Letusan Gunung Toba Terdahsyat di Dunia


74.000 Tahun Lalu, Dunia Gelap Gulita Selama Enam Tahun

SITUS arkeologi baru yang cukup spektakuler, ditemukan para ahli geologi  di selatan dan utara India. Di situs itu terungkap  bagaimana orang bertahan  hidup, sebelum dan sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba, 74.000 tahun yang lalu. Tim peneliti multidisiplin internasional, yang dipimpin oleh Dr. Michael Petraglia, mengungkapkan dalam suatu konferensi Pers di Oxford, Amerika Serikat tentang adanya bukti kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal sumber letusan berjarak 3.000 mil, dari sebaran abunya.Selama tujuh tahun, para ahli dari Oxford University tersebut meneliti  projek ekosistem di India, untuk mencari bukti adanya kehidupan, dan peralatan hidup yang mereka tinggalkan di padang yang gundul. Daerah dengan  luas  ribuan hektare ini hanya ditumbuhi  sabana (padang rumput). Sementara, tulang belulang hewan  berserakan. Tim menyimpulkan,  daerah yang cukup luas ini  ternyata ditutupi  debu dari  letusan gunung berapi purba.

Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia. Berasal dari  sebuah eruption supervolcano purba, yaitu  Gunung Toba. Dugaan mengarah ke Gunung Toba, karena ditemukan bukti bentuk  molekul debu vulkanik yang sama di 2100 titik. Sejak kaldera kawah yang kini jadi  danau Toba di Indonesia, hingga 3.000 mil,dari sumber letusan.Bahkan yang cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu itu sampai terekam hingga ke  Kutub Utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya letusan super gunung berapi Toba kala itu. Bukti bukti yang ditemukan, memperkuat dugaan,  bahwa kekuatan letusan dan gelombang lautnya sempat memusnahkan kehidupan di Atlantis. Continue reading “Letusan Gunung Toba Terdahsyat di Dunia”

Raja Nusantara Minta Batas Majapahit Ditentukan Segera


Raja-raja Nusantara yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Keraton Se-Nusantara atau FSKN meminta agar batas-batas wilayah Kerajaan Majapahit ditentukan segera. Hal itu dikemukakan Sekretaris Jenderal FSKN Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Gunarso G Kusumodiningrat di sela-sela Dialog Nasional tentang Situs Ibukota Kerajaan Majapahit dan Pengembangannya sebagai kawasan Cagar Budaya Nasional di Mojokerto digelar di Hotel Sativa Sanggraloka, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Rabu (11/11).

Ia mengatakan, upaya penelitian yang selama ini dilakukan kalangan akademisi belum mencapai keberhasilan karena relatif melupakan keberadaan contoh keraton Majapahit yang tersebar di delapan kerajaan di Pulau Bali. Masing-masing di Puri Aung Klungkung, Puri Agung Jembrana, Puri Agung Singaraja, Puri Agung Karangasem, Puri Agung Denpasar, Puri Agung Gianyar, Puri Agung Tabanan, dan Puri Bangli.

Kompas, 11 November 2009

Air Mata Ki Hajar Dewantara


DULU Hari Pendidikan Nasional, yang kita peringati setiap 2 Mei, disingkat Harpenas. Kini kita mengenalnya sebagai Hardiknas, dengan kepanjangan yang sama. Kalau tidak salah, perubahan itu terjadi seiring dengan perubahan Departemen P & K, sebagai kepanjangan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menjadi Depdikbud—sekarang menjadi Depdiknas, dan pasti tak ada hubungannya dengan pelesetan “departemen dikebut”.
Tanggal 2 Mei diambil dari tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara (2 Mei 1889), seorang pahlawan nasional yang juga merupakan Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Lelaki bernama asli Raden Mas Soewardi Soeryaningrat ini pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Ia tokoh pendiri Taman Siswa, sebuah sekolah kerakyatan di Yogyakarta, dan gambarnya bisa dilihat pada uang kertas lama Rp 20.000.
Pekan lalu, saya bertemu dan berbincang hangat dengan seorang sepupu yang sudah lama menjadi guru PNS. Kami sudah lama tidak bertemu. Mungkin karena kami bertemu ketika anak-anak SMP menghadapi UN, pembicaraan pun bergulir juga ke soal UN dan sistem pendidikan yang lebih luas.
“Pendidikan di Indonesia adalah pendidikan tipu-menipu,” katanya.
Astaga, saya tentu saja kaget.
Tapi ia mengabaikan kekagetan saya. “Satu contohnya, ya, UN ini. Coba lihat nanti kalau sudah diumumkan. Hampir semua sekolah akan mengumumkan kelulusan yang angkanya 99-100 persen. Semua akan menyambut gembira. Menteri Pendidikan akan bilang bahwa kualitas pendidikan kita meningkat.
Betulkah demikian? Omong kosong besar!
Siapa pun yang bisa berpikir dengan logika sederhana pun tak akan percaya bahwa sebuah sekolah bisa meluluskan seratus persen peserta UN.”
“Tapi memang banyak sekolah yang siswanya lulus seratus persen, seperti tahun-tahun lalu,” kata saya.
“Karena apa? Karena selalu terjadi pembocoran jawaban soal-soal!”
“Apa benar begitu? Bukankah pengawas UN SMA berasal dari perguruan tinggi?”
“Bullshit! Mereka akan menjadi bagian dari kecurangan secara menyeluruh. Kecurangan sistemik yang rapi dan apik.”
“Bagaimana terjadinya kecurangan?”
“Banyak cara. Salah satunya, contekan biasa seperti anak-anak dulu, cuma bedanya sekarang lebih vulgar. Dulu hanya antar-anak, sekarang antarkelas, dengan pengawasan yang tidak ketat, dan terkesan mempersilakan.”
“Adakah kemungkinan guru dan sekolah sengaja memberikan jawaban?”
“Kemungkinan itu ada. Dulu empat tahun lalu aku sempat ribut dengan kepala sekolah karena jawaban didikte di depan kami tanpa izin dulu. Dia anggap aku juga gampangan. Ya, mungkin ada anggapan bahwa pengawas bisa diatur. Dan entah gimana, mereka hampir dikatakan lulus semua. Sayang sekali pembuktian terhadap kecurangan itu sulit sekali. Kamu lihat juga para siswa yang menyalin jawaban sebelum UN dimulai. Lalu juga beredarnya SMS jawaban. Siapa yang menyebarkan?”
“Siapa sebenarnya yang diuntungkan dengan semua kecurangan itu?” tanya saya.
Wajah saudara saya itu seperti gemas melihat ketololan saya. “Kan Depdiknas ingin dana 20% APBN. Sebaliknya, pemerintah otomatis menuntut prestasi anak. Pemerintah tahunya secarik kertas dengan angka-angka. Biar cepat terealisasi. Kan tidak mudah anak jadi pintar begitu saja. Maka dibuatlah sistem yang saling menguntungkan. Siswa untung, dinas pendidikan ke depan untung, guru juga untung karena prestasi anak. Dapat uangnya bukan hari ini tapi ke depan. Bisa dibayangkan berapa tambahan guru jika 20% APBN untuk pendidikan terealisasi.”
Saya diam, mencoba memahami jalan pikirannya.
“Sudahlah,” katanya. “Pendidikan di Indonesia itu penuh kebohongan. Memang susah dibuktikan, tapi semuanya seperti gajah di pelupuk mata.”
Saya masih diam, membayangkan air mata di wajah Ki Hajar Dewantara.

Tribun Jabar, 05 Mei 2009

Inggit Garnasih dan Batu Pipisan


BILA mendengar kata Inggit Garnasih, ingatan kita dibawa pada peran dan sepak terjang Soekarno, presiden pertama RI. Perjuangan Soekarno memang tidak lepas dari peran Inggit Garnasih, yang ikut membentuk karakter kejuangan, nasionalisme, dan patriotisme Soekarno dalam memerdekakan Indonesia.

Dalam hal itu pula, Badan Pahlawan Daerah Jawa Barat dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Jawa Barat menggelar seminar nasional “Pengusulan Ibu Inggit Garnasih sebagai Pahlawan Nasional” pada 22 Desember 2008 di Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga, Bandung.

Garnasih lahir di Desa Kamasan, Banjaran, Kab. Bandung, 17 Februari 1888, dari pasangan Ardjipan dan Amsi. Nama itu diberikan dengan penuh makna dan harapan, kelak menjadi anak yang hegar, segar, menghidupkan, dan penuh kasih sayang.

Harapan itu jadi kenyataan. Menginjak dewasa Garnasih menjadi gadis cantik sehingga ke mana pun ia pergi selalu menjadi perhatian pemuda. Di antara mereka sering melontarkan kata-kata, “Mendapat senyuman dari Garnasih sama dengan mendapat uang seringgit.” (Pada saat itu 1 ringgit sama dengan 2,5 gulden dan nilainya tinggi.) Akhirnya, julukan inilah yang merangkai namanya menjadi Inggit Garnasih.

Pada usia 12 tahun (1900) Inggit Garnasih memasuki gerbang perkawinan pertamanya dengan Nata Atmadja, seorang patih pada Kantor Residen Belanda. Namun sayang perkawinannya tidak lama, berakhir dengan perpisahan. Continue reading “Inggit Garnasih dan Batu Pipisan”

Sejarah Band “Indie” Bandung Dalam Sekeping Album


TERLETAK di Jalan Kyai Gede Utama No. 8, dan di bagian lorong antara halaman dengan aula pertemuan, empat poster besar terpajang. Poster itu berisi judul-judul album band lokal dari Bandung beserta tulisan pendukungnya. Sayang tulisan pendukungnya tidak terbaca jelas.

Terlepas dari hal itu, pameran poster ini sebenarnya ingin menyampaikan cerita tentang perjalanan produk album band-band lokal Bandung . Rentang waktu yang ditampilkan adalah perjalanan band Bandung dari tahun 1997 sampai 2008. Dari pajangan poster itu sekilas terdapat keterangan bahwa band-band lokal Bandung selalu membuat album dalam bentuk kompilasi.

“Perkembangan komunitas bawahtanah dalam rentang dekade dari tahun 1997-2008 menyisakan karya-karya kreatif sebagai penanda eksistensi. Satu hal yang bisa kita telusuri, selain dalam bentuk dokumen tertulis, yaitu lewat album kompilasi,” tulis Ketua Proyek “Kompilasi dan Dinamika Scene Musik Indie Bandung 1997 – 2008”, Idhar Resmadi.

Album kompilasi bisa berarti dalam satu kaset atau kepingan compact disc terdiri dari dua atau lebih band. Pertama kali album kompilasi muncul di Bandung adalah berjudul “Masaindahbangetsekalipisan” yang diproduksi oleh studio 40124 milik seorang pemusik Richard Mutter. Saat tahun produksi album itu, Richard masih berpredikat penabuh drum Pas Band. Continue reading “Sejarah Band “Indie” Bandung Dalam Sekeping Album”

Revitalisasi dan Kontekstualisasi Sumpah Pemuda 1928


JIKA dulu ikrar Sumpah Pemuda ditorehkan dengan melahirkan 3 inti gagasan perekat bangsa, apa yang bisa dimaknai dari peringatannya tahun ini yang menginjak usia ke-80? Tak lain dan tak bukan, upaya refleksi atas amanat Sumpah Pemuda harus terus dilakukan seiring dengan derasnya permasalahan bangsa saat ini. Alih-alih mengandalkan sebuah hari peringatan saja, yang terpenting adalah efek dari peringatan itu dimaknai dengan melanjutkan semangatnya.

Cecep Darmawan, dosen Ilmu Politik UPI, menyebutkan bahwa pemuda hari ini harus terus melanjutkan sumpahnya sebagai refleksi Sumpah Pemuda. Disebutkannya, sumpah itu terdiri atas 6 poin.

Pertama, pemuda perlu bersumpah untuk memerangi korupsi dalam setiap penyelenggaraan negara. Kedua, pemuda harus bersumpah untuk tetap menjadi pelopor, bukan pelapor, apalagi pengekor. Ketiga, pemuda harus bersumpah untuk tetap sadar dan melek hukum dan HAM. Keempat, pemuda harus bersumpah untuk lebih mengedepankan kepentingan bangsa dan negara. Kelima, pemuda harus bersumpah untuk turut mencerdaskan bangsa, mengentaskan kemiskinan, kemelaratan, dan kebodohan. Keenam, pemuda harus bersumpah untuk mendorong pemerintah segera mengeluarkan UU Kepemudaan sebagai pedoman bagi pemuda dan organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) dalam mempertegas eksistensi dan peranannya.

Hal itu diungkapkan Cecep dalam Diskusi Publik “Gerakan Kaum Muda dan Perubahan Sosial” yang digelar oleh Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan (UKSK) UPI, di Auditorium PKM UPI, Selasa (21/10). Dikatakannya, upaya menyegarkan hakikat dan makna Sumpah Pemuda itu merupakan keniscayaan bagi kaum muda untuk mempersiapkan estafet kepemimpinan masa depan Indonesia. Ia prihatin dengan negeri ini yang berpredikat grontokrasi, yakni negeri yang dipimpin oleh orang yang sudah tua alias sepuh. “Kaum muda penting diusung sebab selain bersemangat dari segi idealisme, dari segi fisiknya pun masih fresh,” kata Cecep.

Rhadar Tri Baskoro, Ketua Forum Aktivis Bandung, menyebutkan bahwa kaum muda adalah kunci kepemimpinan bangsa saat ini. Menurut dia, sulit tetap memercayakan kepemimpinan pada kaum-kaum tua, di mana salah satu contoh kenyataan yang ada berupa monster bernama KKN tetap ada dan bahkan bertambah mengerikan. “Bukan aturannya yang diganti, tetapi orangnya yang diganti. Karena aturan itu bisa dimodifikasi, dibengkokkan, yang lurus bisa dimiringkan, yang salah bisa jadi benar,” ucap Rhadar.

Menurut Rhadar, pemuda yang dibutuhkan saat ini adalah pemuda yang penuh gereget dan berani ambil risiko untuk terus berjuang dan berpikir keras demi pembangunan masyarakat ke arah yang lebih baik. Pemuda bisa berkontribusi dalam bentuk apa saja yang dipunyai, dan membuktikan bahwa idealisme dan kerelawanan masih ada di negeri ini. Rhadar mengingatkan bahwa semua perubahan itu harus tetap melalui jalan damai yang jauh dari kekerasan. Continue reading “Revitalisasi dan Kontekstualisasi Sumpah Pemuda 1928”

Peta dan Hizbullah di Mata Tokoh Pergerakan


Ir. Soekarno

Tentara pembela tanah air itu adalah langkah pertama kepada latihan kemiliteran umum, yang menjadi idam-idaman kita. Semenjak dari dulu kita ingin menjadi satu rakyat yang dalam seluruhnya cakap mempertahankan tanah airnya. Idam-idaman kita ialah, bahwa kita semua, dan bukan hanya satu-dua golongan saja, cakap menjadi prajurit pembela bangsa. Kita semua, seluruh rakyat Indonesia, kelak kemudian hari harus menjadi satu rakyat yang cakap mempertahankan kedudukan tanah airnya dan bangsanya.

Sambutlah tentara pembela tanah air dengan rasa kelaki-lakian, sebagai satu kesempatan penghapus noda, dan sambutlah dia pula sebagai langkah pertama penggemblengan jiwanya seluruh rakyat Indonesia. Marilah kita semua, aku dan kamu seluruh rakyat Indonesia. Marilah kita semua melatih kita punya jiwa, supaya jiwa kita segera menjadi keprajuritan yang gemblengan. Hancur leburlah tiap-tiap musuh yang hendak menyerang kedudukan negara dan bangsa kita di kelak kemudian hari, kalau seluruh rakyat Indonesia berjiwa kemiliteran, berjiwa keprajuritan!

(Kutipan pidato Soekarno berjudul, “Jadilah Banteng!”, disampaikan di Lapangan Ikada 3/11/43 dalam rangka pekan tentara Peta) Continue reading “Peta dan Hizbullah di Mata Tokoh Pergerakan”