Jika Burung tidak Hidup di Habitatnya


KICAUAN serta keindahan bentuk dan warnanya menjadi daya tarik utama seekor burung. Hal itu sering kali membuat banyak orang terpukau dan ingin memilikinya sebagai hewan peliharaan.

Besarnya permintaan pasar pada akhirnya menjadi faktor utama yang mendorong manusia untuk terus berburu dan mengeksploitasi keberadaan unggas tersebut dari habitatnya. Tidak jarang, pada akhirnya burung-burung tersebut menjadi barang perdagangan antarpulau, bahkan antarnegara.

Sejauh pemantauan “PR”, Jalak Tunggir Merah banyak diperdagangkan di beberapa pasar burung yang ada di Kota Bandung. Di Pasar Burung Sukahaji misalnya, terdapat lebih dari lima puluh burung Jalak Tunggir Merah yang dijual dengan harga sekitar Rp 150.000 per ekor. Tidak menutup kemungkinan pula burung tersebut dapat terlepas dari sangkarnya.

Perdagangan burung antarpulau merupakan salah satu asumsi penyebab adanya burung Jalak Tunggir Merah di sekitar Panaruban. Asumsi lain mengatakan bahwa burung tersebut secara sengaja dilepaskan sebagai syarat ritual keagamaan yang kerap dilakukan umat Buddha di kawasan wisata Gunung Tangkubanparahu. Mereka biasa melakukan pelepasan burung dan binatang lainnya dengan keyakinan hal tersebut akan mendatangkan karma baik. Lanjutkan membaca “Jika Burung tidak Hidup di Habitatnya”

Harapan Baru Mengatasi Perubahan Iklim


Jeffrey D. Sachs
Senin, 21 Januari 2008 | 16:38 WIB

Dunia telah mengambil langkah penting guna mengendalikan perubahan iklim dengan Program Aksi Bali yang disepakati pada konferensi global yang dilangsungkan di Indonesia pada Desember 2007. Program ini mungkin kelihatannya biasa-biasa saja, karena pada dasarnya ia cuma bertumpu pada bahasan lebih lanjut, bukan pada tindakan yang pasti, tapi saya tetap optimistis karena tiga alasan.
Pertama, dunia sudah cukup bersatu sehingga berhasil memaksa Amerika Serikat mengakhiri kekerasan hatinya. Kedua, peta dunia ini menandai keseimbangan pertimbangan yang sehat. Dan ketiga, solusi yang realistis mungkin bisa diperoleh, solusi yang memungkinkan pembangunan ekonomi digabungkan dengan pengendalian emisi gas rumah kaca.

Langkah pertama yang diambil di Bali adalah mendobrak kebuntuan yang melumpuhkan respons global terhadap perubahan iklim sejak Protokol Kyoto sepuluh tahun yang lalu. Kali ini dunia bersatu, bahkan memperolok ketua delegasi Amerika sehingga mengubah pendiriannya dan sepakat menandatangani Program Aksi Bali. Begitu juga keengganan negara-negara berkembang utama, seperti Cina dan India, ikut serta dalam program tampaknya akan berakhir, walaupun banyak yang masih harus dikerjakan dalam merancang suatu kesepakatan global yang disetujui baik oleh negara-negara kaya maupun negara-negara miskin.

Untuk itu, perlu keseimbangan antara berbagai keprihatinan yang ada. Pertama, kita harus menstabilkan gas rumah kaca guna menghindari bahaya campur tangan manusia dalam sistem iklim–tujuan utama Konvensi Kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim, yang merupakan traktat global yang menjadi dasar negosiasi di Bali. Kedua, kita harus mencapai semua ini seraya membuka ruang bagi percepatan pembangunan ekonomi dan pengentasan masyarakat miskin. Negara-negara miskin tidak akan menerima suatu sistem kontrol iklim yang melanggengkan kehidupan mereka dalam kemiskinan. Ketiga, kita harus membantu semua negara beradaptasi dengan perubahan iklim yang sudah terjadi dan yang akan makin parah di masa depan. Lanjutkan membaca “Harapan Baru Mengatasi Perubahan Iklim”

Menyehatkan Ruang Ber-AC


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bdg- utkampus.net


Dalam masyarakat modern sekarang ini, kita makin banyak yang mengatasi kegerahan ruangan dengan memasang pesawat AC. Sebagai orang kota yang gerah, kita makin berubah menjadi manusia berbudaya AC.

awas tsunami...

Seharian kita bekerja dalam ruangan ber-AC, lalu pulang naik mobil yang mutlak pakai AC. Beristirahat dan tidur di rumah, rusun, apartemen, dan kondominium juga mutlak lagi menghirup udara AC.

Udara kalengan ini memang nyaman, tetapi kadang-kadang menyakitkan (membuat sakit). Bentuknya bermacam-macam, mulai dari kaku otot, meriang kedinginan, sampai bersin-bersin karena alergi debu halus yang melayang-layang tidak kasat mata.

Orang yang alergi terhadap debu halus dan bau-bauan tertentu seringkali bersin kalau memasuki ruangan ber-AC yang kurang bersih, seperti misalnya kotor karena debu yang tersangkut di karpet dan jarang disedot. Tapi begitu ia keluar dari ruangan, bersinnya sembuh. Ia mengalami sick building syndrome. Lanjutkan membaca “Menyehatkan Ruang Ber-AC”

Penyedot Debu Belum Tentu Aman


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bdg- utkampus.net


 
Jangan abaikan debu di sekitar kita. Kendati ruangan atau mobil ber-AC, debu tetap ada, dan tetap berbahaya. Penggunaan penyedot debu memang bisa mengurangi, tetapi tidak menghilangkan sama sekali. Alat itu tak bisa bekerja terus-menerus, dan membersihkannya pun tidak total.

Walau penyedot debu konvensional ada yang mengklaim bisa membersihkan hingga 99,97% partikel kotor, batas kemampuan penyedotan biasanya hanya sampai benda ukuran 0,3 mikron. Artinya, alat ini tak sanggup menyedot serbuk sari dan spora jamur yang berukuran lebih kecil daripada itu. Ketombe hewan, alergen kutu debu, bakteri dan virus, endapan asap rokok, serta serpihan serat kaca ukuran mini juga tak bisa terisap.
Ada pula alat yang cara kerjanya meredam debu dengan medan elektrostatik. Meski kemampuan penyedotannya lebih rendah, rata-rata 50%, alat jenis ini berdampak positif bagi tubuh manusia karena membangkitkan ion negatif.
Lanjutkan membaca “Penyedot Debu Belum Tentu Aman”

MERENDA BIRUNYA LANGIT KOTA


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 jl. terusan halimun 37 bdg utkampus.net

Asap knalpot kendaraan bermotor dari berbagai merek dan tahun produksi di Jakarta ternyata mengumbar polutan berbahaya, macam karbon monooksida (CO) dan hidrokarbon (HC). Kontribusinya tak tanggung-tanggung, 67%! Maka Badan Lingkungan Hidup Dunia (UNEP) pun tak ragu menempatkan Jakarta sebagai kota terpolusi nomor tiga di planet ini setelah Meksiko dan Bangkok.

Anda tidak sendirian andaikata tidak tahu menahu adanya pencanangan Program Langit Biru (PLB). Hasil survai Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bersama Swisscontact memberikan gambaran hal itu. Sejumlah 42,8% dari responden (600 orang) tidak pernah mendengar adanya program tersebut. Padahal PLB sudah diluncurkan sejak 1996.
Sayang sekali, sebab suksesnya program itu sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat, terutama para pemilik kendaraan bermotor serta kalangan otomotif dan industri.Awas, HC dan CO!
timbangantimbanganMemburuknya kualitas udara akibat pencemaran di langit Nusantara, khususnya Jakarta serta kota-kota besar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, mendorong Kementerian Negara Lingkungan Hidup mencanangkan PLB pada 6 Agustus 1996 di Semarang sebagai langkah strategis Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal). Fokus pengendalian pencemaran udara adalah industri dan kendaraan bermotor. Kontribusi kedua sumber itu terhadap pencemaran udara memang sangat besar.
Pada kendaraan bermotor bahan bakar merupakan salah satu faktor penyebab pencemaran tersebut. Komponen utama bahan bakar fosil ini adalah hidrogen (H) dan karbon (C). Pembakarannya akan menghasikan senyawa HC, CO, karbon dioksida (CO2), serta NOx pada kendaraan berbahan bakar bensin. Sedangkan pada kendaraan berbahan bakar solar, gas buangnya mengandung sedikit HC dan CO tetapi lebih banyak SO-nya. Dari senyawa-senyawa itu, HC dan CO paling berbahaya bagi kesehatan manusia.
Penyebab tingginya HC antara lain pengapian tidak tepat, kompresi lemah, maupun kabel busi yang sudah aus. HC terbentuk selama proses pembakaran tidak sempurna sehingga bensin tidak terbakar habis. Sedangkan kadar CO akan bertambah tinggi jika dalam proses pengapian, komposisi bahan bakar lebih banyak ketimbang udara (O2) yang diperlukan untuk mengubah CO menjadi CO2. Akibatnya, CO yang terbuang meningkat. Selain itu karburator atau injector, saringan udara atau bensin yang kotor, serta kualitas bensin yang rendah juga bisa jadi penyebab meningkatnya CO. Lanjutkan membaca “MERENDA BIRUNYA LANGIT KOTA”

BERSIH LINGKUNGAN ANTITIKUS



Tikus ada di mana-mana, kalau lingkungan rumah kita tidak beres. Kebanyakan rumah di masyarakat kita memang cukup ideal bagi tikus untuk menetap, berpacaran, dan beranak pinak. Kalau kita mengeluh tentang gangguan tikus, hampir selalu pasti kita diberi nasihat klise: Berantaslah tikus sampai tumpas!

Bisakah kita menumpas tikus yang sudah beranak-pinak di rumah kita? Kalau yang diartikan sebagai pembasmian itu menumpas semua tikus yang ada, menurut pengalaman, itu mustahil! Apalagi kalau rumah itu memang ideal bagi tikus. Yang dapat dilakukan ialah mengendalikan jumlahnya sampai tingkat populasi tertentu yang tidak mengganggu.

Pengendalian ini sebaiknya dilakukan secara terpadu, antara pengendalian secara biologis (dengan kucing), kimia (dengan racun kimia), fisik (perangkap dan lem tikus), dan sanitasi lingkungan (penjagaan kebersihan) rumah. Lanjutkan membaca “BERSIH LINGKUNGAN ANTITIKUS”

Atap Hijau di Belantara Kota


Minggu, 06-01-2008 | 04:00:00-tribunkaltim.co.id

MEMPEROLEH lahan terbuka hijau di kawasan kota yang telanjur padat, bukanlah soal mudah. DKI Jakarta, misalnya, dengan lahan seluas 66.126 hektare dan ruang hijau 9 persen atau 5.951 hektar, perlu membebaskan sekitar 13.000 hektar lahan bila ingin memenuhi patokan lazim 30 persen lahan terbuka hijau.

JEPANG juga menghadapi persoalan sama. Sejak abad ke-17, sifat land hungry (lapar lahan) dalam praktik mengonsumsi lahan perkotaan telah menyebabkan tampilan kota di Jepang tak jauh berbeda dari kota besar Asia lainnya. Karena lahan perkotaan telah telanjur disesaki bangunan, maka sasaran perolehan sel-sel hijau daun beralih pada hamparan atap datar gedung-gedung yang justru lebih banyak dibanjiri cahaya matahari. Lanjutkan membaca “Atap Hijau di Belantara Kota”