang dari Universitas Normal Cina Timur menunjukkan sebelumnya prestin urutan gen telah mengalami konvergensi antara garis keturunan yang tidak berhubungan dengan echolocating kelelawar. Penulis ini, bersama dengan tim Zhang di Michigan, sekarang menunjukkan bahwa konvergensi memanjang ke echolocating lumba-lumba.

Zhang menunjukkan, meskipun mereka memiliki kemampuan yang sama, tetapi pada kenyataannya kelelawar dan ikan paus sangat bervariasi dalam echolocation-nya. “Sebagai contoh, kelelawar menggunakan echolocation untuk rentang 0 sampai 30 meter, sedangkan paus mengunakan untuk rentang hingga di atas 100 meter. Hal ini karena daya rambat suara di udara lebih cepat dibandingan dengan di air,” ujarnya. Continue reading ““Sonar” Kelelawar di Pesawat F-35″

“Rubber Chips” Sumber Energi Spektakuler


Para ahli teknik Princeton University mampu memanfaatkan film-film (lapisan tipis) karet alam jadi piranti canggih sebagai sumber tenaga telefon seluler dan berbagai perangkat elektronik lainnya. Dari bahan chips karet itu, mereka juga mengubahnya jadi chips yang mampu mengikuti gerakan-gerakan kelenturan tubuh, seperti gerakan pernapasan, berjalan, bahkan menjadi energi alat pacu jantung.

Chips karet ini diubah jadi materi yang terdiri atas keramik nanoribbons lalu ditanam ke lembaran karet silikon dan mampu menghasilkan energi listrik ketika tertekuk dan sangat efisien dalam mengonversi energi mekanik menjadi energi listrik. Bukan tidak mungkin suatu hari sepatu yang terbuat dari bahan yang paten ini mampu mengajak pemakainya berjalan dan berlari seperti kekuatan mobile. Ditempatkan dekat paru-paru, lembaran dari bahan yang mengandung energi ini dapat membantu gerakan pernapasan atau alat pacu jantung. Ini akan menghindarkan kebutuhan penggantian baterai setelah pembedahan

Sebuah kertas kerja hasil penelitian teknologi gabungan antara teknologi tinggi dan bahan alami ini telah diterbitkan secara online 26 Mei lalu dalam situs Nano Letters. Tim ahli mekanik Princeton merupakan tim pertama yang berhasil menggabungkan nanoribbons silicon dan plumbum zirconate titanate (PZT), bahan keramik, dan piezoelektrik. Campuran unsur-unsur itu ternyata menghasilkan tegangan listrik yang tinggi ketika diberi tekanan energi kepadanya.

Dari hasil penelitian intensif selama beberapa tahun, ditemukan bahwa semua bahan piezoelectric, PZT, hasilnya sangat efisien. Materi yang terbentuk dapat mengonversi 80 persen energi mekanik jadi energi listrik. “Material PZT ternyata 100 kali lebih efisien daripada kuarsa dan bahan piezoelectric yang lain,” kata Michael Mc.Alpine, seorang profesor teknik mekanis dan aerospace di Princeton yang memimpin pengembangan projek tersebut. Continue reading ““Rubber Chips” Sumber Energi Spektakuler”

Misteri Segitiga Bermuda Terpecahkan!


Banyak yang berspekulasi dan mengemukakan teori tentang Segitiga Bermuda, lokasi yang membuat misteri dengan hilangnya beberapa kapal laut dan pesawat terbang di wilayah yang disebut. Teori tentang pesawat luar angkasa alien, anomali waktu, piramida raksasa bangsa Atlantis, atau fenomena meteorologis sepertinya harus disingkirkan.

Misteri Segitiga Bermuda terungkap sudah. Segitiga Bermuda adalah fenomena gas akut biasa, gas alam, sama seperti gas yang dihasilkan oleh air mendidih, terutama gas metana, yang merupakan tersangka utama di balik hilangnya beberapa pesawat terbang dan kapal laut. Bukti dari penemuan yang membawa sudut pandang baru terhadap misteri yang menghantui dunia selama bertahun-tahun itu tertuang dalam laporan American Journal of Physics. Profesor Joseph Monaghan meneliti hipotesis itu ditemani oleh David May di Monash University, Melbourne, Australia.

Dua hipotesis dari penelitian itu adalah balon-balon raksasa gas metana keluar dari dasar lautan yang menyebabkan sebagian besar, untuk tidak mengatakan semua, kecelakaan misterius di lokasi itu. Ivan T. Sanderson sebenarnya telah mengidentifikasi zona-zona misterius selama tahun 1960-an. Sanderson bahkan menggambarkan sebenarnya zona-zona misterius itu lebih berbentuk seperti ketupat ketimbang segitiga. Sanderson menemukan bahwa bukan saja Segitiga Bermuda tetapi Laut Jepang dan Laut Utara adalah dua area tempat peristiwa misterius sering terjadi.

Para ahli oseanografi yang menjelajah di dasar laut Segitiga Bermuda dan Laut Utara, wilayah di antara Eropa daratan dan Inggris, melaporkan menemukan banyak kandungan metana dan situs-situs bekas longsoran. Berangkat dari keterkaitan itu dan data-data yang tersedia, dua peneliti itu menggambarkan apa yang terjadi jika balon metana raksasa meledak dari dasar laut. Metana, yang biasanya membeku di bawah lapisan bebatuan bawah tanah, bisa keluar dan berubah menjadi balon gas yang membesar secara geometris ketika dia bergerak ke atas. Ketika mencapai permukaan air, balon berisi gas itu akan terus membesar ke atas dan ke luar.

Setiap kapal yang terperangkap di dalam balon gas raksasa itu akan langsung goyah, kehilangan daya apung, dan tertarik jatuh ke dasar lautan. Jika balon itu cukup besar dan memiliki kepadatan yang cukup maka pesawat terbang pun bisa dihantam jatuh olehnya. Pesawat terbang yang terjebak di balon metana raksasa berkemungkinan mengalami kerusakan mesin karena diselimuti oleh metana dan segera kehilangan daya angkatnya. (Salem-News.com/Sri)***

 

PR – Kamis, 19 Agustus 2010

Napas tak Segar Mengurangi Rasa Percaya Diri


Napas tak segar atau dikenal dengan istilah halitosis (bad breath) bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala atau indikasi dari kondisi tertentu, seperti saat puasa dalam jangka waktu tertentu.

Halitosis dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain faktor lokal (setempat), sistemik (berhubungan dengan sistem yang ada dalam tubuh manusia), pengaruh obat-obatan atau xerostomia. Faktor lokal bisa bersifat patologis yang diakibatkan penyakit, seperti banyak dijumpai pada penderita karies, gingivitis, penyakit Vincent`s, serta penyakit lain yang sering dijumpai dalam rongga mulut (sinusitis kronis, faringitis, kanker rongga mulut, dan sebagainya).

Sementara itu, faktor lokal yang nonpatologi biasanya diakibatkan saliva (air ludah) yang terlalu pekat dan sisa-sisa makanan yang tertimbun pada gigi. Biasanya ini terjadi waktu tidur, saat tidak ada gerakan lidah dan aliran saliva terhambat. Itu sebabnya mengapa saat bangun tidur (morning breath) bau napas terasa tidak enak. Hal ini biasanya juga dijumpai pada orang yang puasa dan orang yang biasa merokok secara berlebihan.

Di dalam rongga mulut, penyebab halitosis adalah gas yang bernama VSC (volatile sulfur compound). VSC merupakan hasil produksi aktivitas bakteri aerob yang bereaksi dengan sisa makanan yang mengandung protein, sel-sel mati yang lain, dan dengan air ludah/saliva. Gerakan yang menurun dari rongga mulut, misalnya waktu tidur atau saat menjalani puasa, dapat meningkatkan kadar VSC sehingga dapat menyebabkan napas tak sedap.

Jika ditilik, pada dasarnya penyebab halitosis sebagian besar berkaitan dengan keadaan rongga mulut. Hal ini berhubungan dengan metabolisme bakteri yang hidup pada rongga mulut dan air ludah. Beberapa hasil riset melaporkan bahwa VSC yang terdiri atas hidrogen sulfida, metil merkaptan, dan dimetil sulfida merupakan penyebab utama halitosis. Secara biokimia, halitosis timbul karena degradasi asam amino akibat penguraian protein oleh bakteri anaerob di dalam mulut. Continue reading “Napas tak Segar Mengurangi Rasa Percaya Diri”

Antibodi Plastik Netralkan Toksin


Untuk pertama kalinya, para peneliti menunjukkan bahwa molekul nonbiologikal yang disebut sebagai antibodi plastik dapat bekerja seperti antibodi alami. Dalam uji coba terhadap hewan, partikel plastik mengikat dan menetralikan toksin yang ditemukan di sengat lebah. Toksin dan antibodi kemudian dibersihkan ke liver, jalur yang sama yang dilalui oleh antibodi alami.

Para peneliti kini mengembangkan antibodi plastik untuk berbagai sasaran dalam lingkup penyakit yang lebih luas dengan harapan memperluas ketersediaan terapi antibodi, yang saat ini sangat mahal. Antibodi plastik tersebut bisa dibuat dengan biaya murah dan kemudian diletakkan di rak, secara teori bisa bertahan bertahun-tahun.

Pada 2008, kelompok Shea`s, bekerja sama dengan para peneliti dari Institut Teknologi Tokyo, menunjukkan untuk pertama kalinya antibodi plastik yang dibuat menggunakan teknik imprinting molekular dapat mengikat target dengan kuat dan secara khusus sebagaimana antibodi alami. Molekul pencetakan melibatkan sintesis polimer di hadapan molekul target. Polimer tumbuh di sekitar sasaran, “imprinting” dengan bentuk target. “Ini sama dengan membuat gips pada tangan seseorang,” kata Shea. (AFP/SRI)***

PR – Kamis, 08 Juli 2010