Sometimes She’s Bold — Laura Macky Photography


Woah…I posted this at first without text…inadvertently. I’m having some WP issues today! I did want to say that this image was taken from Fort Baker on the northern side of the Golden Gate Bridge. The light was awful if you can believe it. The bridge was almost silhouetted! Just goes to show what […]

melalui Sometimes She’s Bold — Laura Macky Photography

Taman Prasasti Kenangan Memikat


Taman Prasasti Kenangan Memikat
FLICKR.COM

Seperti Anda Sekarang
Begitu juga saya sebelumnya
Seperti saya sekarang
Begitu juga nanti dengan Anda
Wisata selayaknya menyenangkan. Tetapi, bagaimana dengan kunjungan ke tempat- tempat yang atmosfernya membuat bulu kuduk berdiri? Mari langkahkan kaki ke Museum Taman Prasasti! Bermodal Rp 2.000 per orang, pengunjung dapat keluar dari kelaziman berwisata. Anggarkan juga Rp 20 ribu kalau ingin menyewa jasa pemandu. Namun, jika berwisata ke bekas areal pemakaman prestisius era Kompeni ini membuat nyali ciut, ingat saja kata-kata sarat makna yang jadi pembuka tulisan ini.Kata-kata mutiara itu diukir menjadi prasasti pada 4 Desember 1762, menyapa pengunjung makam tua ini. Tulisan prasasti berbahasa Belanda itu masih utuh di punggung dinding bangunan depan Museum Taman Prasasti. Museum yang diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 9 Juli 1977 itu tengah bersolek. Direnovasi.Taman Prasasti dulunya adalah Kebon Jahe Kober (Kerkhof Laan). Areal pemakaman itu dibuat pemerintah kolonial pada 1795 menyusul adanya wabah penyakit yang menewaskan banyak orang. ‘Isi’-nya, dulu ada yang pindahan dari makam lain, setelah Daendels melarang pemakaman di lokasi gereja. Apa sebetulnya yang dapat dinikmati dari batubatu nisan peninggalan masa silam itu? ”Karena berlatar belakang pendidikan Sastra Belanda, saya cukup mengerti sejarah prasastinya,” ujar Rizky, salah seorang pengunjung Taman Prasasti. Kamis (19/6), ia datang sendirian ke museum di Jl Tanah Abang 1, Jakarta Pusat, itu untuk hunting objek foto.Di Taman Prasasti, seluruh koleksinya berkaitan dengan pernik keperluan penguburan. Tapi, tidak semua ‘penghuni’ Kebon Jahe Kober meninggal secara wajar. Salah satu objek foto Rizky termasuk di antaranya. Foto prasasti itu juga bertebaran di berbagai blog di internet. Prasasti perempuan bertelungkup sedang menangis itu dibuat untuk mengenang kepedihan seorang istri yang ditinggal mati suaminya. Perempuan Belanda itu memilih bunuh diri menyusul kepergian suaminya yang meninggal akibat sergapan malaria. Pernikahan mereka baru seumur jagung ketika maut memisahkan. ”Tidak ada nisan yang menjelaskan jati diri perempuan ini,” jelas Yudi, pemandu wisata.Wanita tersebut dimakamkan di Kebon Jahe Kober setelah melewati perjalanan panjang. Jasadnya harus melewati Sungai Krukut terlebih dulu dan diarak sekitar 500 meter dengan kereta kuda menuju peristirahatan terakhirnya. Kereta jenazah zaman Belanda itu salah satunya dapat dilihat di Taman Prasasti juga. Ada juga monumen yang dibuat khusus agar pemberontak mengurungkan niatnya membangkang pada pemerintahan Hindia Belanda. Monumennya berupa prasasti yang puncaknya dilengkapi dengan tengkorak yang ditusuk tombak besi. Yang ini memang cuma replika. Tetapi, kisahnya betul-betul terjadi. Kisah naas itu dialami Pieter Erderveld. Prasasti aslinya ada di pelataran belakang Museum Fatahillah.Erderveld adalah pemuda berdarah Jerman-Thailand. Ia kala itu berencana memberontak di malam tahun baru, saat warga Belanda berpesta pora dan penjagaan tidak begitu ketat. Namun, idenya terendus Belandda. Akibatnya, ia mendapat hukuman ditarik tubuhnya oleh dua ekor kuda yang berlarian ke arah yang berbeda. Setelah tewas, tengkorak Erderveld dipancang sebagai simbol untuk menakutnakuti pemberontak. Kabarnya, Erderveld difitnah dan harus mati hanya untuk diambil tanah miliknya.Untuk sedikit mengusir aroma seram, tengoklah nisan orang yang bersimpati pada Indonesia. Sebut saja Dr HF Roll, pendiri STOVIA ––cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ada juga nisan Olivia Marianne Raffles ––istri Thomas Stamford Raffles. Ada pula nisan dari Dr Willem Frederik Stutterheim. Ia adalah ahli purbakala. Apa karena profesinya itu, lantas nisannya diberi ornamen berupa relief ragam hias Hindu- Jawa, bukannya ragam Eropa klasik ataupun neogothic seperti nisan lainnya?Pun ada nisan berupa lingga dengan ukiran antefiks, mirip ukiran di candicandi Buddha. Itulah nisan Dr JL Andries Brandes, arkeolog yang menguasai sastra Jawa Kuno. Semasa hidupnya, ia membahas banyak naskah kuno, seperti Kitab Pararaton.Ada pula nisan beberapa gubernur jenderal, yaitu Jeremias van Riemsdjik, Willem Alting, dan Pieter Gerardus van Overstraten. Nisan mertua Kapten Tack juga ada di sini, yaitu Pieter Janse van Hoorn. Kapten Tack, komandan VOC yang terbunuh di Surakarta saat menumpas pemberontakan Untung Suropati. Pieter Janse itu juga ayah dari gubernur jenderal yang mendirikan Stadhuis (Museum Sejarah sekarang), Joan Van Hoorn. Nisan gubernur Malaka juga ada, yaitu Geertruijt Broeckmans dan nisan suaminya, Balthasar Bort.Lalu, ada Miss Riboet, pentolan grup teater Riboet Orion, yang sekarang dikenal dengan teater Miss Tjitjih. Aktris kondang itu pernah berbaring di Kebon Jahe Kober. Jasadnya kemudian dipindahkan serentak dengan ‘penghuni’ lahan seluas 5,5 hektare itu ke pemakaman lain sepanjang tahun 1975-1977. Sebagian dari mereka dibawa pulang ke negaranya, dipindahkan ke pemakaman keluarga. ”Mayoritas dipindahkan ke Tempat Pemakamam Umum (TPU) Menteng Pulo,” jelas Yudi.Setelah pemindahan itu, nisan, tugu, monumen, patung, lempeng batu persegi, replika, dan miniatur yang berasal dari kuburan itu tak ikut dipindahkan. Malah ditata ulang menjadi koleksi Museum Prasasti. Ada 1.734 prasasti yang tersebar di lahan yang luasnya telah menciut menjadi 1,3 hektare ini. Areal selebihnya kini menjadi bagian dari kantor Wali Kota Jakarta Pusat dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).”Jika ada yang berkomentar Taman Prasasti kurang terawat, mereka mungkin belum terbiasa dengan museum lapangan terbuka yang tak semuanya tertutup rumput,” kilah Yudi. Sesungguhnya, ini bukan tempat seram. Suasananya kurang-lebih sama dengan Taman Makam Pahlawan, entah di Kalibata (Jakarta), Jambi, atau daerah lain. Taman ini dilengkapi aula, yang menyimpan peti jenazah Bung Karno dan peti jenazah Bung Hatta.Nuansa di Taman Prasasti ini mengundang para penggemar fotografi dan pasangan yang akan melakukan foto pranikah untuk mengabadikan momen di sini. Begitu juga pekerja film dan artis penyanyi, senang merekam adegan video klipnya di tempat bersejarah ini. ”Kalau menemukan sudut dan pencahayaan yang tepat, niscaya akan didapatkan hasil jepretan atau rekaman bernuansa Eropa,” kata Yudi, berpromosi.Museum yang terletak di sebelah kantor Wali Kota Jakarta Pusat ini juga berkali- kali menerima kunjungan di malam hari. Malam hari? Ya, Anda tak salah baca. Peminatnya lebih dari hitungan jemari. Biasanya, kegiatan kunjungan malam hari dilakukan secara terorganisasi oleh kelompok pecinta museum. Mereka mengadakan talkshow, menggelar pementasan musik, dan berkeliling taman di saat bulan bersinar temaram.

Republika, 07 Juli 2009

Bandung Berpotensi Jadi Kubangan Polutan


Topografi Bandung sangat khas karena membentuk cekungan yang konon merupakan sisa danau purbakala. Namun, siapa sangka kondisi itu menyebabkan Bandung berpotensi sebagai “kubangan polutan.* M. GELORA SAPTA/”PR”

Bandung dikenal sebagai daerah yang nyaman dan sejuk karena dikelilingi pegunungan. Tidak hanya itu, bentuk topografi Bandung pun sangat khas karena membentuk cekungan yang konon merupakan sisa danau purbakala. Namun, siapa sangka kondisi itulah yang menyebabkan Bandung berpotensi sebagai “kubangan polutan”.

Lanjutkan membaca “Bandung Berpotensi Jadi Kubangan Polutan”

Bila Laptop Kena Tumpahan Cairan


foto berita artikel

Air, kopi, susu, dan minuman bersoda adalah “musuh” yang sangat berbahaya bagi laptop. Cairan-cairan itu mengandung asam yang dapat membuat komponen laptop mengalami korosi. Sedikit saja cairan-cairan itu tumpah di keyboard laptop Anda, bencana dapat terjadi. Laptop-laptop low end keluaran terbaru semakin rentan terhadap cairan karena menggunakan lapisan karet tipis di bawah tombol keyboard sebagai pegas. Di bawah masing-masing huruf terdapat semacam kubah mini berisi lapisan kontak. Model ini jauh lebih mudah rusak jika tertumpahi cairan karena air akan menggenangi kubah-kubah mini tersebut dan membuat lapisan kontak tak berfungsi.

Nah, apa yang mesti Anda perbuat jika cairan terlanjur tumpah ke laptop Anda? Langkah-langkah emergency berikut ini mudah-mudahan bisa menyelamatkan laptop kesayangan Anda.

  1. Jika laptop Anda terhubung ke listrik PLN, segera cabut colokan listrik yang tertancap di stop kontak. Anda bisa juga memutus aliran listrik melalui sekering atau meteran listrik di rumah Anda. Jika laptop Anda sedang bekerja dengan baterai, dan tidak menunjukkan gejala aneh (misalnya kilatan cahaya, suara aneh, atau bau komponen yang terbakar), segera matikan laptop Anda melalui prosedur biasa). Tetapi jika muncul salah satu gejala tersebut, segera matikan laptop Anda dengan menekan tombol OFF atau mencabut baterai. Beberapa laptop bisa dimatikan dengan menekan tombol ON/OFF selama beberapa saat.
  2. Netralkan muatan listrik di tubuh Anda dengan gelang anti static atau menginjakkan kaki di tanah tanpa alas kaki. Lanjutkan membaca “Bila Laptop Kena Tumpahan Cairan”

Kronologi Kecelakaan Sophan Sophiaan


KOMPAS/ANTONY LEE
Sophan Sophiaan

Sophan Sophian Dalam Kenangan (01)/Seleb TV
Sabtu, 17 Mei 2008 | 15:27 WIB

JAKARTA, SABTU – Politisi sekaligus aktor kawakan Sophan Sophiaan telah pergi untuk selama-lamanya. Sophan Sophiaan yang menjadi ketua event Jalur Merah Putih (JMP) 2008 yang diikuti 273 Harley Davidson mengembuskan napas terakhir akibat terjatuh dari Harley yang ditungganginya di kawasan hutan Widodaren di perbatasan Ngawi, Jawa Timur, dan Sragen, Jawa Tengah.

Road show motor gede (moge) keliling Pulau Jawa yang digagas Sophan dan teman-temannya berangkat dari Jakarta, 12 Mei lalu. Rutenya dimulai dari Jakarta, Rengasdengklok, Cirebon, Pekalongan, Semarang, Rembang, Tuban Surabaya, Kediri, Karanganyar, Solo, Yogyakarta, Purwokerto, Bandung, dan Bogor. Rombongan akan tiba di Jakarta pada 20 Mei, tepat saat bangsa ini merayakan 100 tahun hari Kebangkitan Nasional.

Rute Jakarta-Surabaya melalui jalur pantai utara Jawa sukses dilampaui. Dari Surabaya, touring JMP 2008 akan melewati jalur selatan. Jumat sore, peserta JMP 2008 tiba di Kediri dan menginap semalam di kota yang terkenal dengan gethuk pisangnya tersebut. Lanjutkan membaca “Kronologi Kecelakaan Sophan Sophiaan”

Tumbal Bangsa Maya Anak Laki-laki, Bukan Perawan


Three Lions/Getty Images
Piramid Kukulkan peninggalan peradaban Bangsa Maya.

Rabu, 23 Januari 2008 | 16:40 WIB

MEXICO CITY, RABU – Tumbal dalam ritual Bangsa Maya Kuno di Benua Amerika mungkin anak laki-laki, bukan gadis perawan seperti diyakini selama ini. Sebagian besar tulang-belulang yang ditemukan di bekas lokasi pengorbanan lebih mirip dengan struktur tulang laki-laki daripada perempuan.

Bangsa Maya pernah mencapai masa kejayaan dengan mendiami wilayah yang membentang dari Amerika Tengah hingga selatan Meksiko. Namun, kejayaan Maya hancur sejak penaklukkan Spanyol tahun 1500-an. Meski demikian, sisa-sisa perabannya yang telah maju masih dapat dilihat dari piramid-piramid yang dibangun di dalam lebatnya hutan.

Namun, Bangsa Maya juga terkenal dengan budaya ritualnya yang kejam. Mereka secara rutin mengorbankan anak-anak untuk memohon hujan dan kesuburan.

“Selama ini diyakini bahwa Dewa menyukai sesuatu yang kecil-kecil dan khususnya Dewa Hujan (Chaac) memiliki empat pembantu yang digambarkan dengan sosok empat orang berukuran kerdil,” ujar Guillermo de Anda, seorang arkeolog dari Universitas Yucatan, Meksiko seperti dikutip Reuters, Rabu (23/1). Jadi, anak-anak dijadikan tumbal untuk berkomunikasi langsung dengan dewa. Lanjutkan membaca “Tumbal Bangsa Maya Anak Laki-laki, Bukan Perawan”