Perkembangan Teknologi Radio


TANGGAL 11 September adalah Hari Radio Indonesia. Pada tanggal dan bulan yang sama di tahun 1945, Radio Republik Indonesia (RRI) lahir. RRI merupakan stasiun radio pertama di negara kita.

Kemunculan stasiun radio AM yang mengudara di Indonesia merupakan awal masuknya teknologi siaran radio. Namun, perkembangan teknologi siaran radio (broadcast radio) di negara kita cukup lambat. Siaran radio AM (amplitude modulation) di Indonesia masih digunakan hingga tahun 1980-an. Sekitar setahun kemudian, siaran radio FM (frequency modulation) mulai mengudara sehingga para pendengar pun merasakan nyamannya kualitas audio FM yang jauh lebih baik dibanding AM.

Radio adalah transmisi sinyal tanpa kabel (wireless), melalui modulasi gelombang-gelombang elektromagnetik yang frekuensinya di bawah frekuensi cahaya tampak. Penjalaran radiasi elektromagnetik dapat melintasi udara dan ruang vakum. Penjalaran gelombang elektromagnetik ini tidak memerlukan medium pengangkut.

Informasi dibawa melalui perubahan yang sistematis pada beberapa sifat gelombang yang diradiasikan, seperti pada amplitudonya ataupun pada frekuensinya. Ketika gelombang radio melalui konduktor listrik, medan yang berosilasi menyebabkan timbulnya arus bolak-balik dalam konduktor tersebut. Hal ini mengakibatkan terdeteksinya dan tertransformasinya suara dan sinyal-sinyal lain sebagai informasi yang dibawa. Kata radio digunakan untuk menggambarkan fenomena tersebut. Lanjutkan membaca “Perkembangan Teknologi Radio”

Siaran Radio Berbasis Satelit


PERUBAHAN dalam teknologi siaran radio muncul di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1992 dengan hadirnya siaran radio berbasis satelit (satellite radio broadcast). Pada saat itu, badan pengatur telekomunikasi AS (Federal Communications Commission/FCC) mengalokasikan spektrum frekuensi S-band (sekitar 2,3 gigahertz) untuk siaran nasional berbasis satelit dengan menggunakan audio digital (Digital Audio Radio Service/DARS). Hanya empat perusahaan yang mengajukan diri untuk mendapatkan lisensi tersebut.

Pada tahun 1997, FCC memberikan lisensi penggunaan frekuensi S-band kepada dua perusahaan, yaitu CD Radio (sekarang bernama Sirius Satellite Radio) dan American Mobile Radio (sekarang bernama XM Satellite Radio), untuk transmisi satelit digital yang akan digunakan dalam siaran radio. XM Radio mulai melakukan siaran secara nasional pada 25 September 2001, lebih awal dibanding Sirius Radio. XM mulai menawarkan beragam program acara siaran dan penerimaan audio berkualitas tinggi bagi penggemar home audio dan car audio.

Siaran radio berbasis satelit memberikan sistem cakupan area siaran yang lebih luas dibandingkan dengan cakupan area sistem radio konvensional. Dengan menggunakan radio satelit, para pendengar yang sedang melakukan perjalanan dari satu ke kota lain (dalam satu cakupan wilayah negara) tidak perlu memindahkan saluran (channel) ke stasiun radio yang berbeda.

Pada dasarnya, sistem radio satelit menggunakan tiga komponen yang menjadi kunci siaran radio, yaitu satelit, pengulang (repeater) yang berbasis di bumi, dan penerima (receiver) radio. Supaya dapat menerima siaran dari satelit dengan jelas tanpa gangguan sinyal akibat kondisi (geografis) wilayah, maka dipasanglah stasiun pengulang (repeater) yang berfungsi sebagai perantara satelit dengan penerima. Keberadaan repeater akan mengurangi wilayah-wilayah blankspot. Lanjutkan membaca “Siaran Radio Berbasis Satelit”

Internetan dengan Biaya Murah


Perkembangan teknologi informatika menyebabkan internet sudah menjadi salah satu kebutuhan manusia. Namun di sisi lain, banyak masyarakat yang belum bisa menikmati akses internet karena kendala biaya ataupun geografis.

Antena wajan atau Wajanbolic bisa dijadikan salah satu solusi penyediaan internet murah tersebut. Terobosan ini juga dapat membantu mengatasai masalah geografis karena dapat menguatkan sinyal internet.

Wajanbolic merupakan terobosan dalam teknologi RT/RW-net. Dengan teknologi RT/RW-net sangat mungkin satu rumah memperoleh akses internet 24 jam dengan biaya relatif murah. Antena Wajanbolic dapat menjadi klien yang murah dalam sebuah RT/RW-net sehingga kita dapat berinternet dengan murah. Internet murah bukan berarti mencuri bandwidth dan berinternet gratis. Biaya internet menjadi murah karena beban biaya di tanggung ramai-ramai oleh kelompok masyarakat di lingkungan RT/RW.

Antena Wajanbolic e-goen awalnya dikembangkan oleh alumnus SMK Negeri 2 Depok Sleman Yogyakarta, Gunadi atau lebih dikenal dengan e-goen. Antena wajan yang kemudian dikenal sebagai Wajanbolic e-goen menjadi andalan utama bagi mereka yang ingin membangun RT/RW-net atau internet nirkabel murah di rumahnya. Lanjutkan membaca “Internetan dengan Biaya Murah”

“Rubber Chips” Sumber Energi Spektakuler


Para ahli teknik Princeton University mampu memanfaatkan film-film (lapisan tipis) karet alam jadi piranti canggih sebagai sumber tenaga telefon seluler dan berbagai perangkat elektronik lainnya. Dari bahan chips karet itu, mereka juga mengubahnya jadi chips yang mampu mengikuti gerakan-gerakan kelenturan tubuh, seperti gerakan pernapasan, berjalan, bahkan menjadi energi alat pacu jantung.

Chips karet ini diubah jadi materi yang terdiri atas keramik nanoribbons lalu ditanam ke lembaran karet silikon dan mampu menghasilkan energi listrik ketika tertekuk dan sangat efisien dalam mengonversi energi mekanik menjadi energi listrik. Bukan tidak mungkin suatu hari sepatu yang terbuat dari bahan yang paten ini mampu mengajak pemakainya berjalan dan berlari seperti kekuatan mobile. Ditempatkan dekat paru-paru, lembaran dari bahan yang mengandung energi ini dapat membantu gerakan pernapasan atau alat pacu jantung. Ini akan menghindarkan kebutuhan penggantian baterai setelah pembedahan

Sebuah kertas kerja hasil penelitian teknologi gabungan antara teknologi tinggi dan bahan alami ini telah diterbitkan secara online 26 Mei lalu dalam situs Nano Letters. Tim ahli mekanik Princeton merupakan tim pertama yang berhasil menggabungkan nanoribbons silicon dan plumbum zirconate titanate (PZT), bahan keramik, dan piezoelektrik. Campuran unsur-unsur itu ternyata menghasilkan tegangan listrik yang tinggi ketika diberi tekanan energi kepadanya.

Dari hasil penelitian intensif selama beberapa tahun, ditemukan bahwa semua bahan piezoelectric, PZT, hasilnya sangat efisien. Materi yang terbentuk dapat mengonversi 80 persen energi mekanik jadi energi listrik. “Material PZT ternyata 100 kali lebih efisien daripada kuarsa dan bahan piezoelectric yang lain,” kata Michael Mc.Alpine, seorang profesor teknik mekanis dan aerospace di Princeton yang memimpin pengembangan projek tersebut. Lanjutkan membaca ““Rubber Chips” Sumber Energi Spektakuler”

Penggabungan Dunia Nyata dan Maya


Teknologi Augmented Reality

Saat sedang menikmati suasana sore hari dengan melakukan aktivitas jalan-jalan ke suatu tempat, sering kali kita tidak tahu nama tempat atau tempat makan yang cocok untuk sekadar kumpul bersama teman-teman. Memang, kita bisa bertanya kepada seseorang, mencari di internet, atau menggunakan Google Maps, tetapi itu kurang asyik. Bagi pemilik gadget seperti iPhone mungkin bisa memanfaatkan aplikasi canggih semacam Layar Stream. Layar Stream adalah sebuah aplikasi khusus untuk peranti bergerak berbasis teknologi Augmented Reality (mengombinasikan antara informasi dari komputer ke dalam kehidupan sesungguhnya).

Sederhananya, jika Anda sedang berada di suatu daerah dan ingin tahu lebih banyak tentang daerah tersebut, tinggal nyalakan aplikasi Layar Stream, fungsikan kamera pada handphone, GPS, dan koneksi internet. Kemudian, Anda bisa mulai mengambil gambar yang ada seperti mau mengambil gambar video (kecuali fungsi rekam tidak ditekan). Pada saat Anda melihat gambar di kamera, secara otomatis aplikasi Layar Stream akan menampilkan informasi sesuai dengan area yang sedang dilihat di kamera. Keren kan? Informasi ini bisa bermacam-macam, mulai dari restoran, tempat wisata, atau informasi penting lainnya. Semuanya ini dilakukan secara real time.

Augmented Reality

Augmented Reality (AR) atau Realitas Tertambah merupakan suatu lingkungan yang mampu menggabungkan objek nyata dan maya (virtual) menjadi satu dalam waktu yang nyata (real time). Teknologi ini merupakan variasi dari Virtual Environment (VE) yang secara menyeluruh membenamkan (immerse) pengguna dalam satu lingkungan sintetik. Menurut Ronald T. Azuma, peneliti AR, AR sejatinya merupakan variasi lain dari realitas virtual (Virtual Reality). Teknologi realitas virtual membenamkan pengguna secara total pada lingkungan sintetis. Ketika masuk dalam dunia buatan itu, kita tidak dapat mengenali lingkungan nyata di sekitarnya. Lanjutkan membaca “Penggabungan Dunia Nyata dan Maya”

Antibodi Plastik Netralkan Toksin


Untuk pertama kalinya, para peneliti menunjukkan bahwa molekul nonbiologikal yang disebut sebagai antibodi plastik dapat bekerja seperti antibodi alami. Dalam uji coba terhadap hewan, partikel plastik mengikat dan menetralikan toksin yang ditemukan di sengat lebah. Toksin dan antibodi kemudian dibersihkan ke liver, jalur yang sama yang dilalui oleh antibodi alami.

Para peneliti kini mengembangkan antibodi plastik untuk berbagai sasaran dalam lingkup penyakit yang lebih luas dengan harapan memperluas ketersediaan terapi antibodi, yang saat ini sangat mahal. Antibodi plastik tersebut bisa dibuat dengan biaya murah dan kemudian diletakkan di rak, secara teori bisa bertahan bertahun-tahun.

Pada 2008, kelompok Shea`s, bekerja sama dengan para peneliti dari Institut Teknologi Tokyo, menunjukkan untuk pertama kalinya antibodi plastik yang dibuat menggunakan teknik imprinting molekular dapat mengikat target dengan kuat dan secara khusus sebagaimana antibodi alami. Molekul pencetakan melibatkan sintesis polimer di hadapan molekul target. Polimer tumbuh di sekitar sasaran, “imprinting” dengan bentuk target. “Ini sama dengan membuat gips pada tangan seseorang,” kata Shea. (AFP/SRI)***

PR – Kamis, 08 Juli 2010

Sulitnya Mengendalikan Roket


Ingar-bingarnya mungkin masih tak semegah Kontes Robot Indonesia (KRI) yang berlangsung di Malang 19–20 Juni 2010 . Namun, semangat kompetisi dan adu gengsi di Kompetisi Roket Indonesia (Korindo) 2010 tidak kalah seru. Empat puluh tim dari 39 perguruan tinggi se-Indonesia berlomba mengasah pengetahuan yang mereka dapat di kampus untuk diaplikasikan bersama teknologi roket buatan Lembaga Penerbagangan dan Antariksa Nasional (Lapan) di Yogyakarta 26-28 Juni 2010.

Seperti dalam dua penyelenggaraan di tahun-tahun sebelumnya, dalam Korindo 2010 peserta bukan berlomba membuat roket, tetapi membuat muatan (payload) yang akan diluncurkan bersama roket uji muatan (RUM70-100)-LPN. Payload tersebut berupa tabung silinder berisi rangkaian elektronik dan sistem akuator yang berfungsi sebagai perangkat telemetri untuk meteorologi dengan menggunakan tiga macam sensor yaitu untuk temperatur, tekanan, dan kelembapan.

Sedikit perbedaan dalam kompetisi tahun ini, payload yang dilombakan mengambil tema “Homing Meteo Payload”. Payload tersebut harus mampu kembali menuju sasaran yang telah ditentukan setelah terpisah dari roket peluncur yang berbahan bakar propelan padat dan dapat mencapai tinggi terbang 2 km. Untuk mengendalikannya sampai sasaran, peserta harus melengkapi payload dengan pemandu arah terbang yang menggunakan kompas dan bersifat otonomous sekaligus bisa berkomunikasi dengan sistem kendali operator di segmen darat (ground segment). Lanjutkan membaca “Sulitnya Mengendalikan Roket”