Manfaat dan Bahaya Si Keong Racun


“Dasar kau keong racun,
Baru kenal eh ngajak tidur,
Ngomong nggak sopan santun,
Kau anggap aku ayam kampung…”

Itulah sepenggal lagu “Keong Racun” yang dipopulerkan oleh duo Sinta dan Jojo. Dari mulai anak-anak sampai orang tua sudah tidak asing lagi mendengar lagu tersebut. Akan tetapi, tahukah Anda apa dan siapa itu keong racun?

Adalah the Giant African Snail (Achatina fulica bowdich) sosok sebenarnya si keong racun yang tersohor itu. Keong racun atau populer juga dengan nama bekicot adalah hewan bertubuh lunak dengan satu cangkang. Ia berjalan dengan menggunakan perutnya, atau disebut juga hewan gastropoda (gastro=perut; poda/podos=kaki).

Bekicot atau keong racun bukanlah hewan asli Indonesia. Ia berasal dari Afrika Timur dan saat ini tersebar luas di dunia melalui manusia (menempel pada kapal/kontainer atau barang-barang bawaan manusia) dan tumbuh-tumbuhan (telur bekicot). Kemampuannya beradaptasi dan tingginya kemampuan reproduksi membuat bekicot eksis di alam. Bekicot merupakan hewan hermaprodit (dalam satu individu terdapat organ reproduksi jantan dan betina).

Namun begitu, ia tetap membutuhkan individu lain dalam melakukan aktivitas reproduksi. Sekali melakukan perkawinan, satu bekicot dapat memproduksi 100 hingga 400 telur! Bahkan pada waktu tertentu, hewan ini dapat menghasilkan 1.200 telur dalam satu perkawinan. Continue reading “Manfaat dan Bahaya Si Keong Racun”

“Sonar” Kelelawar di Pesawat F-35


HANYA beberapa jenis kelelawar dan paus bergigi yang mengandalkan echolocation canggih untuk menangkap mangsanya. Mereka memancarkan sonar dan gema balik untuk mendeteksi serta melacak mangsa kecil. Dua studi baru hasil penelitian ini disiarkan pada edisi 26 Juli 2010 di Current Biolog.

Hewan liar ini mampu meninggikan atau merendahkan frekuensi pendengarannya, tergantung pada gelombang sonar balik dari sasaran yang jauh atau dekat dan diantisipasi sampai ke tingkat molekuler. “Secara umum, pancaran dan pantulan gelombang sonar itu bersifat konvergen yang timbul oleh berbagai mutasi gen yang berbeda. Hasil penelitian ahli biologi menunjukkan bahwa sifat echolocation sebenarnya telah berevolusi dengan adanya perubahan genetik dari kelelawar dan lumba-lumba,” kata Stephen Rossiter dari University of London.

Urutan konvergensi terjadi karena perubahan asam amino prestin yang menghasilkan frekuensi tinggi, seleksi, dan kepekaan yang sangat disukai pada echolocating mamalia. Prestin ditemukan di luar sel-sel rambut yang berfungsi sebagai penguat di dalam telinga, memperbaiki sensitivitas, dan selektivitas frekuensi dari getaran mekanis.

Tim Rossiter, termasuk Shuyi Zhang dari Universitas Normal Cina Timur menunjukkan sebelumnya prestin urutan gen telah mengalami konvergensi antara garis keturunan yang tidak berhubungan dengan echolocating kelelawar. Penulis ini, bersama dengan tim Zhang di Michigan, sekarang menunjukkan bahwa konvergensi memanjang ke echolocating lumba-lumba.

Zhang menunjukkan, meskipun mereka memiliki kemampuan yang sama, tetapi pada kenyataannya kelelawar dan ikan paus sangat bervariasi dalam echolocation-nya. “Sebagai contoh, kelelawar menggunakan echolocation untuk rentang 0 sampai 30 meter, sedangkan paus mengunakan untuk rentang hingga di atas 100 meter. Hal ini karena daya rambat suara di udara lebih cepat dibandingan dengan di air,” ujarnya. Continue reading ““Sonar” Kelelawar di Pesawat F-35″

Sulitnya Mengendalikan Roket


Ingar-bingarnya mungkin masih tak semegah Kontes Robot Indonesia (KRI) yang berlangsung di Malang 19–20 Juni 2010 . Namun, semangat kompetisi dan adu gengsi di Kompetisi Roket Indonesia (Korindo) 2010 tidak kalah seru. Empat puluh tim dari 39 perguruan tinggi se-Indonesia berlomba mengasah pengetahuan yang mereka dapat di kampus untuk diaplikasikan bersama teknologi roket buatan Lembaga Penerbagangan dan Antariksa Nasional (Lapan) di Yogyakarta 26-28 Juni 2010.

Seperti dalam dua penyelenggaraan di tahun-tahun sebelumnya, dalam Korindo 2010 peserta bukan berlomba membuat roket, tetapi membuat muatan (payload) yang akan diluncurkan bersama roket uji muatan (RUM70-100)-LPN. Payload tersebut berupa tabung silinder berisi rangkaian elektronik dan sistem akuator yang berfungsi sebagai perangkat telemetri untuk meteorologi dengan menggunakan tiga macam sensor yaitu untuk temperatur, tekanan, dan kelembapan.

Sedikit perbedaan dalam kompetisi tahun ini, payload yang dilombakan mengambil tema “Homing Meteo Payload”. Payload tersebut harus mampu kembali menuju sasaran yang telah ditentukan setelah terpisah dari roket peluncur yang berbahan bakar propelan padat dan dapat mencapai tinggi terbang 2 km. Untuk mengendalikannya sampai sasaran, peserta harus melengkapi payload dengan pemandu arah terbang yang menggunakan kompas dan bersifat otonomous sekaligus bisa berkomunikasi dengan sistem kendali operator di segmen darat (ground segment). Continue reading “Sulitnya Mengendalikan Roket”

Mengungkap Fenomena “Air Terjun Darah”


Bakteri Hidup di Lingkungan Ekstrem Jutaan Tahun

BUMI menyimpan segudang misteri yang belum terpecahkan, ini menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa pun untuk bisa menyingkap fenomena alam tersebut. Dengan terpecahkannya misteri itu, mungkin saja ada manfaat yang tak ternilai untuk kemaslahatan umat manusia, atau paling tidak terhindar dari hal-hal yang berbau mistik atau takhayul.

Salah satu fenomena alam yang cukup menarik dan baru-baru ini terungkap adalah apa yang disebut dengan “Air Terjun Darah.” Sebuah nama yang berbau horor untuk suatu gejala alam.

Fenomena Air Terjun Darah atau “Blood Falls” pertama kali ditemukan pada 1911 oleh ahli geologi asal Australia Thomas Griffith Taylor, di benua Antartika bagian timur, tepatnya di West Lake Bonney di lembah Taylor yang merupakan salah satu rangkaian lembah McMurdo Dry Valleys, Pulau Victoria.

McMurdo Dry Valleys merupakan salah satu wilayah paling unik di Benua Antartika. Di kawasan yang luas ini selamanya jarang terdapat lapisan es akibat angin yang bertiup dengan kecepatan 320 kilometer/jam ke arah lembah ini dan mampu menyapu seluruh kelembapan di sana. Di salah satu lembah yang mengambil nama penemunya, lembah Taylor, muncullah gletser Taylor yang berwarna merah darah. Continue reading “Mengungkap Fenomena “Air Terjun Darah””

Menuju Jaringan Komunikasi Radio Sistem Satelit


Bencana alam belakangan ini memang kerap terjadi di bumi Indonesia tercinta. Gempa bumi dan tsunami sudah tidak asing lagi bagi masyarakat tanah air. Dalam dua tahun belakangan, beberapa gempa besar bahkan sempat mengguncang persada Indonesia, korban pun berjatuhan tanpa bisa mendapat pertolongan yang sigap.

Pada kondisi seperti itu, peran komunikasi menjadi sangat penting untuk memantau korban yang kemungkinan masih bisa diselamatkan dan mencari lokasi bencana yang memerlukan bantuan secepatnya. Jika terlambat, jumlah korban yang jatuh jelas akan semakin banyak.

Kendala utama dalam proses evakuasi (penyelamatan) korban bencana alam di negara ini adalah sarana komunikasi. Ketika bencana terjadi, sering kali sarana komunikasi utama seperti jaringan telefon tetap dan seluler terputus. Selama ini, hanya komunikasi radio amatir yang telah terbukti menjadi alat yang mampu bertahan saat terjadi bencana. Continue reading “Menuju Jaringan Komunikasi Radio Sistem Satelit”

Roket RX-200, Bantu Mitigasi Bencana


Mentari masih belum menunjukkan dirinya, tetapi berkas sinarnya sudah terlihat di ufuk timur. Rona awan pun mulai berubah merah keemasan. Mereka bergumul di langit cerah Pameungpeuk pagi itu. Tepat pukul 6.00 WIB, terdengar sayup suara perempuan melakukan hitungan mundur. Tak lama, sebuah benda meluncur ke angkasa dengan kecepatan tinggi sambil memancarkan api dan mengepulkan asap tebal dari ekornya. Suasana yang tadinya sunyi penuh ketegangan, tiba-tiba berubah meriah dengan tepukan tangan dan teriakan puas.

Itulah gambaran suasana saat Lembaga Penerbangan dan Antariksa Negara (Lapan) meluncurkan roket pertama dalam uji terbang muatan satelit mitigasi bencana di Instalasi Uji Terbang Lapan, Jln. Raya Cilauteureun, Pameungpeuk, Kab. Garut, Minggu (20/6). Ada tiga tujuan utama dalam uji coba tersebut, Lapan sebenarnya meluncurkan tiga roket jenis RX-200, tetapi peluncuran roket pertama menjadi kunci keberhasilan uji coba keseluruhan. Pasalnya, roket pertama bertujuan menguji dinamika RX-200. Terbukti, setelah roket pertama meluncur tanpa hambatan, roket kedua dan ketiga pun melesat mulus.

Kendati demikian, peluncuran ketiga sempat tertunda sekitar satu jam akibat melintasnya kapal laut asing Ocean Sierra asal Mesir di Pantai Sayang Heulang yang termasuk areal trajektori yang ditentukan.

Menurut Komandan Peluncuran, Muji Sujarwo, tim Lapan sebenarnya sudah mengevakuasi penduduk dan kapal nelayan yang biasa melintas di area trajektori. “Areal yang sudah disterilkan saat peluncuran roket mencapai radius terdekat 600 meter dan terjauh 2.000 meter. Namun, kapal asing tersebut melintas tanpa mengaktifkan radio komunikasinya. Alhasil, kapal mereka tidak terdeteksi di radar dan baru terlihat oleh stasiun pengamat,” ujarnya. Continue reading “Roket RX-200, Bantu Mitigasi Bencana”

Fosil Naga Asli Ditemukan


PADA 4 Maret 2010, di Xinwei Ancient Life Fossils Museum, Anshun, Guangzhou, ada beberapa fosil unik dipamerkan. Materi yang dipamerkan dinamakan ”China Dragon Fossils”, merupakan fosil utuh yang ditemukan di bawah timbunan es abadi di Pegunungan Thianshan, Jalan Sutera.

Mereka menemukan fosil ular naga yang selama beratus-ratus tahun diragukan keberadaannya. Ia memiliki sepasang tanduk di atas kepalanya dan bentuk tubuhnya sangat legendaris seperti hewan yang sering digambarkan dalam buku cerita dan patung kelenteng, serta hiasan istana kekaisaran.

Saat ini kita bisa melihat ular naga dengan mata kepala sendiri, tidak dalam bentuk patung atau gambar lagi. Ada dua tanduk di atas kepalanya dan sayap sebagai totem. Totem pertama kali ditampilkan oleh leluhur Cina dan hingga kini disembah oleh penganut agama Konghucu. Oleh karena itu, masyarakat Cina percaya dirinya adalah turunan naga yang juga disebut ”descendents from dragon”. Continue reading “Fosil Naga Asli Ditemukan”